Lima Puisi Nuriman N Bayan

oleh -15 views
Link Banner

KAMPUNGKU TELUK

Kampungku teluk
bila aku memandang ke laut
ke utara lautan bebas
ke timur pulau-pulau terbelah

Kampungku teluk
bila ke laut aku memandang
ke kiri tanjung menjulang
ke kanan tanjung memanjang
meski panjang, meski rijang
mereka tak pernah bersilang.

Kampungku teluk
di bibirnya pasir membentang
perahu-perahu tertidur di bahunya
pohon-pohon tumbuh di pundaknya
sunga-sungai mengalir ke jantungnya.

Kampungku teluk
bila aku memandang ke darat
ke barat bukit-bukit meninggi
ke selatan bukit-bukit berdiri
mesti tinggi, meski berdiri
tak tertolak setiap mendaki.

Kampungku teluk
bila ke darat aku memandang
cengkeh pala kelapa di gunung-gunung
tunjang-menunjang saat nasib menggulung.

Kampungku teluk
ayah dan ibu menanam padi
meski pisang, sagu, kasbi, dan batata
selalu tumbuh— berimbun-rimbun.

Kampungku teluk
api yang menyala di kebun
dayung yang bermalam di perahu
adalah asap yang berkibar di dapur
adalah tuang yang memberi kami tulang
adalah tulang yang memberi kami luang
adalah juang yang memberi kami ruang.

Kampungku teluk
ingin sekali kupeluk
meski dalam remuk.

Baca Juga  Oknum TNI Penjual Amunisi ke TPN-PB Ditangkap

Supu, 2020.

=======

AKU AKAN PERGI DAN KAMU

Aku akan pergi dari matamu yang kadang lupa beristirahat dari malam yang menidurkan matahari.

Aku pergi dan kamu akan menemukanku di mata ibu yang berhari-hari mencahi saloi di bukit-bukit yang menjulang atau di pantai yang landai yang setiap hari dikecup ombak.

Atau di para-para ayah yang penuh gonofu yang kini asapnya kembali mengepul.

Atau di bawah pohon pala di tepi sungai yang airnya mengalir menembus laut di batinmu.

Atau di atas perahu semang yang bermalam-malam berlabuh di tanjung dan sore pulang ke teluk.

Aku pergi dan kamu akan menemukanku di tanah ibu yang teluk. Memeluk pohon kelapa sambil berbisi kepadamu.

Baca Juga  Belain Ajak Semua Komponen Bangsa Satu Suara Soal Uighur

“Berbahagialah kita yang lahir sebagai anak petani. Karena selain laut, kebun adalah sekolah paling merdeka.”

Galela, 2020.

========

DI MALAM YANG TAK LAGI BARU

Tak ada yang kita rayakan
kita hanya ingin merenung
tanpa dengung
tanpa kembang api
dan petasan.

Di dalam diri kita
terlalu banyak yang terluka
kita harus mengobati
dengan kesunyian
tanpa bunyi
dan nyanyian.

2020.

=========

SEPANJANG SAYA BERSEKOLAH

Sepanjang saya bersekolah
ada satu madrasah yang saya tidak pernah lulus.

Saya tidak lulus bukan karena tidak pernah hadir
atau tidak pernah membuat tugas dan tidak ikut ujian.

Madrasah itu adalah semesta
guru saya adalah seluruh yang hidup.

Baca Juga  Paolo Maldini Hanya Ingin Bekerja untuk AC Milan

2020.

=========

HALMA-HERA

Halma, Halma
kamu di mana, Halma?

Aku Hera, Halma
jangan pergi, Halma
jangan pergi!

Jangan tinggalkan
aku sendiri, Halma

jangan tinggalkan
nanti aku tanggal, Halma.

Jangan pergi, Halma
kita satu, Halma.

Benarkah kita satu?
Jika benar, mengapa
kau panggil aku Halma
dan menyebut namamu, Hera?

Karena satu
bukan berarti sama, Halma
karena satu
bukan berarti tak terpisah, Halma.

Baiklah,
maka biarkan aku pergi
pulang ke dalam namaku
pulang ke dalam namamu

membawa malumu
membawa maluku

agar luka
tidak menjadi laku.

2020.

=====