Keindahan Cinta Aisyah

oleh -50 views
Link Banner

Cerpen Karya: Firda Nirwana

Angin menghembus membelai wajah lugu Aisyah, seorang gadis cantik berparas lembut sekaligus seorang santri di salah satu pesantren terkenal di jawa timur. Entah mengapa pagi ini udara begitu dingin sehingga banyak santri yang masih terlelap dalam pelukan hangat selimut mereka, terkecuali Aisyah yang sudah sejak tadi sudah berada di dalam musholla, akhirnya sholat shubuh dilaksanakan dengan sebagian dari santri saja.

Setelah matahari mulai menampakkan dirinya aktivitas pun dilaksanakn seperti biasa. Zahra seorang santri yang satu kamar dengan Aisyah menghampiri Aisyah yang sedang mengaji di dalam musholla “hai ukhti, kenapa tadi kamu nggak bangunin aku sih?” dengan sedikit nada kesal ia lontarkan, lalu aisyah dengan lembutnya menjawab “sudah aku bangunkan dirimu tapi kamu malah menarik kembali selimutmu sahabatku” dengan raut wajah merah Zahra menundukkan wajahnya “maafkan aku Aisyah” Aisyah hanya tersenyum lembut dan berakata, “sudahlah ukhti sekarang bergegaslah mandi, habis ini kegiatan kita akan segera dimulai” Zahra berbalik badan dan bergegas pergi.

Suatu hari Aisyah yang sebagai satu pengurus di pesantren itu dipanggil oleh ketua pengurus ternyata pesantren berniat mengadakan bazar tahunan yang diselenggrakan 2 minggu kedepan. Dan ketua pengurus menunjuk Aisyah sebagai ketua panitia bazar tersebut. Mendengar hal itu aisyah merasa kaget dan awalnya ia menolak tapi setelah diyakinkan oleh ketua pengurus ia akhirnya menyanggupi amanah tersebut.

Link Banner

Karena ia menjadi ketua panitia akhirnya dia sering berkomunikasi oleh pesantren putra, karena ia sering bolak balik ke pesantren putra maka tak heran jika akhirnya banyak santri putra yang sedikit demi sedikit mengenal sosok Aisyah, tak terkecuali adam seorang santri putra yang juga menuntut ilmu di pesantren itu. Rupanya adam juga seorang pengurus kepanitiaan bazar, dia ditunjuk sebagai sekertaris panitia bazar.

Pada saat bazar akan segera dimulai 4 hari lagi ada sebuah masalah pada pembelian perlengkapan bazar putri, hal ini membuat Aisyah sebagai ketua panitia putri merasa cemas akan masalah ini. Karena setiap pembelian keluar arena pesantren diwakili oleh panitia putra, Akhirnya Aisyah meminta bukti pembelian barang kepada Adam sebagai sekertaris panitia bazar, memang tidak ada yang janggal dalam bukti pembelian tersebut tapi masalah uang yang hilang Rp. 200.000 itu membuat Aisyah bingung. Karena Aisyah merasa takut, ia akhirnya melapor pada ketua pengurus, dengan nada terbata bata ia menghadap kepada ketua pengurus.

Baca Juga  Dikejar Anjing, Biawak Ini Panjat Pagar Rumah Karena Ketakutan

Setelah menjelaskan masalah yang terjadi akhirnya pengurus menjelaskan bahwa sebenarnya uang itu ada pada dirinya, uang itu ia minta karena ada bahan tambahan yang harus ia beli sebagai perlengkapan bazar. Mendengar hal itu Aisyah bernapas lega. Sejak kejadian itu Aisyah dan adam semakin sering bertemu karena Aisyah takut kejadian itu terulang lagi. Seiring berjalannya waktu Adam dan Aisyah mempunyai rasa yang menurut mereka itu tidak pantas ia punya sebagai seorang santri, namun tak bisa dipungkiri bahwa mereka memang saling menyukai. Sejak saat itu mereka diam-diam saling berbalasan surat.

Suatu hari orangtua Aisyah datang mengunjunginya, sontak Aisyah merasa kaget soalnya setiap kali ia akan dijenguk pasti orangtuanya menghubungi dahulu lewat telepon pesantren. Rasa janggal yang dirasakan Aisyah itu ternyata benar, maksud kedatangan orangtuanya ke sini adalah untuk menjodohkan Aisyah dengan seorang pria kenalan ayahnya, mendengar hal itu seakan hatinya sesak dan perlahan air mata menyapa halus pipinya. Setelah orangtua Aisyah pulang ia menceritakan semuanya kepada Zahra sahabatnya, Zahra tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang ini menyangkut masalah orangtua. Zahra hanya bisa menenangkan kekacauan hati sahabatnya itu.

Sejak saat itu surat dari Adam tak pernah ia balas lagi. Ia takut semakin dalam rasa sayangnya kepada Adam semakin sulit juga untuk melupakannya. Dengan perlahan ia menjauh dari kehidupan Adam. Sikap ini membuat Adam bingung.

