Konflik Papua: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

oleh -18 views

Oleh: Darwin Darmawan, Pendeta GKI, Mahasiswa doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia

BANGSA, menurut Benedict Anderson, adalah “an imagined political community-and imagined as both inherently limited and sovereign” (sebuah komunitas politik yang dibayangkan- dan dibayangkan baik terbatas sekaligus berdaulat) (1991: 6).

Ya, bangsa adalah imaji, sebab sebagian besar warganya tidak saling tahu. Mereka juga tidak pernah bertemu. Pun demikian, dalam bayangan mereka, ada bayangan sebuah komunitas yang satu.

Sebagai imaji, gagasan tentang bangsa sesungguhnya lebih tepat dimengerti sebagai aspirasi ketimbang deskripsi (Priyono 1999: 176).

Maksudnya, ikatan dan loyalitas warga bangsa bukan hal yang sudah jadi. Tidak juga terbentuk secara alami.

Sebaliknya, integrasi bangsa sangat bergantung dari aspirasi warganya: apakah mereka sungguh-sungguh menerima dan diterima sebagai bagian dari bangsa?

Baca Juga  Ribuan Warga Yogyakarta Gelar Salat Iduladha

Jika fokus dan sudut pandangnya negara, aksi kekerasan sebagian masyarakat Papua bisa dilihat sebagai separatisme.

Namun, aksi mereka bisa juga dilihat dengan simpatik: mereka meredefinisi arti Indonesia sebagai bangsa. Karena merasa belum diterima sebagai orang Indonesia, mereka menolak kedaulatannya.

Jika dari sudut pandang negara, mereka dianggap tidak cinta bangsa, dari sudut pandang orang Papua, negara yang tidak mencintai mereka. Jadi, dari sudut pandang masing-masing merasa, cintanya bertepuk sebelah tangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.