Lima Puisi Ahmad Mony

oleh -75 views
Link Banner

Yau Ana Ma’aninu Tua’e

Sobohana taloto kehe-kehea
Riyae kakiri matai hale sawa laloi
Epototu balencina kema’a hongia
Sala epatupa terui o
Sahute kakepe aman huhui

Pa’alapu kati lainte kakura maria taloto
Kuri rapu suwe tihai sane
Hahiku lapa hoho serumena
Kakohu sohura taria namane
Pasarira hatua kakura umea hu’uti
Kakohu milate taha lalane suwe tine

Yale yana seiyapo patatena ma’i-ma’i
Kewa hatu ana epatotu iyane
Kewa ume ana epatotu tananene
Muri epatotu mena
Parikuni sala saruo ana moko iny sole

Yale yana seiyapo patanou ma’i-ma’i
Mahurilale iny amana tua’e
Matanapale iny a’ake nusa
Huran ukui iny amana wae susua
Buji iny a’ake pandita
Ruaru pa’eki wa’a tali-tali o
Lahate kakou maningkamu

Link Banner

Kelet pokure taria kodamara wae susua
Ekita hatuwai ekakuru uratane
Emi’raje hale Wae Tua’e
Hatu Ma’opai lohui
Yale seiya kewa lala nusa
Kewa lala mi’rajea

Wae Tua’e taloto kakisyame
Piri hua’ele lete Wae Lurui
Barakate mantura puti’e hasa siale
Ninu Tua’e rasa Wae Susua

Yau wele rania sio sio rania
Suwe Huyya Ma Huyya

Kedai Tuak Kakisyame
Mencari Jejak Kaki Syamsyi dari Tabriz
Hu Ya Man Hu

Baca Juga  24 Tahun Perhimpunan Kanal Maluku "Perjalanan Tanpa Batas"

Bogor, 13032017

========

Api Cinta Semesta

Dalam dekap penuh harap
Ku tengok puncak kodamara yang terik
Dari tepi haita nanumonia nan elok
Kembali aku berpaling pada Tuan Syamsyi
Matahari pengetahuan dari hena laloi
Apa pesan gemuruh api cinta
Yang engkau kobarkan di Kota Konya
Membakar habis diri Jalaluddin hingga sirna
Sinarnya menjadi suluh jaman bagi pencari
Dia menjawab penuh makna,
Sepercik api dari hena laloi yang kusemai di Tabriz
Mampu membakar Konya hingga seluruh dunia
Namun apa yang kalian lakukan pada sumber api?
Kalian padamkan diatas klaim nasab dan kebodohan
Api yang senantiasa berkobar di bukit
Membakar semak belukar di jantung peradaban
Melumat sempurna kota pengetahuan yang terik
Agar senantiasa bersih tanpa benalu dan gulma
Api cinta adalah manifestasi tertinggi
Asal kemenjadian manusia, budaya dan agama
Setiap yang memasukinya harus menanggalkan segala lencana
Seperti Musa melepaskan sendalnya di gerbang Tursina
Mereka harus terbakar habis kobaran api cinta
Di gerbang kota hena laloi
Bagai laron terbakar lilin suci
Agar bisa bertemu Laila tanpa cadar
Seperti itu yang dialami Majnun
Sang pembakar rumah Laila

Baca Juga  Operasi Patuh Kieraha - 2020, Sat Lantas Polres Halsel Gelar Sosialisasi dan Bagi Masker serta Hand Sanitizer Pada Pengguna Jalan

Bogor, Mei 2018

Burunge Iyaba

Au wana’u
Kala puna kabusu wa’a syisyinye laloi
Huni emu moki-moki
Kala puna mata auwa wa’a waele laloi
Kela he’e riu wa’a riu

Kala puna ahune suwe aiya huhui
Gumu-gumu suwe tanitala huhui
Kala puna sauwa mata kau’a ria usa suwa uwei
Suwe-suwe suwata taria tihua laloi

Au wana’u,
Masikeopo elia puna iyaba ria mega lohui
Make kihu kiha lainte uwei
Peki rehi lete lainte uwei
Suwe ale ana iyaba ria noni huhui

Bogor, 03082020

======

Elegi Malam

Putriku,
Bangun dan bangkitlah
Bangkit dari lelap malam
Malam serupa ruang sunyi nan damai
Tempat menari dan merindu

Lihatlah burung pungguk
Setia menanti rembulan
Penuh harap dan gairah
Menatap langit meratap rindu

Putriku,
Bangun dan bangkitlah
Angin malam membuai mimpi
Dingin sebab keterlenaan
Lepaskan sihir penjerat mata

Dengar nyanyian ayam jantan merah
Pertanda pintu langit terbuka
Ikutlah bernyanyi ikutlah menari
Dibawah langit bermandi cahaya

Putriku,
Bangun dan bangkitlah
Permadani hanya pelelap tidur
Bak jebakan mimpi palsu
Menjauhkan dirimu dari Sang Rembulan

Baca Juga  Sempat Tertunda Akibat Pandemi Covid, MTQ Ke 27 Halbar Siap Digelar Dengan Protokol Kesehatan

Tidakkah kau malu dengan penyihir malam
Mengharap rembulan ditengah malam
Ratapan rindu dan gemulai tariannya
Menanti rembulan menampakan wujud

Dengarlah nyanyian penyihir malam
Hurane kakirio kakiri wa’ato
Huran puti mauno
HU

Putriku,
Bangun dan bangkitlah
Tatap Sang Rembulan
Rindu itu datang ditengah malam
Cinta itu hinggap dibawah gemintang

Ingatlah elegi rindu itu
Siapa mengail dibawah bulan
Rasa dingin tahan sedikit
Siapa berdzikir dibawah bulan
Rasa rindu tahan sedikit

Putriku,
Bangun dan bangkitlah
Ingatlah suatu malam
Kala rembulan menampakan rupa-Nya
Selimuti dirimu dengan cahaya-Nya

Bagansiapiapi, 06082020

=======


Cermin Semesta

Dalam pelarian nan terasing
Kembali kukenang leluhurku Raja Patih
Di belantara Hatu Wael yang sunyi
Atas alasan apa engkau melepaskan mahkota dan tahta hatimu?
Untuk tamu asing yang belum engkau kenal
Jawab ia penuh senyum
Dia bukan tamu asing
aku menyerahkan semuanya untuk diriku sendiri
Bagaimana pantulan cermin dirimu kau anggap tamu?
Inilah rahasia Persaudaraan semesta

Bogor, Mei 2018