Lakorn, Drama dari Thailand yang Membius Asia Tenggara

oleh -46 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Dalam beberapa pekan terakhir, dunia maya selalu riuh pada awal pekan. Bukan karena buzzer. Bukan karena tagar nyeleneh. Melainkan karena episode baru drama Thailand atau lakorn, Bad Genius, tayang.

Keriuhan sampai menjadi trending topic tersebut bukan hanya terjadi sekali, melainkan setiap episode baru tayang dari serial yang rilis pada 3 Agustus lalu tersebut. Bukan hanya kala Bad Genius tayang, ketika serial Girl from Nowhere rilis dan sukses, netizen juga riuh.

Keriuhan ini bak menjadi tanda baru drama Thailand sukses membius penonton di luar Negeri Gajah Putih, termasuk di Indonesia.

Kesuksesan itu bukan hanya karena faktor sejumlah judul drama Thailand yang berhasil memikat penonton di Indonesia, seperti Bad Genius, Girl from Nowhere, atau 2gether: The Series, tetapi karena hasil perjalanan drama yang telah berusia sekitar tujuh dekade, atau sejak 1950-an, ini.

Link Banner

Semua bermula ketika televisi pertama muncul di Thailand. Kala itu, lakorn sudah mulai menjadi salah satu pilihan acara meski sebagian besar merupakan rekaman versi teater panggung.

Baca Juga  Komnas HAM Minta Pilkada 2020 Ditunda

Penelitian Nguyet Tong bertajuk At The Censor Interface: The Thai Television Lakorn, Its Spectators And Policing Bodies, yang dipublikasikan oleh Cornell University pada Mei 2014 mencatat produksi pertama drama televisi Thailand adalah lakorn Suriyanee Refuses to Marry pada 4 Januari 1956 dan meraih kesuksesan instan.

Serial Thailand, Girl From NowhereSerial Thailand, Girl From Nowhere. (dok. GMM Grammy/Jungka Bangkok/SOUR Bangkok via IMDb)

Sejak saat itu, lakorn bak kacang rebus kala musim hujan. Pada tahun yang sama, terdapat lima produksi drama lainnya. Kemudian melonjak menjadi 46 produksi pada tahun berikutnya, dan 100 produksi pada 1958 melalui Channel 4.

Kesuksesan lakorn dalam menggaet pasar diyakini karena kemampuan para kreatornya mengangkat hal yang akrab dalam keseharian masyarakat Thailand, yang kemudian diberi bumbu sesuai genrenya, entah itu horor, fiksi ilmiah, hingga komedi, juga percintaan.

Antropolog University of Washington, Sara Van Fleet, dalam jurnal Education About Asia Volume 8 Number 1 yang dipublikasikan pada 2003 oleh Association for Asian Studies, bahkan mencatat lakorn menjadi media pemberi informasi dan sudut pandang baru bagi penontonnya.

Baca Juga  PGI: Ibadah Jemaat Hanya Bisa Digelar dengan Pembatasan Ketat

Kala melakukan penelitian di Thailand selama 18 bulan dan mewawancarai 137 penonton lakorn, Van Fleet menemukan bahwa drama Thailand mampu menjadi pengubah nilai dan kepercayaan masyarakat di abad ke-20.

“Khususnya bagi perempuan, yang peran tradisinya sering didefinisikan dengan hubungan mereka kepada keluarganya, lakorn berfungsi sebagai sarana di mana banyak perempuan menguji situasi mereka yang telah berubah dan memahaminya dengan cara yang baru” kata Van Fleet.

“Lakorn adalah media yang sempurna untuk mengeksplorasi subjek yang berpotensi sensitif atau emosional dengan orang-orang, karena mereka merasa nyaman membicarakan televisi dan budaya populer,” kata Van Fleet.

Serial Bad GeniusSerial Bad Genius. (dok. GDH 559 via IMDb)

Namun nyatanya dampak lakorn bukan hanya dirasakan warga lokal Thailand, melainkan kini sudah menyebar ke berbagai negara lainnya berkat perkembangan teknologi. Indonesia adalah salah satu negara dengan penggemar drama Thailand yang cukup banyak.

Baca Juga  Ketua DPC Hanura Halbar Akan Berikan Sanksi ke Beberapa Pengurus

“Mungkin karena ada beberapa poin gambaran ceritanya relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia, jadi terasa dekat aja,” kata salah satu penggemar drama Thailand, Raissa seperti dikabarkan CNNIndonesia.com

“Yang bikin unggul menurutku karena drama Thailand berani membahas hal-hal yang di sini masih dianggap tabu, dan ceritanya lebih variatif,” lanjutnya.

Setali tiga uang, akademisi Film Institut Kesenian Jakarta, Satrio Pamungkas melihat bahwa kegemaran masyarakat Indonesia akan drama Thailand karena kedua negara memiliki sisi kehidupan yang tak jauh berbeda.

Selain itu, mereka juga memiliki cerita yang kuat dengan kejadian yang digambarkan pun memiliki relevansi dengan kondisi sosial di Indonesia.

“Yang kita apresiasi dari Thailand adalah keterbukaan mereka terhadap kasus-kasus dan kondisi sosial yang terjadi di negaranya,” kata Satrio.

Rasa keterwakilan akan kehidupan sehari-hari, baik itu soal percintaan, keluarga, hingga sekolah dari berbagai kalangan masyarakat yang dibawa oleh drama Thailand, cukup untuk menjadikan karya sinematik tersebut sebagai “ruang berbicara” bagi masyarakat Asia Tenggara.(red/rtm/CNN)