Suatu saat ia bertemu Zahra sahabat Aisyah, akhirnya Adam menanyakan perihal masalah itu. Melihat wajah Zahra yang gelagapan akan pertanyaan itu, Adam sudah menduga pasti ada masalah besar. Zahra hanya terdiam seribu kata, ia tak mampu berkata sepatah katapun, akhirnya Zahra memutuskan untuk lari menjauh dari Adam. Segera ia menuju kamarnya ia langsung menyampaikan kepada Aisyah tentang hal yang dia alami barusan, mendengar hal itu, Aisyah yang sedang membaca al-qur’an langsung menghentikan bacaannya. Dia menatap tajam wajah sahabatnya itu.Tak ada yang bisa banyak dilakukan oleh Aisyah ia hanya bisa menangis di pundak sahabat setianya itu.

Baca Juga  Ekspor Maluku Desember 2019 Sebesar USD 3,29 Juta, Naik 92,18 Persen

Melihat masalah yang dialami Aisyah itu. Adam tidak tinggal diam, dia tetap berusaha mencari masalah yang menimpa Aisyah. Berita dijodohkannya Aisyah itu akhirnya terdengar di telinga Adam juga. Setelah tahu masalah apa yang dialami Aisyah, akhirnya Adam mengirimkan surat kepada Aisyah, dia berkata bahwa dia telah mengetahui masalah yang Aisyah alami. Ketika surat itu sudah sampai di tangannya, Aisyah hanya bisa menetesakan air mata dan menatap surat dari sang pujaan hatinya itu. Dengan hati yang gelisah ia membalas surat itu.

“Asslamualaikaum Mas”
Maaf mas surat kemarin yang kau kirim tidak ku balas. Bukan aku tak menghargai lagi surat yang kau kirim, tapi diri ini tak sanggup melihat dirimu terluka dan kecewa. Keadaan ini membuat aku tak sanggup untuk kuhadapi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk perlahan menjauh dari dirimu Mas. bukan karena ku tak menyayangimu lagi tapi mungkin ini langkah terbaik untuk hubungan kita. Mas pasti tahu maksud saya ini, dan saya mohon mas tidak megirimkan surat untuk saya lagi.
“Wassalamu’alaikum”

Surat singkat balasan Aisyah membuat hati kecil Adam menangis. Tapi perjuangan Adam tak terhenti sampai di sini. Ia malah semakin menjadi-jadi. Ia sering menerobos masuk gerbang pesantren putri hanya untuk menemui Aisyah, tetapi Aisyah selalu menghindar dari Adam.

Perbutan Adam ini akhirnya dipergoki oleh pengurus dan akhirnya pengurus melaporkan kepada sang kiyai. Mendengar kabar seperti itu Adam langsung dikeluarkan dari pesantren itu. Berita dikeluarkannya Adam itu membuat Aisyah menangis.

Setelah beberapa tahun di pesantren akhirnya Aisyah selesai menimba ilmu di pesantren itu. Ia menjadi santri terbaik, Setelah kelulusannya itu Aisyah pulang ke rumahnya beberapa bulan kemudian Aisyah di lamar oleh laki-laki pilihan ayahnya itu, keluarganya pun tidak pernah menceritakan latar belakang calon suaminya itu. Meskipun mereka sudah bertunangan Aisyah tidak tahu dan Aisyah juga tidak ingin tahu seperti apa calon suaminya. Sampai di suatu saat, tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan. Saat keesokannya ia menjadi pengantin zahra sahabatnya datang dengan membawa sejuta semangat untuk sahabatnya itu. Zahra tetap berusaha menghibur hati sahabatnya itu meskipun ia juga tahu bagaimana hati Aisyah sekarang.

Baca Juga  Bukannya Bilang Makasih Abis Foto Bareng, Prilly Latuconsina Malah Dapat Body Shaming dari Fansnya

Setelah melaksanakan sholat shubuh Aisyah dirias layaknya seorang pengantin yang sedang berbunga-bunga dengan diselimuti semerbak bunga melati, tapi rasanya sia-sia juga bunga melati yang ada di tubuhnya tak dapat membuat Aisyah tulus berbahagia. Karena akad pernikahan dilakukan tanpa kehadiran mempelai wanita, akhirnya Aisyah berada di dalam kamar pengantinnya setelah Suara mempelai laki-laki mengucapkan janji yang sakral itu ia meneteskan air mata. Memori dia dengan Adam kembali muncul.

Setelah akad selesai dilaksanakan Aisyah dipanggil keluar oleh orangtuanya dan setelah Aisyah membuka gorden kamarnya tampaklah sesosok laki-laki berpakaian rapi dengan mengenakan jas berada tepat di depannya. Betapa terkejutnya Aisyah karena suaminya adalah Adam. Melihat raut muka Aisyah yang begitu kaget membuat Adam tesenyum.

Setelah acara pernikahan mereka selesai Adam menceritkan bahwa sejak dia dikeluarkan dari pesantren itu ia diberitahu oleh orangtuanya bahwa dia sudah dijodohkan. Mendengar kenyataan itu sebenernya Adam juga berontak, tapi setelah ia di beritahu calon istrinya bahwa Aisyah ia langsung saja menyetujui perjodohan ini. Akan tetapi Adam juga harus menaruh perasaan rindu kepada Aisyah karena lama tak berjumpa, hingga waktu yang Adam tunggu yaitu hari pernikahan mereka

Tuhan selalu tahu mana yang diinginkan hambanya dan yang dibutuhkan, percayalah tuhan selalu ingin yang terbaik dari kita dan percayalah bahwa tuhan tak pernah salah dalam menepatkan sesuatu. (*)