Kalender Tidore Bawa Arifin Abas Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2022

oleh -104 views
Link Banner

Porostimur.com, Tidore – Arifin Abas, salah satu staf pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, sukses membuat Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekhnologi (Mendikbud Ristek) Republik Indonesia melirik karya Kalender Adat Tidore.

Hal itu dibuktikan dengan undangan yang disampaikan Mendikbud Ristek kepada Arifin untuk menerima penghargaan melalui Program Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2022.

Kemendikbud Ristek akan mengundang Arifin Abas secara khusus dengan nomor : 1661/F6/KB.11.05/2022 tentang Penetapan dan Penyerahan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2022 yang akan berlangsung pada Jum’at 9 Desember 2022 di Jakarta nantinya.

“Saya salah perwakilan dari Provinsi Maluku Utara yang mendapatkan program penghargaan AKI dengan kategori Pencipta Kalender Adat Tidore,” ungkap Arif saat ditemui, Selasa (6/12/2022).

Menurut dia, ada tiga orang dari Maluku Utara yang lolos pendaftaran melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Malut, dua diantaranya dari Tidore, dan satunya dari Morotai.

Tetapi setelah dilakukan penilaian, kata Arifin, alhamdulillah ia lolos sampai ke Tingkat Nasional.

Sebagai salah staf di Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kota Tidore Kepulauan, dia mengaku, pilihan untuk dirinya lolos sampai ke tingkat Nasional, dikarenakan penelitiannya yang mampu membaca gejala alam semesta lewat kaledender Tidore.

Sebelumnya, Arifin ditetapkan sebagai penerima AKI Tahun 2022, penelitiannya sempat diuji oleh Mendikbut Ristek belum lama ini yang 6 orang untuk menguji penilitianya.

Setelah melaui verifikasi, Arifin langsung diuji di lapangan, perwakilan Mendikbud Ristek kemudian melihat karya Arifin dalam menyusun Kalender Adat Tidore.

Dari kenikan Kalender Adat Tidore yang diciptakan arifin, diakui Mendikbud Ristek bahwa terdapat unsur Filologi, Linguistik, Semiotika dan Sejarah Peradaban. Bahkan berkat penemuan Arifin, membuat perwakilan Mendikbud Ristek mengakui bahwa budaya Tidore sangat luar biasa.

“Penilitian yang saya lakukan ini untuk membaca tanda-tanda alam ini selama dua tahun setengah, lokasinya itu di Seli, Kalodi, dan Paceda. Untuk di Seli, saya melihat bunga rumput laut mengapung diatas air, di Kalodi saya mengecek burung Maleo bertelur dan di Paceda itu saya melihat Penyu bertelur,” paparnya.

Menariknya, Kalender Adat Tidore, Arifin bilang, dapat menentukan hari baik dan buruk (Nahas), untuk manusia melakukan aktifitas, serta dapat mengetahui kapan datangnya gerhana bulan dan matahari. Serta mengetahui dengan pasti jatuhnya 1 Ramadhan yang acap kali terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU).

“Untuk hari nahas itu diharamkan memulai pekerjaan, hal itu bersesuaian degan dalil para leluhur di Tidore, yakni Awal Kurie Salah, Turu Majako Lenge, artinya Jika Awal melakukan sesuatu di waktu yang salah maka akhirnya akan berpeluang bermasalah, seperti di petani hasil panen tidak jadi, atau bisa jadi muncul sebuah musibah bagi orang yang mau memulai pekerjaan,” terangnya.

Pemiik Kalender Tidore ini, menjadi pembeda bagi Kalender Masehi maupun Kalender Imlek dan kalender Jawa. Bahkan dalam penghitungannya tidak pernah meleset untuk menentukan pergantian bulan, tahun dan penetapan hari. Kini, Kalender milik Arifin, telah dilounching secara resmi oleh Pemerintah Kota Tidore dan dibagikan kepada masyarakat.

“Saya melakukan ini semua berawal dari rasa penasaran atas pernyataan orang-orang di Tidore tentang hari nahas, dan perdebatan tentang penentuan waktu ketika memasuki bulan suci ramadhan, dan itu saya mulai sejak tahun 2013,” tuturnya.

Dari penelitian yang dilakukan Arifin untuk melahirkan Kalender Tidore, sebelumnya hanya mendapat dukungan dari Istrinya, Ratna Djamaludin yang berprofesi sebagai seorang Guru di SMK Negeri 1 Tidore.

“Dukungan tersebut, mulai dari pembiayaan maupun fasilitas, untuk dirinya mencari tau tentang misteri Falakiah atau yang dikenal dengan ilmu penentuan waktu berdasarkan gejala alam atau Ilmu Antariksa,”tambah Ratna.

Ratna mengatakan, ia sempat pesimis dengan aktifitas suaminya, bahkan mengira dia akan gila, namun saat ini saya bersyukur karena karyanya telah diakui dan dihargai oleh Negara.

Diketahui, Arifin merupakan aset berharga milik Kota Tidore, karena ia telah banyak berkontribusi terhadap Tidore dalam mendorong kebudayaan milik Tidore untuk mendapatkan Hak Cipta dari Kemenkumham, salah satunya dia sukses mencetuskan 21 Kekayaan Intelktual Komunal (KIK) milik Tidore yang saat ini telah diakui oleh Kemenkumham RI. (Culen)

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.