“Apakah Lailatul Qodar itu indah? Apa istimewanya? Aku tahu Lailatul Qodar. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya,”
“Malam Lailatul Qodar itu sangat indah, semua orang berharap untuk bisa melihatnya. Tapi hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya, yang bisa melihat malam seribu bulan itu,” Musa masih mendengarkan perkataan orang itu dengan seksama.
“Dimalam Lailatul Qodar, langit begitu indah. Terang dan tenang. Esok harinya, matahari akan bersinar terang, namun tidak menyilaukan. Cahayanya meredup, tapi tidak menggelapkan,” sambung orang itu.
“Lalu, bagaimana cara mendapatkan malam Lailatul Qodar itu?” belum sempat orang itu menjawabnya, “aku pernah mendengar, katanya salah satu orang yang mendapatkan malam Lailatul Qodar itu, do’anya akan dikabulkan. Dan bahkan bisa melihat malam Lailatul Qodar itu dalam mimpi. Apa benar?” timpal Musa.
Orang itu mengangguk. “Iya benar. Wajah orang yang mendapatkan malam Lailatul Qodar tampak bersinar dan berseri-seri. Perbanyaklah amalan agar bisa mendapatkan malam istimewa itu,” kata orang itu dengan merangkul Musa dan mengumbar senyum padanya.
“Oh iya, aku belum tahu nama kakak. Siapa nama kakak?” tanya Musa.
“Malika,” jawabnya.
“Kapan malam Lilatul Qodar itu tiba?” Musa kembali bertanya. “Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,” jelas Kak Malika.










