Kriminalitas di JMP: 2021 Dua Kasus Pembunuhan

oleh -142 views
Link Banner

Oleh: M. J Latuconsina, Akademisi Unpatti Ambon

Dalam bukunya yang berjudul “Sosiologi Perkotaan, Memahami Masyarakat Kota dan Problematiknya”, yang dipublis pada tahun 2015 lalu Adon Nasrullah Jamaluddin menyebutkan bahwa, masyarakat kota yang serba kompleks telah memunculkan beragam masalah sosial, salah satunya adalah kriminalitas.

Menurutnya kriminalitas dapat dikatakan sebagai muara dari problematika perkotaan. Hal ini karena terjadinya tindakan kriminal secara sosiologis terkait dengan masalah jumlah penduduk, jumlah industri, jumlah pengangguran, dan jumlah kemiskinan dalam masyarakat.

Narasi tersebut merupakan pendapat dari seorang sosiolog, yang tentunya tidak lahir begitu saja melainkan berdasarkan riset yang dilakukannya secara komprehensif.

Dalam konteks Kota Ambon bisa saja kriminalitas yang terjadi khususnya di Jembatan Merah Putih (JMP) salah satunya disebabkan oleh aspek-aspek tersebut. Namun untuk memastikannya tentu perlu adanya studi yang komprehensif dari aspek sosiologis, sebagai jawaban yang valid atas fenomena yang terjadi. Sehingga tidak terkesan subyektif dan menimbulkan ketersinggungan dari para stakeholder terkait.

***

JMP adalah jembatan kabel pancang yang terletak di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Jembatan ini membentangi teluk dalam Pulau Ambon, yang menghubungkan Desa Rumah Tiga (Poka) di Kecamatan Sirimau pada sisi utara, dan Desa Hative Kecil/Galala di Kecamatan Teluk Ambon pada sisi selatan. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia Timur, menjadi bagian dari keseluruhan tata ruang Kota Ambon, dan menjadi ikon kota Ambon. Dibangun sejak 17 Juli 2011, JMP menelan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp 779,2 miliar.

Jembatan ini diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 4 April 2016. Pembangunan Jembatan Merah Putih ini mempercepat waktu tempuh perjalanan antara Bandara Pattimura di Jazirah Lei Hitu, Maluku Tengah di utara, dan pusat Kota Ambon di Jazirah Lei Timur di selatan.

Baca Juga  Tiba dengan Pesawat Hercules, 81 Orang Pengungsi Wamena Ditampung di Lanud Pattimura Ambon

Sebelum ada Jembatan Merah Putih, jarak Bandara Internasional Pattimura ke Kota Ambon yang berkisar 35 kilometer harus ditempuh selama 60 menit dengan memutari Teluk Ambon. Alternatif lain adalah dengan menggunakan kapal penyeberangan (ferry) antara Desa Rumah Tiga (Poka) dan Galala dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, belum termasuk waktu antre. (Wikipedia.org, 2021).

Kehadiran JMP selain mengefektifkan dan mengefesienkan perhubungan, juga menjadi tempat bagi warga Kota Ambon untuk sekedar singgah, foto dan jogging dengan view yang indah. Jika sore tiba melihat matahari yang terbenam dari atas JMP, begitu pula malam melihat gemerlap indahnya kota yang bertajuk manise ini.

Di luar hal-hal baik baik dari JMP tersebut, terkadang kita mendengar kasus kriminalitas yang terjadi di JMP membuat horror saat malam semakin larut melewatinya. Kata haidai taulan dalam dialek Malayu Ambon, “kalo su malam bajalang bae-bae di atas JMP deng motor skarang jambret banya disitu.

Akibatnya saat mengendarai motor kita menjadi was-was mata lebih banyak ke kaca spion, untuk mengintip sisi kiri dan kanan apakah ada motor yang mencoba menyerempat kita. Jika lewat dengan mobil tidak membuat kita takut, lain halnya dengan motor pada tengah malam. Tentu sesuatu yang tidak menyenangkan dan menenangkan bagi pengguna JMP.

