Kakanwil Kemenag Malut Semangati CJH Kepuluan Sula Tahun 2020 yang Gagal Berangkat

oleh -11 views
Link Banner

Porostimur.com | Sanana: Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, didampingi Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah, H. Ridwan Kharie, menyapa sekaligus memberi pengarahan Calon Jamaah Haji, pada kegiatan Bimbingan Manasik Sepanjang Tahun, “Manasik Mandiri” yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sula, pada hari Selasa (06/10/20) di Aula Kankemenag Kep. Sula, Sanana.

Perlu diketahui dalam upaya penguatan kapasitas pengetahuan manasik haji bagi jamaah calon haji, Jajaran Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara melaksanakan bimbingan manasik sepanjang tahun, yang dikenal dengan istilah ”manasik mandiri” yang berlangsung diseluruh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kota se-Provinsi Maluku Utara.

Memulai arahan Kakanwil menyapa peserta manasik dengan mengungkapakan perasaan senangnya bisa bertemu dengan jamaah haji Kepulauan Sula, ibaratnya seperti baru pulang haji, karena masih orang yang sama dimusim haji yang berbeda. Rasa-rasanya ada yang jadi joguru dimusim haji tahun ini 1442 H, tapi apa bisa dibilang virus corona atau covid-19, telah membatalkan penyelenggaraan ibadah haji musim 1414 H/2020 M, mari kita bacarita manasik dengan judul Virus Corona, Mununda Ibadah Hajiku, ucap Kakanwil.

Kemudian Kakanwil memberi penjelasan tentang pengertian umum Ibadah haji, yaitu mengunjungi Kabah Baitullah, untuk beribadah kepada Allah dengan mengerjakan ritual ibadah yang dimulai ikhram di Makkah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, serta thawaf, sai dan tahalul di Masjidil Haram. Namun mengunjungi kabah baitullah, serta mengerjakan ibadah ritual tersebut saja tidak cukup disebut haji, jika dikerjakan tidak pada musim haji atau waktu yang ditentukan berhaji yakni di bulan Zulhijjah mulai tanggal 8 s/d 15.

Link Banner

Ibadah haji adalah ibadah tahunan, sekali dalam setahun, waktu dan tempat pelaksanaan ditentukan, di kota Makkah dan sekitanya (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Ibadah haji, tidak dikerjakan di tanah air tempat bermukim, berbeda dengan ibadah-ibadah lain, shalat, puasa dan zakat, dikerjakan dimana dan kapan saja. Penyelengaraan ibadah haji berlangsung dinegara Arab Saudi.

Baca Juga  Italia Vs Belanda, Van Dijk Sanjung Performa Tim Oranye

Sebagai tempat penyelenggraan Ibadah Haji tentunya memiliki otoritas kuat, apakah ibadah haji dilaksanakan atau tidak adalah Pemerintah Arab Saudi, meskipun negara-negara asal jamaah haji tentu tidak dapat diabaikan peranan dalam penyelenggaraan ibadah haji, tiap tahun mengirim umat Islam menunaikan ibadah haji.

Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan melalui Keputusan Menteri Agama RI, nomor 494 tahun 2020, tentang pembatalan penyelenggaraan ibadah haji musim haji tahun 1441 H/2020 M, baik ibadah haji reguler maupun ibadah haji khusus. Keputusan pemerintah ini atas pertimbangan penularan virus korona atau covid-19 masih berlangsung saat ini hingga belum dipastikan kapan berakhir.

Negara memiliki kewajiban melindungi rakyatnya atas keselamatan jiwa, kesehatan, keamanan, kenyamanan dalam menunaikan ibadah haji. Keputusan pemerintah semata-mata kepentingan jamaah haji dalam menunaikan ibadah haji, karena itu sebanyak 221,000 jamah haji yang terdiri dari jamaah haji reguler 203,320 dan jamaah haji khusus 17,680 tahun ini terpaksa harus menunda menyahut panggilan atau undangan Allah SWT, menjadi tamu Allah, termasuk jamaah calon haji asal Maluku Utara sebanyak 1,076 orang, khusus jamaah asal Sula, juga bernasib sama.

Virus Corona atau Covid-19, secara langsung memperngaruhi umat Islam sedunia dalam mengurungkan niatnya melihat kabah baitullah secara dekat dengan kasat mata, selayaknya jamaah haji pada tahun-tahun sebelumnya. Umat Islam senusantara, khususnya mereka yang terdaftar sebagai jamaah calon haji 1441 H H/2020 M., penantian yang panjang untuk dapat menunaikan ibadah haji, menyahut panggilan suci Allah SWT.

