Khansa, Bocah Indonesia yang Taklukkan Gunung Kilimanjaro

oleh -187 views
Link Banner

@porostimur.com | Jakarta: Mendaki gunung kerap diasosiasikan sebagai kegiatan yang identik dengan kaum lelaki, mengingat aktivitasnya sangat menguras tenaga dan membutuhkan stamina yang bagus.

Namun ‘mitos’ tersebut lama-kelamaan pudar dengan sendirinya. Para kaum hawa pun kini sudah banyak yang menggeluti aktivitas ini, bahkan belum lama ini seorang anak perempuan berusia 13 tahun sukses menggapai puncak Gunung Kilimanjaro, pegunungan tertinggi di benua Afrika.

View this post on Instagram

summits to uhuru peak 5.895 m Di Camp Baravu selain kami ada 3 tim lainnya yg akan menuju summit yaitu tim dari Amerika, China dan juga India. Dalam pendakian, strategi harus selalu diperhitungkan secara matang. Dinginnya udara membuat kami memutuskan untuk jalan paling belakangan. Kami tidak mengejar sunrise di Uhuru Peak guna menghindari antrian berfoto yg panjang supaya badan tidak kedinginan. Cuaca juga biasanya cerah dan hangat tepat pukul 7 hingga 9 pagi. Jangan pernah bertanya masih jauhkah puncaknya? Berapa jam lagikah puncaknya ? Jalanlah terus perlahan-lahan, karena setiap perjalanan pasti akan ada ujungnya. Aku selalu ingat apa yg sering my dad sampaikan. "Prinsip bersikap kita dalam suatu pendakian adalah Tenang, Sabar dan Tabah sampai Akhir.." #EigerAdventure #EigerTropicalAdventure #YourTropicalDiscovery #turkishairlines #widenyourworld #obhcombianak #kilimanjaro #mountkilimanjaro

A post shared by @ khansa_summiters on

Anak itu bernama Khansa Syahlaa, Siswi kelas 7 di sebuah sekolah swasta kawasan Jakarta Timur.

Baca Juga  Relawan Maluku Utara Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Pulau Haruku

Sebelum mendaki Gunung Kilimanjaro yang memiliki ketinggian 5.895 mdpl itu, Khansa telah ‘menamatkan’ seven summit di Indonesia pada tahun 2017. 

Tak hanya itu saja, ia juga telah melewati tiga dari tujuh rute pendakian terpanjang di Indonesia yakni Leuser, Gandang Dewata, dan Argopuro.

Di balik pencapaiannya itu, Khansa tak mendapatkannya secara instan dan ringan. 

Banyak hal dan beragam bentuk latihan yang harus ia lalui sejak usianya lima tahun. Bahkan ia masih memegang rekor dunia sebagai pendaki termuda di puncak Cartenz.

Selama masa berlatihnya itu Khansa sangat didukung oleh ayahnya, Aulia Ibnu atau yang akrab disapa Ibnu.

Ibnu, yang kini kerap diminta mengisi seminar tentang membimbing anak terkait kegiatan mendaki gunung, menuturkan sama sekali tidak memiliki ambisi apapun terhadap prestasi putrinya itu.

Baca Juga  Ketika Bajak Laut Amatiran Terdampar di Tual "Kapal Goyang Kapten"

“Yang motivasinya tinggi ya Khansa sendiri, saya cuma menemani dan mengantar saja,” ujar Ibnu kepada CNNIndonesia.com, beberapa saat lalu.

“Saya hanya ingin memiliki anak yang mandiri, berani, dan mengenal alam Indonesia.”

Ibnu kemudian bercerita tentang pengalamannya mendaki gunung pertama bersama Khansa. 

Baca Juga  Habib Rizieq Rencanakan Datangi Polda Metro Jaya Pagi Ini

Ia masih ingat pendakian pertama Khansa dilakukan di Gunung Gede, Jawa Barat. Itu pun tidak langsung sampai puncak, karena Ibnu hanya menerapkan konsep mengubah tempat bermain putrinya ke alam terbuka.

Ibnu bahkan tidak memaksakan putrinya untuk mencapai titik tertentu. Prinsipnya semua yang dilakukan harus bisa membuat anak gembira dan pastinya aman.

“Jangan pernah memaksa anak, mulai dari yang dekat saja dulu sesuai dengan kemampuan fisik anak. Kesan pertama harus menyenangkan dan sebagai orang tua haru memberikan contoh, jangan cuma ngomong aja tapi gak dilakuin,” katanya.

“Tapi yang tidak boleh ditawar-tawar adalah prosedur keamanan dan keselamatan, jangan pernah mengajarkan hal yang tidak tepat terkait hal ini.”

Selain itu, ia menambahkan, hal yang tidak boleh diabaikan adalah makanan, jam beraktivitas, hingga perlengkapan kesukaan seperti mainan anak juga harus dibawa dalam proses pembelajaran ini. 

Bagi Ibnu inti dari kegiatan mendaki gunung bersama anak adalah memberikan pemahaman terhadap anak untuk bersikap, hal ini jelas akan berimbas kepada mentalnya. 

“Bagi saya peran orang tua dalam pendakian adalah hanya mengantarkan sampai ke titik di mana sang anak mau berhenti kamu mau berhenti. Yang penting proses sudah dilalui dengan baik,” katanya. (red)