Lagi, Oknum Polisi Cabul Beraksi di Malut, Kali ini 2 Bocah Kakak Beradik Jadi Korban

oleh -440 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Halmahera Tengah, Maluku Utara, dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap dua anak di bawah umur. Kedua korban tak lain adalah anak tiri dan adik ipar pelaku.

Mirisnya, aksi bejat pelaku mendapat dukungan dan bantuan istrinya.

Kasus ini kembali mencoreng muka Polda Malut. Pasalnya, belum lama ini Briptu Nikmal Idwar, anggota Polsek Jailolo Selatan juga diproses hukum lantaran memperkosa seorang remaja di Mapolsek.

Terduga pelaku anggota Polres Halteng berinisial G (40 tahun) diduga telah mencabuli korban pertama yang merupakan anak angkat istrinya, M. Korban J (15 tahun) dicabuli sejak 2019, saat korban berusia 13 tahun dan masih duduk di bangku SD.

Sedangkan korban L (16 tahun) yang merupakan adik kandung M diperkosa sekali oleh pelaku.

Yulia Pihang, perwakilan Front Suara Korban Kekerasan Seksual (FSKKS) Halmahera Utara yang mendampingi kedua korban menyatakan, pencabulan terhadap J dilakukan berulangkali.

Pelaku pertama kali melancarkan aksi cabul terhadap korban pada 2019, saat korban diajak berkunjung ke kampung halaman pelaku di Kota Tidore Kepulauan. Aksi bejat itu dilakukan di ruang tamu pada siang hari ketika rumah sedang sepi.

Tindakan kekerasan seksual terhadap korban berikutnya masih dilakukan saat siang dan bertempat di Tidore, tepatnya di kosan pelaku. Sebelumnya, korban diajak ke lokasi tersebut oleh pelaku. Korban yang takut dan berada di bawah tekanan karena pengalaman yang telah dialami di rumah pelaku pun ikut.

Selanjutnya, setelah kembali ke kampung korban yang ada di Halmahera Utara, pelaku kembali menjalankan aksi bejatnya itu. Kali ini, tindakan pencabulan pelaku dibantu istrinya.

Pada malam hari ketika akan tidur, korban dipanggil ibunya untuk masuk ke kamar mereka. Di dalam kamar sudah ada pelaku yang menunggu.

Baca Juga  Polres Buru Gelar K2YD di Seputaran Kota Namlea

Di sanalah pelaku kembali mencabuli korban. Korban sempat melakukan perlawanan, namun sia-sia karena fisik pelaku yang besar dan kuat.

Aksi terakhir pelaku dilakukan pada Minggu, 2 Mei 2021, di tempat wisata yang ada di sekitar kampung korban. Saat itu seluruh keluarga sedang berlibur ke pantai tersebut.

“Sebelumnya, pelaku dan istrinya sempat mengonsumsi tiga botol minuman keras. Jelang sore, pelaku bolak-balik mengantarkan keluarga kembali ke rumah. Saat semua keluarga sudah pulang, hanya tersisa korban dan ibunya yang masih menunggu pelaku kembali untuk menjemput mereka,” tutur Yulia, seperti dilansir dari tandaseru.com, Selasa (29/6/2021).

Sekitar pukul 19.00, pelaku kembali ke lokasi, tapi mereka tidak langsung pulang. Pelaku dan istrinya kembali melancarkan aksi pencabulan terhadap korban.

Selain itu, sejak 2019, setiap melakukan hubungan seksual, pelaku dan istrinya selalu memaksa melibatkan korban demi memenuhi fantasi seksual pelaku.

Korban Kedua

Tak hanya J yang mendapat perlakuan tak menyenangkan dari G dan M. Korban L yang secara biologis merupakan kakak kandung J juga mengalaminya.

Pada Agustus 2020, pelaku mengajak kedua korban pergi makan ke rumah makan yang ada di kampung sebelah. Keduanya menolak untuk ikut, tapi pelaku merayu dan memaksa. Sekitar pukul 01.00 dini hari, mereka pergi menuju ke kampung yang dituju, namun di tengah perjalanan ternyata pelaku mengelabui mereka dan memutar arah ke pantai.

Korban J sempat menanyakan ke pelaku tentang tujuan mereka ke tempat itu, tapi pelaku berkelit tidak apa-apa dan hanya sebentar saja. Saat tiba di lokasi, korban J berpamitan untuk pergi buang air kecil.

“Dan di situ hanya tinggal korban L dengan pelaku yang berdiri di bawah pohon kelapa. Saat itulah korban L yang merupakan seorang difabel disetubuhi oleh pelaku,” ungkap Yulia.

Baca Juga  Kementerian ESDM Tawarkan WKP Telaga Ranu di Tahun ini

Saat pemerkosaan terhadap korban L tengah berlangsung, korban J kembali. Oleh pelaku, korban J pun ikut dicabuli pada saat bersamaan.

“Setelah aksi bejatnya itu selesai, pelaku mengantarkan kedua korban pulang. Itu pun tidak sampai ke rumah. Pelaku menurunkan kedua korban di ujung kampung sekitar jam 5 subuh. Kedua korban pun pulang ke rumah dengan berjalan kaki hampir 1 kilometer,” terang Yulia.

Polda Ambil Alih

Akibat aksi bejat tersebut, kedua korban yang mengalami trauma dan ketakutan bertemu G dan M, yang tinggal serumah dengan korban, sempat melarikan diri ke Halmahera Timur.

Setelah beberapa hari, korban J kembali ke kampung, sedangkan korban L masih bertahan di Haltim karena takut dan trauma dengan tragedi perkosaan yang menimpanya.

Beberapa hari setelah korban J tiba di kampung, ia diajak pelaku pergi membeli buah salak. Kepergian mereka menimbulkan rasa cemburu pada M. Sepulangnya ke rumah, J langsung dipukuli M.

Setelah aksi pemukulan itu, korban J kembali melarikan diri ke Tobelo. Akibat pemukulan itu juga, akhirnya terkuak aksi pencabulan dan perkosaan yang dilakukan pelaku. Korban L pun dipanggil pulang ke kampung.

Pihak keluarga bersepakat melanjutkan kasus itu untuk proses hukum dengan membuat laporan di Polsek setempat. Namun laporan itu ditolak dengan alasan pelaku merupakan anggota Polres Halteng sehingga prosesnya harus di Weda.

Pihak keluarga protes dan mengeluhkan kondisi ekonomi mereka yang tidak memungkinkan untuk bolak-balik dan tinggal di Weda.

Selang 2 hari, anggota Polres Halut menelepon dan memanggil korban beserta keluarga untuk menghadap guna menjalani pemeriksaan. Kasus ini pun dilimpahkan ke Polres Halut.

Laporan resmi pun dimasukkan ke polisi pada 10 Mei 2021 dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor STPL/99/V/SPKT/2021 untuk kasus korban J dan STPL/98/V/SPKT/2021 untuk korban L.

Baca Juga  Konsumsi miras, pacar sendiri dihajar babak belur

“Namun setelah pemeriksan yang sudah berjalan lebih dari sebulan ini, Polres belum juga memberikan konfirmasi mengenai kelanjutan proses penyelidikan dan penyidikannya. Pihak keluarga merasa cemas dan kesal jika kasus ini kemudian tidak dilanjutkan,” kata Yulia.

“Apalagi pelaku yang berstatus sebagai anggota polisi itu masih bebas berkeliaran dan bolak-balik di kampung mereka. Tempat tinggal pelaku dan korban saat ini masih berdekatan, karena korban telah diungsikan oleh ibu kandung ke rumahnya. Hal ini tentu saja sangat mengintimidasi kedua korban. Selain itu, sejauh ini, tidak ada upaya pemulihan psikologi bagi para korban,” jabarnya.

Akhirnya, setelah berdiskusi dan mempertimbangkan kondisi korban, pihak keluarga pun bersepakat melanjutkan proses hukum kasus ini ke Polda Maluku Utara yang ada di Ternate.

“Dengan bantuan dari kawan-kawan Front Suara Korban Kekerasan Seksual Halut yang melakukan penggalangan dana, kedua korban yang didampingi ibu kandung dan tante pun tiba di Kota Ternate untuk melakukan pengaduan dan meminta pendampingan ke Daurmala,” tandas Yulia.

Direktur LSM Daurmala, Nurdewa Safar yang dikonfirmasi tandaseru.com membenarkan jika pihaknya saat ini telah mendampingi kedua korban. Daurmala mendesak Polda agar kasus tersebut diseriusi mengingat tindakan yang dilakukan pelaku dan istrinya terhadap kedua korban terbilang sadis.

“Sudah kami dampingi,” ujarnya.

Polres Halmahera Utara sendiri saat ini telah menyerahkan penanganan kasus tersebut ke Polda Maluku Utara. Namun Kabid Humas Polda Malut, Kombes Pol Adip Rojikan mengaku belum mendapat informasi terkait kasus tersebut.

“Saya belum mendapatkan laporan dari Polres Halut maupun di Polda mengenai laporan tersebut,” katanya singkat.

(red/tsc)