Kondisi Ekonomi Indonesia Kian Berat, IMF Pangkas Proyeksi

oleh -58 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | Jakarta: Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2019 sebesar 0,1 persentasen poin menjadi 3,2 %. Selain itu IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 menjadi 3,5%.

Masuk ke regional, Bank Dunia atau The World Bank meramalkan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang turun ke level terendah dalam empat tahun sebesar 4% pada tahun 2019.

Poinnya seperti dilansir dari CNBC Indonesia, ekonomi global bermasalah. Semua melambat.

Link Banner

Sejumlah negara berupaya mengatasi dampak tekanan finansial dan ketidakpastian politik. Hambatan tersebut membuat pertumbuhan perdagangan global juga menjadi yang terlemah pada tahun 2019 sejak krisis keuangan satu dekade yang lalu.

Perang dagang menjadi masalah utama saat ini. Cina dan AS sebagai dua kekuatan ekonomi dunia tengah `berperang`. Hal ini membuat negara lain mendapatkan sentimen buruk dalam proses ekspor-impor.

Indonesia Loyo, Data Tak Bisa Bohong

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2019 berada di level 5,05% secara tahunan (year-on-year/YoY). Hal ini diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari Senin (5/8/2019).

Baca Juga  Siaga, Damkar himbau masyarakat batasi pemekaian listrik berlebihan

Angka pertumbuhan tersebut jauh melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (kuartal II-2018) yang sebesar 5,27% YoY. Ini juga merupakan laju pertumbuhan ekonomi yang paling kecil sejak kuartal II-2017.

Berdasarkan data dari BPS, sudah sejak kuartal II-2018, perekonomian RI berada dalam tren perlambatan.

Akan tetapi pertumbuhan ekonomi kali ini mendapat hambatan dari komponen Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB). Pasalnya, pertumbuhan PMTB di kuartal II-2019 hanya sebesar 5,01% YoY, atau jauh lebih lambat dibanding pada kuartal II-2018 yang mencapai 5,85% YoY. Perlambatannya sebesar 0,84 persentase poin.

Bahkan, hanya bangunan saja yang tercatat mengalami kenaikan pertumbuhan, dari 5,02% YoY (kuartal II-2018) menjadi 5,46% YoY (kuartal II-2019). Hal itu terjadi karena maraknya proyek pembangunan infrastruktur di beberapa daerah. Sisanya melambat atau terkontraksi.

Kontraksi paling dalam terjadi pada barang modal jenis Peralatan Lainnya, yaitu sebesar 0,65% YoY. Padahal pada kuartal II-2018, komponen ini masih bisa tumbuh hingga 7,21%.

Sementara itu barang modal jenis kendaraan juga terkontraksi sebesar 0,04% YoY, berbalik arah dari kuartal II-2018 yang mana mampu tumbuh hingga 8,01%.

Baca Juga  Satgas Yonif RK 732/Banau, Kolakops Rem 151, Hadiri Tradisi Pengukuhan Raja Negeri Adat Saleman

Penurunan pertumbuhan barang modal jenis kendaraan juga dipengaruhi oleh angka penjualan kendaraan yang lesu sepanjang kuartal II-2019. Penjualan mobil terkontraksi lebih dari 10% YoY pada periode tersebut.

Perlu diketahui bahwa komponen PMTB erat kaitannya degan investasi dan ekspansi usaha.

Ekonomi Berat

Seperti dilansir CNBC Indonesia dan law-justice.co, sejumlah analis dan pengamat ekonomi berpendapat mengenai ekonomi Indonesia yang berat sekaligus tantangannya. Direktur Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan kondisi ini dialami oleh hampir seluruh negara.

“Tantangannya sama beratnya, yaitu ekonomi dan pasar keuangan global yang semakin sulit diprediksi arahnya. Oleh karena itu pertahanan pertama adalah menjaga stabilitas, tetapi pada saat yang sama perlu memanfaatkan ruang (policy space) untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi global melalui peningkatan stimulus dari moneter dan fiskal,” jelas Nanang.

Sementara ekonom dari Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan, dari pasar finansial ketidakpastian global yang tinggi berdampak pada perekonomian dalam negeri. Ia bilang, ekonomi Indonesia memang kuat secara domestik lantaran ditopang konsumsi dan investasi, namun “outlook” ke depan juga bakal dipengaruhi arus modal.

Baca Juga  Dua Pemain Juventus Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

“Karena ketegangan geopolitik maupun perang dagang, banyak investor, atau fund manager global, yang memilih mengamankan asetnya dalam bentuk “cash” daripada menginvestasikan ke sektor riil. Perusahaan yang memiliki uang lebih tidak menginvestasikan dalam bentuk “capex”, namun memilih melakukan “buyback” saham di pasar modal. Harga aset seperti saham menjadi “overvalued”, “volatile”, dan rentan terhadap koreksi. Hal ini menimbulkan “risk-aversion” di pasar global yang kemudian menyebabkan ketatnya likuiditas ke seluruh negara, apalagi negara berkembang seperti Indonesia,” jelas Satria.

Ia pun melanjutkan, porsi kepemilikan asing yang tinggi di pasar saham dan obligasi yakni sekitar 40%, Indonesia cukup dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Ketatnya likuiditas dapat menyebabkan perusahaan domestik kesulitan untuk mendapatkan dana untuk mengembangkan bisnisnya. Hal ini bisa memengaruhi kondisi makro Indonesia. Pemerintah dan Bank Indonesia harus tetap waspada terhadap risiko global.(red/cnbc/lj)