Kusimpan Kau Dalam Doaku

oleh -31 views
Link Banner

Cerpen Karya: Jane Yulianda

Yang kuingat dari dirinya adalah wangi bunga disela rintik hujan. Senyum secerah kelopak bunga basah, dan suara yang kudengar bagai senandung gerimis lemah, aku ingat dia dan selalu mengingatnya bersama jejak langkah yang semakin memudar.

Matahari telah terbit dari ufuk timur, dingin embun pagi hari, kicauan burung-burung seolah-olah ikut bertasbih atas keindahan Ilahi. Perkenalkan namaku Adinda Zahra Maulida, aku biasa dipangil Dinda, aku duduk di bangku kelas 12 jurusan bahasa. Sejak kecil aku sudah dibekali ilmu agama oleh ibu dan ayahku.

Harapan mereka agar aku tumbuh menjadi pribadi yang religius. Hingga sekarang aku selalu menjaga amanat dari ibu dan ayah. Mungkin hanya aku dari sekian banyak remaja sekarang yang belum pernah merasakan apa itu pacaran.

Link Banner

Hingga tak jarang teman-temanku mencemoohku dengan mengatakan “jelas gak pernah pacaran mana ada yang mau sama gadis tirai berjalan” cukup jelas bukan apa itu tirai berjalan. Apa ada yang salah dengan penampilanku ini. Kelak akan tiba zaman ketika hal yang baik akan dianggap aneh, dan hal yang buruk akan dianggap biasa.

Baca Juga  Hadang Mobil Kapolsek Pelabuhan Bitung, Angki Meringkuk di Dalam Sel

Seperti sekarang aku dinggap aneh dengan pakaian syar’i, hijabku memang panjang menutupi pusar. Bukankah kita harus mengikuti apa yang Allah perintahkan.

Hingga suatu hari imanku yang saat itu memang masih mudah goyah dan gampang terpengaruh perkataan orang. Saat itu aku sedang mewakili rapat organisasi remaja NU aku bertemu ikhwan yang bernama Akbar. Banyak akhwat yang mengaguminya termasuk aku.

Ia kujadikan semangatku untuk terus hadir saat kajian, yang kukagumi darinya adalah bagaimana saat ia benar-benar menjaga pandangan terhadap yang bukan mahram. Setiap kajian ia yang menjadi pembuka dengan membaca Al Qur’an.

Kudengar dari teman-temanku ia seorang hafizd. Awalnya rasa ini hanya sebatas kagum tetapi lama-kelamaan rasa ini berubah setelah ia menjadi menjadi pembimbingku. Kami menjadi sering bertemu untuk saling sharing dan membahas islam lebih dalam.

Baca Juga  Koalisi 11Parpol Ancam Lapor Bawaslu Kepulaun Sula ke DKPP

Suatu malam aku mendapat telepon dari Akbar.
“assalamualaikum ukhti”
“waalaikumsalam, ada apa ya kak?”
“tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya sesuatu denganmu boleh?”
“boleh saja kak.”
“Alhamdulillah jika baik sambutanmu, bisakah besok setelah kajian aku ingin berbicara denganmu?”
“bisa saja kak, kebetulan aku besok mau ke perpustakaan ingin mencari referensi tentang kajian islam bisakah kak Akbar membantuku mencari buku?”
“kebetulan sekali aku juga ingin mengajakmu berbicara di perpustakaan besok, baiklah insyaallah aku bisa membantumu, kalau begitu aku tutup ya sampai ketemu besok. wassalamualaikum”
“iya kak waalaikumsalam.”

Betapa saat itu hatiku begitu senang, tak pernah aku merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Rasanya tak sabar untuk bertemu dengannya besok.

Besok pun tiba, usai shalat maghrib aku berjalan ke perpustakaan dekat dengan masjid tempatku kajian. Aku melihat kak Akbar tengah duduk sedang membaca buku, kuhampiri dia “assalamualaikum kak maaf membuat kakak menunggu.”
“waalaikumsalam ukhti tak apa aku pun baru sampai.”
“apa yang ingin kakak tanyakan denganku, insyaallah aku bisa menjawab.”
“apakah ukhti dekat dengan Aisyah khairunisa?”
“oh Aisyah iya kak aku memang dekat dengan Aisyah.”
“Alhamdulillah jadi begini ukhti rasanya kurang sopan bila menanyakan hal ini kepada ukhti tapi saya tak cukup berani untuk menyampaikan ini kepada Aisyah langsung.

Baca Juga  BKPRMI Malut Lapor Penghina Nabi Muhammad ke Polda

Saya mengagumi Aisyah, saya kagum pada kepribadiannya, akhlaknya dan kepandaiannya. Saya yang tak ada apa-apanya ini tak berani menyatakan ini kepada Aisyah untuk sekarang, Insyaallah saya sedang berusaha memantaskan diri saya, saya akan menempuh pendidikan di Kairo selama 4 tahun, Insyaallah atas izin Allah saya akan kembali lagi kesini, tolong berikan surat ini untuk Aisyah katakan ini dari saya, sampaikan maaf saya yang bila nanti perilaku saya ini menyakiti hatinya.”

Betapa hancurnya hatiku saat mendengar pengakuannya, betapa bodohnya. (*)