Baca Juga  Aktivitas Kapal Perintis di Pelabuhan Babang Sementara Dihentikan

Rupanya tak hanya horror JMP saja yang pernah kita dengar, tapi juga ada kisah mistis yang pernah kita dengar. Pernah suatu waktu seorang pedagang menjelang subuh hendak melewati JMP dari arah Poka, saat hendak menaiki JMP ia tak melihat lagi jembatan yang membentang dari arah Poka ke Galala tersebut.

Atau juga salah satu tiang pancang JMP, tidak menyentuh dasar laut, lantaran berada pada palung yang dalam, dan hanya menggantung diatas tubir laut tersebut. Itu hanya cerita dari mulut ke mulut yang kita dengar, percaya atau tidak dikembalikan kepada pribadi masing-masing.

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mengkonstruksi sesuatu di balik nalar sehat kita, hanya memaparkan sisi masalah kriminalitas yang sering terjadi di JMP.

Dalam setahun ini saja sudah dua kasus pembunuhan yang terjadi di JMP, belum lagi pada tahun-tahun sebelumnya kasus penjambretan atau pun kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jembatan terpanjang di kawasan Indonesia timur tersebut.

Pada 11 Februari 2021 lalu Muhammad Husein Suat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpatti) dianiaya di JMP oleh sejumlah pemuda dengan ditusuk di punggung sebelah kiri. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Tantui, namun dalam perjalanan ia meninggal dunia. Kasus serupa terjadi pada kamis 19 Agustus 2021 lalu, Firman Ali alias La Tole ditemukan tewas di bawah JMP.

Awalnya Firman diduga bunuh diri dan ramai menjadi pembicaraan warga Kota Ambon. Akan tetapi setelah 21 jam penyidik Polresta Pulau Ambon dan PP Lease melakukan penyelidikan terungkap ini merupakan kasus pembunuhan.

Baca Juga  Soal Enam Desa, Pemkab Halut Akan Ajukan Judicial Review

Hal ini didasarkan pada luka-luka korban, ada bekas tanda penganiayaan pada beberapa bagian tubuhnya. Pelaku pembunuhan terhadap Firman adalah dua rekannya, berinisial R dan A. Awalnya dia dianiaya di atas JMP. Setelah korban tak sadarkan diri, dua pelaku melemparkanya dari atas JMP. Dua kasus ini sangat memprihatinkan kita, karena berselang delapan bulan dari kasus pembunuhan pertama terjadi di JMP, muncul lagi kasus serupa di JMP.

Pemerintah Kota Ambon sejak lama memiliki god wil, untuk mengantisipasi kejadian serupa, dengan menambah Closed Circuit Television (CCTV) di area JMP dari empat unit milik Balai Jalan dan Jembatan, yang disertai akses terhadap CCTV, itu, sayangnya belum direspon secara baik oleh Balai Jalan dan Jembatan.

Pasalnya penambahan pemasangan CCTV di JMP dan akses terhadap CCTV itu merupakan wewenang Pemerintah Pusat, sehingga perizinannya dari Pemerintah Pusat.

Kebuntuan perizinan itu, tentu perlu direspon oleh para stakeholder pada level eksekutif dan legislatif, agar bisa mengupayakannya.

Penambahan jumlah CCTV pada titik rawan di JMP harus juga diikuti dengan pencahayaan lampu di JMP yang lebih terang di waktu malam. Begitu juga aparat kepolisian perlu secara rutin melakukan patroli di sekitar JMP. Namun tentunya harus disupprot dengan anggaran yang optimal, sehingga bisa terlaksana dengan baik. Hal ini merupakan ekspetasi warga Kota Ambon agar dapat menciptakan JMP yang aman dan nyaman. (*)