Mampuslah Kau, Penyair
(Ishak Boufakar)
Jika aku jadi hakim satu jam saja
Maka cepat-cepat aku gelar sidang kilat
Vonis: Salibkan kau di puncak Binaiya
Mampuslah kau, penyair
Tetapi sebaiknya aku tidak jadi hakim
Sebab aku bakal mati membangkai membusuk
Oleh karena vonis yang aku jatuhkan
Secara duka dan paksa
Terus terang saja
Aku telah jadi hakim busuk
Pada sebuah peradilan busuk
Demi kebenaran busuk dan keadilan busuk
Kalau aku dilahirkan satu kali lagi
Aku ingin jadi biji kopi saja
Biar aku hangus, hancur, mendidih
Asalkan puisi-puisi bisa hidup
Inilah aku, duhai izrail
Inilah aku, duhai kafan
Inilah aku, duhai liang lahat
Inilah aku, duhai cacing
Ambon, 7 November 2020
=======
Beta Pasti Menari
Buldozer bagai ular cincin merayap
Masuk di rahim ibu yang rahman
Tidak mungkin beta berdiam
Beta pasti menari parang
Semut tentara berkerumun
Bakudapa baku cium-cium
Tidak mungkin beta tidur
Beta pasti menari peluru
Pesta pualam dirayakan
Dansa siang dansa malam
Tidak mungkin beta menganga
Beta pasti menari panah
Ambon, 7 November 2020
========
Cerita Kecil Dari Pulau Babi
Di pulau babi, babi besar jadi walikota
Dia sayang seekor babi perempuan nan jelita
Dengan anak babi kecil bersuara merdu
Kalau babi besar pergi melancong ke luar negeri
Babi perempuan bergantung di bulu ketiak kiri
Anak babi kecil bergantung di bulu ketiak kanan
“Barang pusing apa?” Kata babi besar




