Kesultanan Jailolo Gelar Upacara Adat Mandi Safar

oleh -88 views
Link Banner

Porostimur.com | Jailolo: Mandi Safar menjadi ritual rutin warga Desa Lako Akediri dan Marimabati di Kabupaten Halmahera Barat. Ritual yang jatuh setiap bulan Safar itu, merupakan perpaduan budaya dan Islam, untuk memohon berkah. 

Bagi warga Lako Akediri dan Marimabati, Rabu itu adalah hari spesial. Di mana menjadi Rabu terakhir di bulan Safar atau bulan kedua tahun Hijriah. Hari itu, warga bersiap untuk menceburkan diri bersama-sama di Pantai. Oleh warga setempat,tradisi itu diberi nama mandi Safar.

Ritual mandi Safar yang biasa dilakukan leluhur adat Sahu dan Kesultanan Ternate di Pantai wisata desa Lako Akediri itu dilakukan kembali oleh Masyarakat adat Lako Akediri Rabu, 30 Oktober 2019 siang tadi.

Hadir dalam moment tersebut Sangaji Sahu Ahmad Zakir Mando, dan Sri Sultan Jailolo, Risno Ahmad Abdullah Syah.

Ketua Panitia Kegiatan Mandi Safar, Saiful Husen, dalam laporan ketua panitia yang dibacakan Jardin En, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan guna melestarikan adat dan budaya mandi Safar yang dahulu pernah dilakukan tetapi belakangan telah hilang. Dengan itu, pada momentum Hari Ulang tahun Pantai Wisata, Desa Laki Akediri ke 1, maka agenda tersebut kembali dilakukan.

Baca Juga  Monita Tahalea Gandeng Theoresia Rumthe di Album Dari Balik Jendela

Sementara Sri Sultan Jailolo dalam sambutan mengaku mengapresiasi pemuda dan masyarakat desa Laki Akediri atas kelestarian wisata. Diharapkan, upaya baik dalam pelestarian budaya agar lebih ditingkatkan.

Terlebih kepada pemerintah desa untuk saling menjalin hubungan dengan pemerintah daerah yakni dinas pariwisata agar lebih kreatif untuk menambahkan unsur kegiatan yang lain guna dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke lokasi wisata ini.

Semenatara Wakil Bupati yang juga sangaji Sahu Ahmad Zakir Mando, dalam sambutannya menjelaskan tentang makna adat secara hakiki. Dia menyebut istilah adat yang dalam dalam pemaknaannya agartetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat dan seluruh pihak yang menjunjung tinggi akan pelestarian adat tersebut.

Baca Juga  Perbedaan strategi ekonomi Jokowi-JK dibanding pendahulunya

Menurut Zakir dalam kapasitas sebagai Sangaji Sahu mengatakan, adat dalam pemaknaan secara simbol adalah etika. Dengan itu, seluruh pihak diharapkan tetap menjunjung keberadaan adat tersebut guna apa yang ditinggalkan leluhur tetap dilestarikan.

Sementara Bupati Danny Missy, yang mewakili Staf Akhli Markus Saleky, dalam sambutanya, mengaku keterbatasan insfastrutur bukan menjadi penghalang dalam pembangunan pariwisata di desa Laki Akediri, pemerintah bakal terus berupaya mengasah kreativitas aparat pemerintah daerah dan masyarakat untuk menampilkan keunikan potensi keindahan wisata pantai yang ada di desa Laki Akediri.

Dia berharap wisata pantai desa Laki Akediri bukan hanya sekedar seremonial, tapi bisa menjadi pemicu untuk melahirkan kreativitas dalam mengembangkan wisata pantai desa Laki Akediri.

Baca Juga  Daftar Lengkap Klub Peserta Liga 1 Indonesia Musim 2020, Indonesia Timur Hanya PSM dan Persipura

Amatan wartawan, ritual mandi adat dengan cara, memulai Sangaji Sahu, dan Sry Sultan menginjakkan kaki di air laut pantai dan diikuti oleh masyarakat adat, serta masyarakat adat dimandikan oleh kedua petinggi adat itu dengan cara menyiramkan air yang diisi dalam bambu air tersebut.

Hadir dalam Acara itu, Kapolres Halbar diwakili oleh wakapolres Kompol Angga Aldiansyah SIK, Sultan Jailolo (Abdullah Syah dan Permaisuri), DanSatgas Kodim Persiapan Kab Halbar Kapten Inf Nur Arifin, Para pimpinan SKPD Halbar, Camat Sahu Djalal fara S.Hut, Danramil Jailolo di wakili oleh pelda Syarif S, Danramil Sahu di wakili oleh pelda Nurdin kader, Kapolsek Jailolo iptu La Badau, Kapolsek Sahu Ipda A. Kahfi. (red/adhy)