oleh

Lima Puisi Farid Latif

Link Banner

Di Pertemuan Kedua

Sudah mafhum
Nama adalah bagian paling penting
Setelah pertemuan pertama.
Dan pada akhirnya,
beginilah…
Kau dan aku sama-sama malu.
Mau.

==========

HABIS


(padamu aku tak lagi pulang)

Kalau pada pertemuan berikutnya
Tak lagi ada cinta dalam kosa kata kita.
Bukan berarti hapus semua pertemuan yang telah sudah.
Kalau pada pertemuan berikutnya
Diam lebih menguasai suasana dibanding kita.
Bukan berarti yang teringat telah menjadi enggan dikenang.
Tapi habis kikis telah tipis rindu.
Sudah teriris pada perjumpaan sebelumnya yang mengesalkan.
Padamu aku tak lagi pulang.

=============

Taman Kota, Bunga-bunga dan Perempuan

Alangkah berterimanya bunga-bunga dan perempuan
Mereka slalu membentangkan lebar-lebar pelukan, seolah hanya akan benar-benar mekar sempurna di dekat mahluk dengan jumlah terbanyak di dunia.
Alun-alun kota misalnya.
Bunga-bunga dan perempuan seperti lumrah.
Sore-sore begini di sana
Senyum perempuan dan kelopak bunga mekar seperti pengumuman hari esok adalah lebaran…
Lebah madu yang ada di sana pasti bingung memilih mana yang paling manis

Baca Juga  HUT RI, Indorunners Ambon lari 7,3 Km bawa bendera

==========

Trans Kobisonta…

Di dalam debu-debu sepanjang jejeran kebun sawit
Orang-orang meletakkan kenangan mereka tentang rusa dan warna air yang pernah mengalir melewati pohon-pohon tua..
Pada kenangan yang berterbangan hinggap di atap rumah dan tunas-tunas padi itulah. Sisa-sisa pemberontakan terhadap pembangunan mereka tampung dan entah kapan menjadi besar lagi lalu meledak.

========

Di Wabula Namamu Tak Akan Kusebut Berulang Kali

di kampungku.
mata-mata rumah menunggumu
kau bisa masuk dari ruang ke ruang lewat mana saja, mandi di kaki laut dan bercengkrama dengan anak kecil kepunyaan orang tua siapa saja.
mereka tidak menyembunyikan apa pun apa lagi sakwasangka.

sambil meniup asap dari teropong bambu, lagu-lagu tentang perahu nun jauh bergerak menuju timur akan menyelipkan air mata haru.

Baca Juga  Hari Buku Nasional, Jokowi: Buku Apa yang Anda Baca Selama Pandemi?

tenang sayang. air mata asap dan air matamu yang lugu sama saja dipandang..

di kampungku gunung-gunung Haru menumpuk dalam padatnya kasuami. bahagia rasanya menyiram kasuami itu di dalam kuah ikan kuningmu yang kasih.

kalau malam kita bisa bicara tentang rahasia tanpa berbisik. lautan di sana mengerti bagaimana cara membantu manusia untuk menyembunyikan sesuatu..

ah… elok rasanya anak kita yang mungil itu main di pasir punya datuknya.

bila dia dewasa sedikit. mari kita ajarkan dia tentang hak dan kegunaan. biar dia bisa mengerti bagaimana pun caranya tanah adat tak bisa digunakan untuk kepentingan segelintir orang.
tapi. ah. sayang….

di Wabula kampungku
tak akan kusebut namamu berulang kali. iya begitu bertuah hingga untuk menyebut namamu berulang kali.
kau bisa gigit bibirmu yang ranum itu.

Baca Juga  Anggaran ke Palestina, Louhenapessy tak tahu jumlahnya

===========

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed