Kisah Abu Nawas yang Dikenal Cerdas, Kocak, tapi Religius

oleh -370 views
Ilustrasi karikatur Abu Nawas. Foto: Lazis Sabilillah

Walibah dikenal dengan puisi-puisinya yang homoerotik, tidak bermoral, tetapi sangat fasih, terampil, menggunakan diksi-diksi yang ringan, tajam, dan jenaka. Hal ini juga yang menjadi ciri khas dari puisi Abu Nawas.

Dinukil dari buku Biografi Tokoh Sastra karya Ulinuha Rosyadi, karier Abu Nawas di dunia sastra semakin berkembang pesat setelah kepandaiannya menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya diangkat menjadi penyair istana.

Selain itu, Abu Nawas juga diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya adalah mengubah puisi puji-pujian untuk khalifah. Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidup Abu Nawas benar-benar penuh warna.

Kegemarannya dalam bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi, seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Bahkan nama Abu Nawas tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski dikenal ngocol, ia adalah sosok yang jujur.

Syair Terakhir Abu Nawas yang Masyhur

Dinukil dari buku Menangislah Agar Surga Merindukanmu karya Saiful Hadi El-Sutha, Abu Nawas meninggalkan syair yang menggambarkan penyesalannya akan perbuatan di masa lalu. Berikut penggalan syairnya yang masyhur:

Baca Juga  Prancis vs Spanyol: Duel Ketajaman Les Bleus Kontra Tembok Kokoh La Roja Perebutkan Tiket Final

Ya Allah, tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu
Akan tetapi aku juga tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka limpahkanlah taubat kepadaku dan ampunilah dosa-dosaku
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa lagi Maha Agung

No More Posts Available.

No more pages to load.