Kemanusiaan dan Spiritualitas Basoeki Abdullah

oleh -30 views
Link Banner

Sosok Basoeki Abdullah merupakan salah satu legenda di dunia seni rupa. Maestro yang melukis dengan aliran realis dan naturalis itu memiliki ratusan karya yang dikoleksi di berbagai negara.

DARI karya-karyanya itu, Basoeki tidak hanya menuangkan potret maupun realitas ke dalam lukisan. Dia juga melakukan beautifikasi sebagai bentuk transfer keindahan ke dalam karyanya.

Basoeki lahir pada 1915 dan meninggal pada 1993 silam. Dia merasakan hidup di tiga zaman. Kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru. Latar belakangnya yang punya garis bangsawan sekaligus cucu tokoh kebangsaan dr Wahidin Soedirohoesodo membuatnya berada dalam lingkaran penting.

Link Banner

Hal itu sangat berpengaruh pada lukisan-lukisannya. Dia memang sering melukis dengan model wanita cantik hingga sang istri, Nattaya Nareerat, cemburu kepadanya. Namun, di luar itu, dia juga melukis tokoh-tokoh terkenal. Misalnya, Presiden Soekarno dan Soeharto hingga Ratu Juliana. Kebanyakan dilukis secara on the spot.

Namun, banyak juga karyanya yang dilukis dengan mengandalkan imajinasi. ”Contohnya, lukisan Pangeran Diponegoro yang dilukis dengan pose karismatik,” ujar Mikke Susanto, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, dalam diskusi daring bertema Kemanusiaan pada Karya Basoeki Abdullah Kamis lalu (4/3).

Baca Juga  Gagahi Mawar, Mic Meringkuk di Sel Mapolres Bitung

Menurut Mikke, banyak lukisan Basoeki yang dipengaruhi sentuhan Eropa. Itu merupakan efek dari pergaulannya yang luas di kalangan seniman Eropa. Apalagi, Basoeki juga sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda. Sentuhan Eropa itu salah satunya terlihat dari bagaimana dia melukis Presiden Soeharto dengan memosisikan model 3/4 menghadap depan.

Pose tiga dimensi tersebut membuat model tampak berwibawa. Sekalipun dipengaruhi gaya khas Eropa, unsur budaya Jawa tak ketinggalan dia tuangkan dalam lukisan tersebut. Begitu pun dalam lukisan Thailand, Raja Bhumibol Adulyadej, yang banyak memasukkan latar berupa pernak-pernik khas Negeri Gajah.

Meski melukis banyak tokoh terkenal, Basoeki juga acap kali menuangkan sisi kemanusiaannya. Sebab, dia yang pada dasarnya memiliki darah biru sebenarnya juga aktif di gerakan-gerakan sosial yang membela kaum proletar. Terlebih, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga masa revolusi, banyak momen yang membuatnya tersentuh untuk lebih memperhatikan kaum tertindas.

Baca Juga  6 Tips Alami Membuat Kulit Wajah Awet Muda

Hal itu, misalnya, dituangkan dalam lukisan seorang petani yang sedang membajak sawah. Basoeki tak hanya melukis petani yang sedang bekerja. Ada keindahan berupa sapuan goresan yang menggambarkan awan yang cukup dramatis, yang diimbangi dengan merekahnya sinar matahari yang menaungi si petani.

”Ini adalah gambaran emosi dan empatinya kepada masyarakat petani. Bahwa petani punya peran besar dalam kehidupan kita. Namun, mereka sering kali jauh dari kelayakan dan dipantaskan,” ujar kurator seni Puguh Tjahjono.

Puguh yang juga pengajar di Universitas Indraprasta melihat goresan khas seperti ini membuat karya Basoeki Abdullah yang konsisten di aliran naturalis dan dan realis itu lebih komunikatif. Proses itu juga terlihat pada lukisan berjudul Kakak dan Adik yang kini menjadi salah satu koleksi Galeri Nasional. Tampak sepasang anak dengan raut wajah polos dalam lukisan tersebut. Pakaiannya terlihat biasa. Sekali lagi, menurut Puguh, kepedulian kepada kaum miskin ditunjukkan Basoeki ke dalam lukisan ini.

Baca Juga  Saling Klaim Lahan Eks Hotel Anggrek Ambon Berlanjut

Keagungan dan kecantikan juga terjadi dalam lukisan-lukisan Basoeki tentang Nyi Roro Kidul. Dia menuangkan pengalaman spiritualnya yang suka mengunjungi Pantai Parangkusumo. Sosok Nyi Roro Kidul dilukiskan dengan model dan ada juga yang tanpa model alias menggunakan imajinasinya.

Keayuan dan kewibawaan itu, misalnya, terlihat dari pose-pose penguasa pantai selatan yang berjalan di tengah ombak. Ada juga yang sedang menggunakan kereta kencananya. ”Termasuk lukisan yang menggambarkan percumbuan Nyi Roro Kidul dengan Sultan. Tapi, percumbuan itu tidak digambarkan secara verbal,” terang Mikke yang juga penulis buku-buku seni rupa.

(red/jawapos)