“Siapa namamu, Nak?” tanya orang itu. “Musa!” ketusnya yang masih berusaha membebaskan diri.
Orang itu bangkit, tapi tangannya masih mencengkeram tangan Musa erat.
“Kenapa kau mengejar orang itu?”
“Orang itu maling! Orang itu telah mengambil es daganganku!” seru Musa dengan memasang muka marah. “Gara-gara anda, jadi orang itu ngga berhasil saya tangkap!” timpal Musa menyalahkan orang itu. Padahal sudah jelas jika Musalah yang bersalah.
“Ayo ikut aku,”
“Kemana?”
Orang itu tidak menjawab pertanyaan yang Musa ajukan. Orang itu terus saja menggandeng tangan Musa dan membawanya, entah kemana.
Sepanjang perjalanan, Musa tak henti-hentinya menanyakan akan dikemanakan dirinya, tapi orang itu tetap saja bungkam. Mulut Musa berhenti bertanya kembali, saat ia tahu ternyata orang itu membawanya ke masjid yang tadi ia shalat maghrib disini. “Masuklah. Kita berbuka puasa bersama,”
“Jadi kau hanya tinggal berdua dengan Ibumu?” ujar orang itu setelah mendengar semua cerita yang Musa ceritakan. Musa hanya mengangguk seraya menikmati segelas takjil. “Kau tahu jika sekarang bulan Ramadhan? Apa kau tahu tentang Lailatul Qodar?”
“Lailatul Qodar?”
Orang itu mengangguk. “Iya, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dimana malam itu Al Qur’an diturunkan, dan juga para malaikat akan turun untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing,” jelas orang itu.










