Kopassus Tak Lagi 20 Besar Terkuat di Dunia, Pakar Militer Soroti Visi Jokowi: Latihan Saja Tak Bisa

oleh -87 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Pengamat militer Connie Rakahundini Bakrie menyoroti kekuatan tentara Indonesia saat ini, terutama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Connie menilai perkembangan kekuatan militer Indonesia sangat dipengaruhi visi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) di TvOne, Selasa (1/9/2020).

Pakar militer Connie Rakahundini Bakrie menyoroti Kopassus kini tidak lagi menjadi pasukan 20 besar terkuat di dunia, dalam ILC, Selasa (1/9/2020).
Pakar militer Connie Rakahundini Bakrie menyoroti Kopassus kini tidak lagi menjadi pasukan 20 besar terkuat di dunia, dalam ILC, Selasa (1/9/2020). (Capture YouTube Indonesia Lawyers Club)

Awalnya ia mengungkit hal yang membuat Kopassus tidak lagi menjadi satu dari 20 pasukan paling ditakuti di dunia.

Link Banner

“Kopassus itu semua di dunia tahu, bagaimana powerful-nya Kopassus,” papar Connie.

“Hari ini Google saja, pasukan dunia yang paling mantap dari 20 besar, Kopassus enggak masuk lagi,” ungkapnya.

Ia merujuk pada pernyataan Pahlawan Nasional Jenderal Sudirman yang dikenal sebagai Panglima TNI pertama.

Menurut Connie, saat ini TNI sendiri tidak memiliki wilayah untuk latihan.

Baca Juga  Masyarakat Bisa Adukan Keluhan Lewat Aplikasi Pengawasan Bansos Corona yang Dibuat KPK

“Jadi pertanyaannya adalah kalau Jenderal Sudirman menyatakan kita harus mempertahankan rumah dan pekarangan sendiri,” paparnya.

“Kalau untuk latihan saja sudah tidak bisa, itu bagaimana?” ungkit pakar militer tersebut.

Ia juga mengungkit Perpres Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sempat menuai kritik.

Connie menambahkan, TNI selama ini selalu mengalami keterbatasan tempat untuk latihan.

Ia menyinggung pernyataan Jokowi yang mengubah konsep pertahanan negara menjadi berbasis maritim.

“Negara ini enggak pernah mengubah konsep pertahanannya,” jelasnya.

“Ketika Presiden Jokowi menyatakan di 2014 bahwa negara ini menjadi negara poros maritim dunia, saya menulis di mana-mana,” kata Connie.

Dengan demikian konsep pertahanan TNI menjadi berubah, yakni lebih fokus pada mempersiapkan diri terhadap musuh-musuh dari luar.

Baca Juga  Gubernur Maluku Buka Turnamen Ambon Manise Friendly Golf

“Jadi menghadap ke luar, dipersiapkan ke luar musuhnya. Jelas itu,” tegas dia.

Connie menilai konsep itu tidak diterapkan dengan tidak adanya lahan latihan TNI saat ini.

“Waktu Undang-undang Pertahanan Keamanan 6 dan 7 keluar membagi hitam dan putihnya TNI dan Polri, seolah-olah keamanan dalam negeri itu Polri, keluar itu TNI,” jelasnya.

“Nah, TNI-nya enggak boleh keluar. Itu yang masalah,” tambah Connie. (red/tribun)

Lihat videonya mulai menit 1:00