Kutip Ayat Alquran Surat Al-Imran, Presiden Rusia Ajak Hentikan Perang

oleh -149 views
Link Banner

Porostimur.com | Ankara: Presiden Rusia Vladimir Putin meminta supaya perang dihentikan di Yaman. Ia pun mengutip sebuah ayat Alquran surat Al-Imran yamg intinya mengingatkan semua pihak akan bahaya perang dan bersegeralah untuk berdamai.

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara,” kata dia, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa, 17 September 2019.

Pernyataan Putin ini diungkapkan ketika berbicara di Ankara bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani, Senin, 16 September 2019, waktu setempat.

Perang di Yaman telah berlangsung selama lebih dari empat tahun. Konflik antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi itu telah menewaskan puluhan ribu korban jiwa dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah.

Referensi Putin terhadap ayat suci Alquran tersebut dicatat dengan persetujuan dari Erdogan dan Rouhani, yang masing-masing adalah Muslim Sunni dan Syiah. Putin juga mereferensikan ajaran Alquran lain, tentang bagaimana kekerasan hanya sah jika digunakan untuk membela diri.

Baca Juga  Wujudkan kepemimpinan SANTUN, Perjanjian Malino jadi pedoman
Presiden Erdogan dan Putin

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman saling berkomunikasi terkait serangan teroris ke dua kilang minyak milik Aramco, Abqaiq dan Khurais, pada Sabtu, 14 September 2019.

Ia bahkan mengaku tahu siapa dalang di balik serangan pesawat nirawak (drone) terhadap kilang minyak Arab Saudi. Donald Trump juga mengaku siap mengirim bala tentara untuk merespons serangan tersebut.

Kendati demikian, jadi atau tidaknya aksi militer AS tergantung dari konfirmasi Arab Saudi. Meskipun serangan terhadap dua fasilitas kilang minyak Arab Saudi diklaim oleh pemberontak Houthi Yaman, tetapi AS bersikukuh menuding Iran sebagai pelakunya. (rtl/red/viva)