Kerusuhan Terjadi di Belanda Akibat Pembatasan Jam Malam Karena Covid-19

oleh -33 views
Link Banner

Porostimur.com | Amsterdam: Polisi anti huru-hara di Belanda kembali bentrok dengan para demonstran yang menentang kebijakan jam malam sejak kericuhan dimulai akhir pekan lalu.

Lebih dari 150 orang ditangkap, kata media setempat. Di Rotterdam, kepolisian melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata, setelah perintah darurat yang dikeluarkan wali kota gagal menenangkan para pedemo.

Kericuhan dimulai pada akhir pekan lalu saat para pedemo menolak aturan pembatasan dalam rangka pengendalian virus corona.

Perdana Menteri (PM) Mark Rutte mengutuk kerusuhan-kerusuhan ini dengan sebutan “kekerasan kejahatan murni”.

Kasus Covid-19 di Belanda tercatat mendekati angka satu juta sejak pertama kali wabah menyebar, dengan jumlah kematian 13.500 jiwa, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

Aksi kekerasan terjadi di sejumlah kota pada Senin kemarin. Kepolisian anti huru-hara bentrok dengan para pedemo di Amsterdam serta di Rotterdam, Amersfoort dan Geleen.

Baca Juga  Morotai Catat 22 ODP Corona

Aksi pembakaran dilakukan di jalan-jalan Den Haag, di mana polisi dengan menggunakan sepeda berusaha menghalau sekelompok orang yang melemparkan batu dan kembang api, kata wartawan BBC Anna Holligan.

Sejumlah penangkapan terjadi di Amsterdam setelah adanya laporan terjadi pengrusakan yang lebih parah.

Di Rotterdam, kepolisian menyemprotkan meriam air selama menghadapi perusuh, menurut siaran nasional NOS.

Wali kota telah membuat keputusan darurat yang memberikan polisi kewenangan yang lebih luas untuk melakukan penangkapan.

Penggemar sepak bola Willem II mengambil bagian turun ke jalan Tilburg untuk “melindungi kota mereka” dari perusuh, seperti dilaporkan situs media lokal Brabants Dagblad.

Kerusuhan yang terjadi sejak Minggu kemarin digambarkan kepolisian Belanda sebagai kerusuhan terburuk selama empat dekade terakhir.

Baca Juga  Komisi I DPRD Rekomendasikan Desa Capalulu Masuk Dalam Pilkades Serentak

Polisi menangkap sebanyak 250 orang dari kerusuhan yang terjadi di seluruh wilayah.

Pusat pengujian Covid-19 juga dibakar pada Sabtu malam di desa Urk sebelah utara, kata pihak berwenang.

Polisi menangkap pria berusia 39 tahun di Almere pada Sabtu lalu, karena mengunggah pesan yang mengancam mengenai wartawan online, seperti dilaporkan kantor berita nasional ANP.

Wali kota di sejumlah wilayah berjanji mengambil langkah darurat dalam upaya pencegahan gangguan yang lebih luas.

“Ini tak bisa diterima. Semua orang normal akan menganggapi ini mengerikan,” kata perdana menteri kepada wartawan.

“Apa yang mendorong orang-orang ini tidak ada hubungannya dengan persoalan protes, ini kekerasan kejahatan dan kami akan menanganinya sesuai hukum yang berlaku.”

Baca Juga  Tinggalkan BPJS Kesehatan, Warga Lahat Berobat Pakai KTP dan KK

Pemerintah Belanda telah mengambil langkah-langkah terberat sejak pandemi berlangsung – termasuk pembatasan aktivitas malam malam hari mulai pukul 21:00 – 04:40 waktu setempat.

Kebijakan pembatasan jam malam di Belanda ini pertama kali diberlakukan sejak Perang Dunia Kedua.

Mereka yang melanggar aturan ini akan dikenakan denda sebesar €95 atau sekitar Rp.1,5 juta.

Bar dan restoran di seluruh Belanda ditutup sejak Oktober, sementara sekolah dan toko non-esensial ditutup akhir bulan lalu.

Larangan terbang dari Inggris, Afrika Selatan dan Amerika Selatan telah diberlakukan, karena kekhawatiran penyebaran virus corona varian baru.

(red/kcm)