Kakanwil juga menjelaskan waktu antrian yang panjang bagi setiap jamaah calon haji, dengan masa tunggu rata-rata di atas 10 s/d 20 tahun, termasuk provinsi Maluku Utara, kisaran 9 s/d 15 tahun, diseluruh kabupaten/kota. Animo umat Islam untuk menunaikan ibadah haji begitu tinggi, baik pada penyelenggaraan haji reguler maupun haji khusus, sedangkan kuota yang diberikan Pemerintah Arab Saudi sangat terbatas, tahun ini kuota nasional 221,000, dibandingkan tahun lalu (musim haji 1440 H/2020 M sebanyak 231,000 kouta.

Baca Juga  3 paslon berpeluang duel dalam Pilgub Maluku

Beragam macam cara yang dilakukan jamaah calon haji menanggapi pembatalan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini 1441 H/2020 M. Kakanwil mengatakan bahwa keputusan pemerintah adalah bagian dari kehendak Allah SWT, sebab ibadah haji adalah panggilan Allah. Ada yang sedih dan menghawatirkan antrian tahun depan dengan relatif usia mereka yang relatif berusia lanjut. Bahkan ada yang masih berharap virus korona atau covid-19 segera berakhir agar penyelenggaraan ibadah haji dapat dilaksanakan. Ada yang seperti tidak berharap lagi, bisa menyahut panggilan suci Allah tahun depan mengingat kondisi usia dan kesehatan mereka.

Rasa cemas, harapan, pasrah dan doa yang diekspresikan dalam bahasa lisan dan tubuh, sepertinya tidak berlebihan, sebab masa menunggu mereka jamaah calon haji relatif lama, dengan suka duka menyiapkan bekal, biaya dan segala hal-ikhwal yang melingkup ibadah haji, serta rasa ingin segera menyahuti panggilan Allah yang begitu menggebu.

Satu sama lain dalam mengumpulkan biaya ibadah haji pastilah berbeda, yang petani berbeda dengan seorang pegawai negeri, pelaut, pedagang, buruk kasar, buruh begasi,ada karena memiliki kelebihan sebagai tokoh agama yang mendapat fasilitas negara atau pemerintah, ada yang tidak memerlukan keringat, ada harus banting tulang, dan sebagainya. Inilah sebabnya ekspresi lisan dan bahasa tubuh masing-masing jamaah calon haji sangat berbeda dalam memandang pembatalan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

Semua yang terjadi dimuka bumi ini tentu semuanya ada hikmah, ada pelajaran penting disiapkan Allah SWT, penularan Virus Corona atau Covid-19, tidak dapat dihindari ada rencana Allah yang lebih baik bagi hambanya. Karena itu tentunya mengutamakan harapan dan doa, agar tidak terus memandang pada kesedihan, kesulitan, yang dialaminya, semisalnya Virus Corona atau Covid 19, begitu pula dengan pembatalan penyelenggaraan ibadah haji tahun, akan tetapi terus memadang dibalik ujian itu ada hikmah dan pelajaran amat berharga yang disipakan Allah SWT.

Baca Juga  RMS: Pattimura itu Pahlawan Maluku bukan Indonesia

H. Sarbin mengutip seorang Maestro Motivator Muslim Dunia, Dr.H. Ibrahim Elfiky, dalam buku Terapi Berpikir Positif, yang mengatakan “Kadangkala Allah menutup pintuk yang ada didepan kita, tapi Dia membuka pintu yang lain yang lebih baik. Namun kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu, konsentrasi dan tenaga untuk memandang pintu yang tertutup dari pada menyambut pintu impian yang terbuka dihadapannya”.

Pintu yang tertutup sesunggunya awal dari pintu yang terbuka lebar, pembatalan ibadah haji tahun ini adalah ujian kesabaran, ujian ketaatan bagi setiap jamaah calon haji, dan kepada kita semua umat Islam, semuanya berbesar hati, segenap jiwa raga, pembatalan ibadah haji kali ini bukan akhir dari ibadah haji. Ujian kesabaran ini, akan mampu menjiwai para hujjaj mempersiapkan diri menunaikan ibadah haji tahun berikut. Semua yang terjadi, hal ikhwal buruk sekalipun, adalah bagian dari rencana Allah SWT, sebagai wujud kasih sayang.

Meskipun Virus Corona atau Covid-19, telah merubah takdir berhaji tahun ini, namun rasa rindu pada kabah baitullah tidak berkurang. Waktu memandang kabah baitullah boleh bergeser, niat suci dan mulia selalu berkobar dihati, menyahut panggilan Allah SWT pada saat yang diizinkan Sang Pemilik anugrah. ”Inilah keyakinan orang beriman, orang shaleh, para calon hujaj, kesulitan adalah awal dari kemudahan, gelapnya malam adalah awal yang panjang menanti siang, indahnya pelangi karena ada hujan dan matahari”, tutup Kakanwil. (red/inmas)