Lima Puisi Nuriman N Bayan

oleh -47 views
Link Banner

Bertanyalah Kepada Ibumu

Jika kamu ingin memahami
lautan mana paling berombak
—-musim apa paling pancaroba
bertanyalah kepada Ibumu. Sungguh,
Ia memahami apa yang kamu tanyakan
sungguh, Ia memahami mengapa Allah menitipkan
surga di kakinya.

Tapi jika ibumu
tak dapat menjawab pertanyaanmu dengan baik
janganlah engkau memarahinya, janganlah engkau membentaknya
sebab kelak, kalau engkau tidak menjadi saksi
engkaulah ibu yang berbulan-bulan berlayar di tengah badai itu.

2020.

========

Sajak Orang-orang Nusliko

Lautan bagimu barangkali hanyalah tempat berlayar dari suatu dermaga ke suatu tempat yang ingin kau kunjungi. Ketika angin muson datang mencumbuinya di tengah pelayaran kadang diam-diam kau mengutuknya. Atau memohon sambil melepas separuh niat dan berjanji akan memerdekaan segala yang terbelenggu.

Atau lautan bagimu barangkali hanyalah tempat berkayuh, bermandi, berenang, dan menyelam: tempat kau melepas penat ketika sengat tak sanggup lagi kau kemas. Tapi tidak bagi para pelaut itu. Lautan bagi mereka— ladang bebas yang subur. Tempat menanam, untuk api yang padam, rumah yang sepi, dan nasib yang kosong.

Baca Juga  Maling 4 HP, Warga Luhu Dibekuk Warga dan Polisi

Lihatlah mereka! Sebelum subuh mereka sudah beranjak, dan mereka hanya kembali bila lambung perahu itu sudah memutih, memerah, dan mewangi. Bayangkan saja seasin apa tubuh mereka, setabah apa jiwa mereka, ketika di tengah laut angin dan ombak sedang riang bercinta, sementara ikan-ikan jauh pergi sebab laut tak lagi biru.

Galela, 2020.

=========

Seperti Bidadari di Atas Sebuah Pangkuan

Ngana mohoka am dohu pati odo? Jo.

Aku masih ingat malam yang ibu itu
di gandaria kita duduk, —-dan kamu
seperti bidadari di atas sebuah pangkuan

di depanmu saro-saro berdiri
di depanku ayah-ibu, om-bibi, dan saudara

kita duduk menghadap tepat ke dada sabua:
sebuah rumah tanpa pintu dan jendela yang dibangun
dengan tangan yang di hatinya—-penuh dengan babari.

Baca Juga  Update 17 April 2020: Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Jadi 5.923

Aku masih ingat malam yang ibu itu
kita duduk di gandaria, hujan dan angin sebagai lagu
sampai kidung yang ibu itu didendangkan. Sampai kita berdiri

di tengah riang ayah-ibu, om-bibi, dan saudara. Sampai di kepalamu
persembahan itu bergantungan. Sampai persembahan itu jatuh ke dada sosiru

sampai kamu dipapah seperti ibu pada anaknya. Sampai kegembiraan itu pergi
dan kita tertidur di rumah ibu—— yang harum buah, asap, sejarah, dan doa-doa.

Galela, 2020.

=========

Aku yang Kau Reklamasi Ia yang Terabrasi

Sudah kubilang
pulau-pulau itu tak bisa berenang
tapi mengapa kau masih saja menimbunku?

Apakah
membangun suatu peradaban
harus ada yang ditimbun, dan
harus ada yang ditenggelamkan?

Baca Juga  Prajurit Lanud Pattimura Tetap Tadarusan Al-Quran di Tengah Pandemi Covid-19

Sejak dahulu
kau memang begitu
hanya memikirkan peradabanmu sendiri
kau lupa peradaban makhluk yang lain.

Galela, 2020.

======

Di Teluk Loloda

Ombak yang sering nyasar ke mata kita—- kini tak lagi kesasar. Aku tak tahu, apa karena angin yang terlalu sering bertiup dari pantai selatan. Atau laut masih ingin menyimpan rindunya, dan pada waktunya akan ia lepas. Kemudian ke mata kita ia kembali berdebur, ke dada kita ia kembali melebur—-dan kita, harus kembali berlibur, dari laut yang telah kita anggap sebagai sekolah, sebagai madrasah. Kemudian kepada kebun, kepada bukit—– kita kembali bersekolah.

Supu, 2020.

====