Lagi, pengedar merkuri berhasil diamankan Polres Buru

oleh -65 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Setelah melalui penelusuran terlebih dahulu, seorang warga Desa Basalale Unit 17, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, akhirnya diciduk oleh personil Buru Sergap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres P. Buru, Rabu (21/3), sekira pukul 13.00 Wit.

Seorang ibu rumah tangga muda berinisil NSI (21), sebelumnya ditelusuri tim Buser dari masyarakat di sekitar unit S, Desa Waelo, sebagai seorang wanita yang menyimpan dan menjual merkuri.

Usai mengolah informasi dimaksud, didapati ciri-ciri wanita tersebut berpostur pendek dan memakai jilbab serta membawa 2 anak, tim Buser pun menahan NSI di rumahnya.

Hal ini dibenarkan Kasat Reskrim Polres Pulau Buru, AKP M. Ryan Citra Yudha,S.IK, saat berhasil dikonfirmasi wartawan via sambungan telepon selular, Jumat (23/3).

”Setelah mendapati informasi dari Warga Desa Waelo, mengenai adanya salah seorang wanita dari Desa Basalale yang masih menyimpan dan menjual mercury, membuat Tim Buser Satreskirm Polres P. Buru, mencoba menyelidiki info dari masyarakat tersebut  dan mengarah kepada pelaku NSI. Setelah mengantongi informasi yang akurat, perseonil Buser Satreskrim Polres P. Buru akhirnya mendatangi kediaman pelaku yang berada di Desa Basalale, Unit 10. Ketika tiba di rumah pelaku Tim Buser Satreskrim Polres P. Buru kemudian melakukan penggeledahan terhadap rumah pelaku dan menemukan merkuri sebanyak 2 botol besar dan 1 botol kecil dengan berat kotor kira-kira 22 kg,” ujarnya.

Baca Juga  Prakiraan Cuaca BMKG Maluku Utara Rabu (30/10/2019), Sanana dan Taliabu Cerah Berawan Sepanjang Hari

Setelah melalui pemeriksaan, akunya, didapati Nsi merupakan istri dari tersangka BSA (28), yang sebelumnya tertangkap oleh Buser Satreskrim Polres P. Burusebelumnya, saat menjual 13 botol merkuri kepada para penambang emas gunung botak, di Desa Basalale Unit 17, (11/1) silam.

”Pelaku NSI, merupakan istri dari tersangka BSA yang juga diamankan oleh tim Buser Polres P. Buru, karena kedapatan menjual 13 botol mercury kepada para penambang emas gunung Botak. Untuk tersangka BSA sendiri kasusnya hingga kini dalam proses melengkapi berkas (P-19),  petunjuk dari JPU Kejari Namlea, yang dalam waktu dekat akan dilimpahkan ke tahap II yaitu penyerahan tersangka dan barang bukti, oleh Penyidik Satreskrim Polres P. Buru kepada JPU Kejari Namlea,” jelasnya.

Bahaya penggunaan bahan kimia merkuri sendiri, jelasnya, sudah sering disosialisasi pihak kepolisian maupun himbauan melalui spanduk-spanduk yang diberikan kepada masyarakat.

Baca Juga  Gelar BBK di Saparua, Polda Maluku siap rehab asrama Polsek Saparua

Bahkan teka segan pihaknya menghimbau kepada masyarakat, dengan cara mendatangi secara langsung para penambang emas yang ada di Gunung Botak untuk tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya, seperti mercuri dan sianida.

”Untuk penanganan kasus penjualan merkuri yang dijual oleh tersangka BSA dan NSI, yang merupakan pasangan suami istri ini, kami dari Satreskrim Polres P. Buru juga telah menetapkan salah seorang warga Seram Bagian Barat berinisial K, yang telah ditetapkan sebagai DPO Satreskrim Polres P. Buru. K sendiri merupakan pemilik mercuri yang biasanya memasok dan mengirim mercuri dari Kota Ambon melalui transportasi laut dan kemudian dijual oleh tersangka BSA dan istrinya NSI,” tegasnya.

Baca Juga  Warga Ambon Antusias Nonton Karnaval Kendaraan Hias

Selain BSA dan NSI, terangnya, pihaknya juga masih berupaya menangkap salah satu penjual dan pengedar bahan berbahaya itu yang berinisial K dan sementara berada di Kota Ambon.

Untuk itu, tambahnya, pihaknya masih tetap berkoordinasi dengan pihak Polda Maluku maupun Polres P. Ambon dan Pp. Lease untuk membantu melacak keberadaan K.

Meski berada di Kota Ambon, tegasnya, K disinyalir sering berpindah tempat tinggal untuk menghindari deteksi pihak kepolisian maupun pihak keamanan.

”Kasus penjualan mercuri yang dilakukan oleh tersangka Pasutri B.S.A dan N.S.I, disangkakan dengan pasal 43 ayat (1), Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 1997 tentang pengolahan lingkungan hidup, Jo pasal 40 Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, dengan hukuman penjara maksimal 6 tahun,” pungkasnya. (keket)