Lawan Epidemi HIV, WHO Rekomendasikan 6 Hal Terkait Tes HIV/Aids

oleh -50 views
Link Banner

Porostimur.com | Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mengeluarkan rekomendasi baru bagi negara-negara dengan tingkat HIV tinggi dan belum terdiagnosis. Lantaran belum didiagnosis, maka belum mendapatkan perawatan penyelamatan atau memperpanjang harapan hidup.

Dilansir dari siaran resmi WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan, selama dekade terakhir, wajah epidemi HIV telah berubah secara dramatis.

Menurut dia, masih belum banyak yang mendapatkan bantuan karena belum terdiagnosis.

“Pedoman tes HIV baru WHO bertujuan secara dramatis mengubah ini,” kata Tedros dalam siaran resminya.

Tes HIV sebagai kunci untuk memastikan orang didiagnosis lebih dini dan memulai pengobatan.

Layanan pengujian yang baik memastikan bahwa orang yang tes HIV dengan hasil negatif, terhubung dengan layanan pencegahan yang tepat dan efektif. Hal ini membantu mengurangi 1,7 juta infeksi HIV baru yang terjadi setiap tahun.

WHO merekomendasikan berbagai pendekatan inovatif untuk merespons kebutuhan kontemporer. Apa saja?

1. Menanggapi perubahan epidemi HIV dengan proporsi tinggi orang yang sudah diuji dan diobati, WHO mendorong seluruh negara untuk mengadopsi strategi tes HIV standar yang menggunakan tiga tes reaktif berturut-turut untuk memberikan diagnosis HIV positif.

Baca Juga  Hijabers, Yuk Tampil Trendi dengan 7 Padu Padan Rok Jeans Ini

Sebelumnya, sebagian besar negara dengan beban tinggi menggunakan dua tes berturut-turut.

Pendekatan baru ini dapat membantu negara mencapai akurasi maksimum dalam tes HIV.

2. WHO merekomendasikan negara-negara menggunakan swa-uji HIV.

Hal ini berdasarkan bukti baru bahwa orang yang berisiko lebih tinggi terhadap HIV dan tidak melakukan tes dalam pengaturan klinis, lebih memungkinkan untuk dilakukan tes dengan swa-uji HIV.

3. WHO juga merekomendasikan tes HIV berbasis jejaring sosial, di mana menjangkau populasi berisiko tinggi namun memiliki lebih sedikit akses ke layanan juga direkomendasikan.

Beberapa populasi yang dimaksud seperti pria yang melakukan hubungan seks dengan pria, orang yang memakai narkoba dengan cara suntik, pekerja seks, populasi transgender dan orang-orang di dalam penjara.

Populasi tersebut dan pasangannya mencakup lebih dari lebih dari 50 persen kasus infeksi HIV baru.

Misalnya, saat menguji 99 kontak jejaring sosial dari 143 orang HIV-positif di Republik Demokratik Kongo, 48 persen dinyatakan positif HIV.

Baca Juga  Aliansi Anti Komunis Besarkan Hati Massa Pembakar Bendera PDIP: Jangan Takut Sama Hasto Gerombolan Ekasila

4. Penggunaan komunikasi digital inovatif yang dipimpin oleh rekan kerja seperti pesan singkat dan video dapat membangun permintaan dan meningkatkan pengambilan tes HIV.

Di Vietnam, petugas outreach online memberi konseling kepada sekitar 6.500 orang dari kelompok populasi yang berisiko, di mana 80 persen dirujuk untuk tes HIV dan 95 persen di antaranya melakukan tes.

Mayoritas atau sebanyak 75 persen orang yang menerima konseling belum pernah berhubungan sebelumnya atau penjangkauan untuk HIV.

5. WHO merekomendasikan upaya masyarakat yang terfokus memberikan pengujian cepat melalui penyedia awam untuk negara-negara yang relevan di kawasan Eropa, Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur, di mana metode berbasis laboratorium yang sudah lama disebut “western blotting” masih digunakan.

Bukti dari Kirgistan menunjukkan, diagnosis HIV yang memakan waktu 4-6 minggu dengan metode “western blotting”, sekarang hanya memakan waktu 1-2 minggu dan jauh lebih terjangkau.

6. Menggunakan tes cepat ganda HIV/sifilis dalam perawatan antenatal sebagai tes HIV pertama dapat membantu negara menghilangkan penularan infeksi HIV/sifilis dari ibu ke anak.

Baca Juga  Diskominfosandi Kota Ambon Gelar Pelatihan Wirausaha Digital untuk IRT dan UMKM

Langkah ini dapat membantu menutup celah pengujian dan perawatan dan memerangi penyebab utama kematian lahir secara global.

Pendekatan yang lebih terintegrasi untuk tes HIV, sifilis dan hepatitis B juga dianjurkan.

“Menyelamatkan nyawa dari HIV dimulai dengan tes,” kata ketua tim WHO untuk Pengujian, Pencegahan, dan Populasi HIV Dr. Rachel Baggaley.

“Rekomendasi baru ini dapat membantu negara untuk mempercepat kemajuan mereka dan merespons secara lebih efektif terhadap perubahan sifat epidemi HIV mereka,” lanjutnya.

Pada akhir 2018, terdapay 37,9 juta orang dengan HIV di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, 79 persen telah didiagnosis dan 62 persen sedang dalam pengobatan.

Sementara itu, 53 persen di antaranya telah mengurangi tingkat HIV mereka melalui pengobatan berkelanjutan, ke titik di mana mereka telah secara substansial mengurangi risiko penularan HIV. (red/rtl)