Keadilan Kita Berbeda Rasa

oleh -17 views
Link Banner

Cerpen Karya: Genta Al-kornie

Sebuah jam kuno kotak berornamen kayu jati berdenting sembilan kali, menandakan Tuhan terlampau baik pada manusia agar mampu menciptakan alat untuk membantu mengatur waktu istirahat yang optimal demi kesehatannya. Tapi, Genta mengacuhkan teori ngawur itu, sebab malam ini dia sedang duduk di pojok warung kopi “Sendu Melagu”. Ditemani secangkir ekspresso yang seperti langit pada malam hari ke tiga puluh. Pekat.

Jika manusia (menurut salah satu pedoman agama langit) diturunkan ke dunia untuk menjadi pemimpin di bumi, dan bila digabungkan dengan pondasi negara ini yang dirumuskan disila kedua dalam pancasila, karakter manusia yang seperti apa yang bisa mengkorelasikan hubungan seperti itu? Pikiran Genta, tiga cangkir kopi ekspresso yang seperti purnama ke tiga puluh itu, dan 3 jam waktu istirahatnya terkuras habis, dan terpakai untuk pertanyaan yang dia buat sendiri. Begitulah Genta, selalu memikirkan masalah yang dibuatnya sendiri dan bersusah payah mencari jawaban dari pertanyaanya sendiri.

Baca Juga  Kontraktor Tinggalkan Hutang, Masjid Fuata Terbengkalai

Tiga buku yang berbeda sudah habis dia baca. Dari buku yang menguak tentang pancasila, manusia, hingga buku sejarah peradaban manusia tetap saja Genta tidak bisa mengaitkan isi yang ada di tiga buku itu dengan realita pada bangsa ini. Sebab bangsa ini, menurut hemat Genta adalah bangsa yang mendzalimi dirinya sendiri.

Sedikit tersenyum Genta melihat gerombolan musisi jalanan di seberang warung kopi “sendu melagu” memainkan lagu “wakil rakyat” yang pengarangnya banyak memberikan kalimat sindiran di liriknya. Matanya terpejam dan mulutnya mengikuti ucapan sang vokalis. Relaksasi itu perlu, pikirnya. Lantunan lagu memasuki interlude, petikan gitaris pada gitarnya persis seperti eyang pemilik lagu itu. Tiba-tiba terdengar teriakan yang menggema “Keadilan Kita Berbeda Rasa!”, sontak mata dan telinga Genta terganggu dengan teriakan itu. Ternyata tuan dari teriakan tadi adalah si vokalis. Dia memegang secarik kertas, lalu mengulangi kalimat tadi.

Baca Juga  Puncak Gunung Everest "Tempat Sampah Tertinggi di Dunia"

“Keadilan kita berbeda rasa.
Adil yang kalian lakukan adalah berbagi wine di gelas yang indah dengan merata.
Adil bagi kami adalah memutar cangkir berisi kopi agar semua menikmatinya.

Keadilan kita berbeda makna.
Adil bagi kalian adalah sebuah kesenangan melawan sepi.
Adil bagi kami adalah kebersamaan menikmati pahit.

Seandainya kami menjadi kalian, gelas indah itu akan tetap berisi kopi nikmat tanpa perlu lagi berputar.
Seandainya kalian menjadi kami, cangkir kopi itu tetap berisi kopi, tapi kalian akan menikmati sepi.

Tapi tenang, itu hanya seandainya.
Kami sudah tahu sifat penghuni istana langit.
Lagipula sejak awal sudah kubilang;
Keadilan kita berbeda rasa.

Jadi tenanglah di atas sana.
Sampai kami selesai membuat tangga, guna membagikan kopi untuk kalian.”

Lalu sang gitaris memetik senar terakhir tanda selesainya lagu “wakil rakyat” dan sajak “keadilan” itu. Genta pun mengulum senyum untuk para musisi jalanan di seberang warung kopi itu. Pandanganya beralih kepada jam kuno kotak berornamen kayu yang jarumnya berada diangka 12. Ternyata malam hari ini sudah berada dipuncaknya, Genta pun merapikan buku-buku yang berada di meja untuk dimasukan ke dalam tasnya. Tapi tunggu dulu, apa Genta sudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang membuat dia bersemedi di warung kopi “Sendu Melagu” itu? Jangan bertanya pada narator! Ini pertanyaan untuk Genta kan? Kalian tanyakanlah pada dia!

Baca Juga  Lagi, PN Soasio gelar sidang kasus penghinaan PDI-P dalam Pilgub Malut

Sebelum pergi, Genta membayar tiga cangkir kopi ekspressonya dengan uang Rp.100.000 dan berkata “tolong buatkan lima cangkir kopi untuk mereka yang berada di seberang sana” Genta menunjuk gerombolan musisi jalanan itu. “Buatkan juga kopi untukmu. hari ini aku ulang tahun, aku yang traktir.” Genta tersenyum sambil memohon pamit. Lalu pemilik warung kopi yang merangkap pelayan itu tersenyum dan berkata “Semoga mimpi indah.” (*)