Latumahina himbau rakyat Maluku cerdas tentukan pilihan

oleh -49 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Pilihan masing-masing rakyat atas wakilnya sendiri, menjadi tolak ukur atas perubahan nasib rakyat itu sendiri.

Pasalnya, pilihan rakyat yang dibarengi dengan iming-iming imbalan berupa material, kerap berbuah masalah.

Wakil-wakil rakyat yang terpilih dengan cara memuluskan jalannya menggunakan imbalan, cenderung tidak berpaling kepada rakyat dan memperhatikan kebutuhannya.

Apalagi, suara rakyat itu sendiri sudah dibelinya, tepat pada hari-H pemungutan suara dilakukan.

Karena itu, masyarakat yang memiliki hak suara untuk memilih, diminta untuk jeli memperhatikan figur dan karakter calon pemimpin atau calon wakil rakyat.

Apalagi, hak suara ini hanya berlaku selama 5 tahun sekali.

Untuk itu, kecerdasan masyarakat dalam berpolitik harus lebih ditingkatkan lagi.

Hal ini ditegaskan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari dapil Maluku bernomor urut 30, Dr. Fredrik Latumahina, saat berhasil dikonfirmasi wartawan, di Ambon, Senin (1/4).

”Pilihan itu kan untuk masing-masing orang. Ada garis partai, kebijakan partai. Tapi ini karena pilih orang dan haknya sendiri, kadang-kadang memang orang bisa berbeda. Kalau dia berbeda, itu yang paling pokoknya, orang itu merasa diri salah enggak? Itu yang paling penting. Ada enam anggota partai misalnya. Kemudian, partai perintahkan anda harus pilih Ibu A, tapi anda sendiri memilih Fredi, merasa berdosa gak? Ini yang namanya melawan garis partai. Intinya kecerdasan politik. Saya hanya mengajak mereka berfikir melakukan kecerdasan politik. Pilihannya kan bukan pilih partai, tapi pilih orang. Jadi pilih orang yang harus dikenal dengan baik. Pergunakan hak suara juga dengan baik. Karena, itu hanya dipakai 5 tahun sekali untuk menentukan pimpinan kelembagaan. Jadi, kalau anda memilih salah, maka 5 tahun anda tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Baca Juga  Cuaca Buruk, BPBD Kepulauan Sula Minta Warga Waspada

Menurutnya, rakyat yang sudah menjual hak suaranya tak bisa melakukan apa-apa jika ada permasalahan dalam masyarakat dan tidak diperhatikan oleh wakil rakyat dimaksud.

Apalagi, kondisi dimaksud bakalan berlangsung selang 5 tahun kedepan.

Alhasil, masyarakar hanya bisa diam menanti hingga 5 tahun ke depan dan mengganti lagi pilihannya.

Mirisnya lagi, akunya, semakin banyaknya calon legislatif (caleg) yang mengampanyekan diri justru tidak dikenal dengan baik oleh masyarakat.

Untuk itu dihimbaunya masyarakat agar cerdas dalam menggunakan hak pilihnya tanggal 17 April nanti.

”Masalah-masalah yang terjadi di sini, terasa kekurangan dan belum dibuat dan sebagainya, itu bukan orang yang dipilih yang salah, tapi orang yang memilih mereka yang salah. Karena itu, kalau bapak dan ibu sekalian mau terima bahwa pemimpin yang salah karena ibu-ibu yang memilih salah. Betul, bapak katong salah, sudah menerima, karena setiap 5 tahun pilih begitu-begitu juga. Dan setiap 5 tahun, orang itu baru datang, tak pernah datang dan bicara, atau jalan meninjau kita atau apakah. Mereka kan berhak kampanyekan diri. Persoalannya, kenapa bapak/ibu pilih, jadi mereka tidak salah. Bapak dan ibu tidak mengenal mereka siapa sebenarnya,” jelasnya.

Baca Juga  Perindo Kota Ambon buka pendaftaran aleg

Caleg yang sudah dikenal, jelasnya, masih juga harus dilirik tentang kompetensi dan kredibilitas yang dimilikinya.

Sehingga, masyarakat juga harus mengenal secara baik caleg yang akan diwakilkan hak suaranya.

”Mengenal, tapi mungkin tidak kenal dari masalah-masalah lain. Tapi dia nggak tahu secara mendalam perspektif orang yang dipilih. Karena itu menurut saya, lihat orangnya dengan baik, kenal dia,” tegasnya.

Memperkenalkan diri langsung kepada masyarakat, akunya, merupakan sebuah cara yang efektif dalam meraup kepercayaan masyarakat.

Selain dikenal, figur yang hendak dipilihpun harus dekat dengan masyarakat, seperti mampu menepati janjinya.

”Apakah bapak ibu sudah punya calon presiden? Sudah? Okey, saya tidak akan bahas lagi. Apakah bapak dan ibu sudah punya calon DPR RI? Ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum. Ayo berembuk lagi, masih ada waktu 14 hari untuk diskusi-diskusi kecil. Pilih orang yang dikenal, baik DPD RI dan DPR RI, DPR provinsi, DPR kabupaten/kota. Apa ibu dan bapak saudara sekalian sudah punya calon DPD RI? Kalau belum, di nomor urut 30 ada tertulis Dr Fredrik Latumahina. Jika bapak dan ibu berkenan, pilih! Kalau bapak dan ibu semua setuju mau dukung saya, tolong tepuk tangan. Dengan begitu, kita tidak usah lagi tanya tentang seluruh keberadaan kita selama ini, karena sudah diketahui oleh mereka dan ditandai dengan itu tepuk tangan. DPR Provinsi, bapak dan ibu lebih kenal, tapi ingat jalannya rusak 15 tahun berada di situ, pilih yang baik! DPR Kabupaten, bapak dan ibu lebih kenal mereka putra-putri bapak dan ibu sendiri. Pilih yang baik,” terangnya.

Baca Juga  HANYA API-SEMATA API: Obituary Amarzan Loebis

Adanya perbedaan dalam hal pilihan, terangnya, merupakan hal yang lazim dalam sebuah proses demokrasi.

Namun diingatkannya perbedaan dimaksud bukan untuk membuat perpecahan.

Apalagi, perbedaan dimaksud hanya terjadi pada hari H pemungutan suara.

”Di dalam pilihan itu pasti ada perbedaan. Tapi pesan saya, perbedaan itu tidak boleh membuat kita bermusuhan dalam politik. Tidak boleh nanti kita damai kalau sudah selamat Lebaran mohon maaf lahir batin. Nggak boleh. Atau, damainya nanti sudah Natal. Padahal tanggal 17 April selesai. Langsung selesai, tidak ada masalah. Perbedaan kita kan pilihan saja sampai 17 April,” pungkasnya. (keket)