Kota Baru Pemerintahan Sofifi Kekurangan 20.000 Unit Rumah

oleh -44 views
Link Banner

Porostimur.com | Sofifi:  Backlog (kekurangan) perumahan di Kota Baru Pemerintahan Sofifi, Maluku Utara sangat tinggi. Padahal sebagai ibukota provinsi, ketersediaan perumahan sangat mendasar, terutama bagi aparatur sipil negara (ASN).

Hal itu mengemuka pada Focus Group Discusion (FGD) yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk penajaman rencana teknis pengembangan perumahan umum dan komersial kota baru pemerintahan Sofifi, Maluku Utara, Selasa (15/10) lalu.

“Sebagai Ibukota Provinsi Maluku Utara, rumah bagi ASN di Kota Sofifi menjadi sangat mendasar. Infrastruktur pendukung sudah mulai disiapkan terutama pengembangan jaringan jalan dan penyediaan air bersih untuk kebutuhan kota,”kata Djafar Ismail, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Maluku Utara kepada porostimur.com, Sabtu (2/11/2019).

Kota Baru Sofifi sendiri merupakan salah satu sasaran pengembangan wilayah pada tahun 2015-2019. Pembangunan kota baru yang mandiri dan terpadu di sekitar kota atau kawasan perkotaan metropolitan di luar Pulau Jawa – Bali diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan diarahkan sebagai pengendali urbanisasi di kota.

“Peran pemerintah dalam bidang perumahan adalah sebagai regulator, termasuk di dalamnya penyusunan dokumen perencanaan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, serta supplier perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan aparatur pemerintah,” kata Arbai, Kepala Subdit Fasilitasi Penyediaan Lahan Perumahan yang hadir mewaikili Direktur Rumah Umum dan Komersial.

Baca Juga  Design Band Tampil Memukau di Malam Peluncuruan Album Hitam Putih

Adapun kendala dalam pengembangan kota baru Sofifi adalah tingginya jumlah backlog (kekurangan) perumahan di Sofifi, terutama bagi ASN. Berdasarkan data dari pemerintah daerah Provinsi Maluku Utara, saat ini rumah yang tersedia untuk ASN adalah sebanyak 390 unit. Rumah itu berupa rumah susun dan rumah dinas. Sementara jumlah ASN yang bekerja di Sofifi adalah sebanyak 4.650 orang. Sehingga jumlah backlog di Sofifi adalah sebesar 4.260 unit.

Selain itu, minimnya sarana prasarana kota seperti listrik, telekomunikasi, pendidikan, dan kesehatan sebagai daya tarik aglomerasi untuk tinggal dan beraktivitas, membuat sebagian besar ASN belum tinggal di Sofifi dan lebih memilih untuk melakukan commuting dari Ternate ke Sofifi.

“Isu pengembangan kota baru Sofifi adalah belum terciptanya sinergitas kawasan permukiman dengan pusat-pusat aktivitas Kota Sofifi, seperti pusat pemerintahan dengan pusat sosial-ekonomi, serta transportasi public,” jelas Agus Setiawan, konsultan pendamping Direktorat Rumah Umum dan Komersial.

Baca Juga  Fakta Lagu "Party in the USA" Miley Cyrus yang Bergema di Kemenangan Joe Biden

Stevanus dari Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW), mengatakan kendala yang dihadapi saat ini, Kota Baru Sofifi hanya berfungsi untuk aktivitas pemerintahan. Sementara para ASN masih memilih tinggal di Ternate, sehingga kurang memberikan multiplier effect bagi berkembangnya aktifitas lain.

Menurut Stevanus, diperlukan komitmen daerah untuk mendorong percepatan pembangunan kota baru Sofifi, serta koordinasi pembangunan antara kementerian/lembaga (K/L) terkait dengan pemerintah daerah dalam hal penyediaan prasarana-sarana skala provinsi. Selain juga pembagian peran antara Kota Sofifi, Ternate, dan Tidore sehingga tercipta pemerataan pertumbuhan wilayah.

Taufiq Hidayat, Associate Director Ciputra Group, berpendapat ada beberapa skema yang dapat dilakukan antara pemerintah dan swasta di bidang infrastruktur di Sofifi, di antaranya adalah skema KPBU, KSO, dan Joint Venture, dengan masing-masing pihak melakukan penyertaan modal. “Perlu adanya keterpaduan koordinasi antar institusi pemerintah, ekspansi dan pengembangan infrastruktur yang terintegerasi dengan RTRW untuk mendorong keterjangkauan harga rumah, kerjasama pembiayaan dengan bank untuk pengadaan lahan, serta pengendalian harga tanah,” kata Taufiq”

Baca Juga  Masohi Diguncang Gempa dengan Magnitudo 3,4

Perencanaan teknis perumahan akan diprioritaskan pada lahan-lahan yang dibebaskan oleh pemerintah provinsi dengan peruntukan untuk perumahan ASN, yaitu pada Desa Guraping dengan luas sekitar 25 ha, Kelurahan Sofifi dengan luas sekitar 3 ha, dan desa Ampera seluas sekitar 5 ha.

Kebutuhan perumahan di Kota Sofifi untuk 20 tahun mendatang akan diarahkan sebagai kota kecil dengan jumlah maksimal penduduk 200.000 jiwa. Dengan demikian estimasi jumlah tambahan  kebutuhan perumahan adalah sekitar 4.138 untuk perumahan ASN, dan 16.065 unit untuk rumah umum. Potensi lahan yang dapat dikembangkan masih cukup tersedia yaitu sekitar 704,52 ha.(red/rtl/she/adhy)