Kalah

oleh -53 views
U.S. President Donald Trump gestures as he participates in the first 2020 presidential campaign debate with Democratic presidential nominee Joe Biden held on the campus of the Cleveland Clinic at Case Western Reserve University in Cleveland, Ohio, U.S., September 29, 2020. REUTERS/Jonathan Ernst TPX IMAGES OF THE DAY
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti Sosial, Politik dan Militer

Hari Minggu sebaiknya diisi dengan hal-hal yang memotivasi. Ini penting. Apalagi sekarang motivasi itu bisa diperdagangkan. Coba saja lihat, bagaimana orang-orang yang menceramahkan motivasi dan menjadi kaya raya karenanya.

Satu hal yang saya perhatikan dalam bisnis motivasi adalah jika Anda ingin terjun ke bisnis ini Anda harus punya dosis narsisme yang melebihi rata-rata. Artinya, komoditi yang dijual seorang motivator itu adalah narsisme. Sumber narsisme adalah ego dalam kadar ego-maniac.

Masih ingat Mario Teguh? Itu lo, motivator yang mukanya bundar, pakaiannya necis selalu dengan jas dan dasi, dan kacamata yang menyesuaikan bentuk bulat mukanya. Dia selalu tampil sebagai orang bijaksana. Namun lebih dari itu, dia mencitrakan diri sebagai orang sukses sekaligus orang baik.

Saya selalu ingat satu tamsil dari motivator ini. Bunyinya, “hadiah pertama dari orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan.” Bukan karena saya mengerti benar maknanya. Juga bukan karena substansinya dari tamsil itu. Namun justru karena sebaliknya: betapa kosongnya makna tamsil itu. Saya tidak tahu apa yang dinamakan kebaikan itu.

Tapi faktanya, orang membeli tamsil-tamsil seperti itu dan menganggapnya sebagai mutiara hikmah penuntun hidup yang baik. Apapun artinya itu. Kekosongan itu ‘multi-interpretable.’ Artinya bisa ditafsir oleh siapa saja.

Hal kedua yang dibutuhkan para motivator adalah media. Di jaman media sosial ini, dimana semua orang bisa berpartisipasi bersuara. Media sekarang sudah menjadi peralatan pribadi. Ia tidak lagi dikontrol oleh korporasi atau pemerintah (walaupun kadang pemerintah dan korporasi toh masih bisa mengontrol).

Itulah sebabnya di abad media sosial ini, setiap orang punya kesempatan menjadi motivator namun tidak semua punya kemampuan untuk itu. Motivator berjamuran. Mereka membombardir konsumen dan bersaing mencari pengikut.

Baca Juga  Idul Adha 1441 H, Polres Pulau Buru Sembelih 14 Hewan Kurban

Di Indonesia, pemenangnya jelas yaitu para motivator yang memberi motivasi berbasis agama. Seolah agama adalah penyelesaian persoalan segala kehidupan. Seperti balsem gosok yang mampu meredakan segala nyeri — mulai dari terkilir hingga ke nyeri luka dalam sakit jantug.

Tentu saja, seorang motivator bisa jatuh karena media juga. Mario Teguh jatuh karena persoalan pribadinya terungkap di TV. Dia kemudian diadili menurut standar kata-katanya sendiri. Dia yang dulunya menetapkan standar ‘kebaikan’ kemudian diadili oleh standar itu sendiri.

Ada seorang motivator jenius yang tahu persis bagaimana mengakali itu. Namanya Donald Trump. Dia anak seorang yang kaya raya. Dia mewarisi US$ 400 juta dari ayahnya berupa bisnis real estate. Trump sebenarnya bukan seorang pebisnis yang ulung. Dalam sekejap uang itu habis dan dia bangkrut. Namun dia tahu persis menyimpan rahasia kebangkrutannya dan selalu memproyeksikan citra bahwa dia adalah pebisnis ulung.

Baca Juga  Kapolres Buru Sambut Kunjungan Pandam XVI Pattimura Di Namrole

Dia menulis buku. Sebenarnya bukan dia yang menulis tapi seorang ghost writer bernama Tony Schwartz. Bukunya “The Art of Deal” membahas trik menjadi sukses. Dari sinilah Trump menjual dirinya sebagai pengusaha sukses yang ahli dalam bernegosiasi. Dia sukses menjual dirinya sebagai motivator.

Bisnisnya bangkrut, tapi dia bisa menjual namanya. Dia membuka universitas yang menjanjikan akan memberikan rahasia sukses. Dia juga membuka kelas-kelas bagaimana menjadi pengusaha sukses seperti dirinya. Pesertanya membayar puluhan ribu dollar untuk menjadi pengusaha real estate sukses. Mereka tidak tahu bahwa mereka belajar dari pengusaha bangkrut.

Buku adalah media pertama Trump. Media keduanya adalah sebuah show TV yang sangat populer “The Apprentice.” Dari laporan pajak, dia mendapat sekitar $480 juta dari show ini yang segera dia habiskan untuk membeli hotel dan lapangan golf. Namun tidak semuanya berjalan dengan baik. Sebagian besar bisnisnya masih merugi.

Namun itu tidak menghalangi dirinya menjual sukses. Dia masuk ke politik dan kita tahu dia menjadi presiden. Seolah mengabaikan hukum gravitasi bumi, dia terbang ke pucuk kekuasaan dan menjadi orang paling kuat di dunia.

Media juga yang membuat dia menjadi presiden. Tahun 2016, semua media menyiarkan langsung kampanyenya. Siaran langsung inilah yang membuat pesannya tersebar kemana-mana. Tahun 2020, media rupanya sadar akan taktik ini. Mereka tidak menyiarkan kampanye Trump. Tapi Trump, dengan energi yang luar biasa dan disokong oleh fasilitas sebagai presiden (dia punya Air Force 1 untuk pergi kemana-mana) berkampanye di bandara tanpa kenal lelah. Dia terbang dari satu airport ke airport lain padahal dia kena Covid beberapa minggu sebelumnya.

Baca Juga  Baru Tiba Dari Jakarta, Bupati Halbar Jalani Karantina Mandiri Selama 14 Hari

Trump kalah sangat tipis. Saya bisa membayangkan bagimana seorang ego-maniac seperti Trump harus menerima kekalahan. Bagaimana seorang yang biasa menjadi pusat perhatian tiba-tiba harus dikesampingkan dari perhatian. Tiba-tiba dia harus diam. Gravitasi bumi seolah bekerja kembali menariknya jatuh ke bumi. Dengan hentakan keras, tentu saja.

Pada saat ini, Trump harusnya sudah hancur berkeping-keping seperti Mario Teguh. Namun saya ragu ini akan terjadi. Dia adalah seorang jenius dalam memanipulasi opini publik. Sangat mungkin dia akan menemukan lagi cara untuk mengabaikan gravitasi bumi.

Jika Anda bukan Trump, apa yang harus Anda lakukan jika Anda mengalami kekalahan? Kebudayaan manusia yang normal memiliki mekanisme untuk menelan kekalahan. Itu adalah sikap kerendahan hati (humility). Mundur dengan kerelaan dan mengesampingkan ego. Kalau tidak Anda akan bunuh diri karena kekalahan itu kadang menghempas Anda dari ketinggian 30 ribu kaki.

Oh, secara tidak sadar, paragraph terakhir sudah membuat saya menjadi seorang motivator juga.

Asu! (***)

======