Porostimur.com, Ambon – Angka kekerasan terhadap anak di Maluku dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat dan kini berada pada level yang sangat memprihatinkan. Bentuk kekerasan yang terjadi pun beragam—mulai dari fisik, psikis, seksual hingga penelantaran—menjadi potret buram kondisi perlindungan anak di daerah ini.
“Tolong Kami… Selamatkan Masa Depan Kami”
Kegelisahan atas situasi tersebut disampaikan AKP Imelda Haurissa, Kaur Penmas Bidang Humas Polda Maluku, dalam sebuah rilis yang diterima redaksi, Senin (17/11). Dengan pesan yang kuat dan menyentuh, ia menegaskan bahwa suara anak-anak Maluku kini bukan lagi keluhan lirih, tetapi jeritan yang menggugah nurani.
“Tolong kami… selamatkan masa depan kami,” tulisnya, menggambarkan betapa mengkhawatirkannya kondisi kekerasan terhadap anak dewasa ini.
Menurut AKP Haurissa, banyak anak hidup di lingkungan yang seharusnya memberi rasa aman, namun justru meninggalkan luka mendalam—entah terlihat maupun tersembunyi. Trauma, ketakutan, hingga hilangnya keceriaan menjadi kenyataan pahit bagi sebagian anak yang seharusnya tumbuh dalam kasih sayang.
“Ketika seorang anak berkata ‘Beta takut pulang’ atau ‘Jangan kase tinggal beta’, itu bukan sekadar keluhan. Itu adalah teriakan yang harusnya menggugah kita semua,” ujar Haurissa.








