Lima Puisi Rudi Fofid

oleh -23 views
Link Banner

Lelaki yang Memaki di Luv Hawang

perkenalkan!
akulah toran yaf
lelaki api, mata tombak
aku kejar debar jantung
aku kejar lekuk taring
vav e!

aku berlari
aku menari
aku melompat
aku meronta
dua sahabatku
yahau e!

mangsa ke kanan-kiri
aku ke kanan-kiri
mangsa mendaki menukik
aku mendaki menukik
mangsa hilang di luv hawang
aku bimbang dalam lubang

aku cari vav, tetapi vav tiada
vav telah hilang di dalam sunyi
bergabung dengan suangi-suangi
aku hanya bertemu dahagaku sendiri
pada keringat yang mendidih
pada nafas yang diiris tipis-tipis

aku dahaga, o aku dahaga
maka kuminum saja
air gua sebening kaca
aku telan dinginnya
nen o mat o
sepahit inikah kehidupan?

aku maki kepahitan di lidah
aku maki air sebening bola mata
aku maki batu sekeras angkuh
aku maki gua fulfulik
aku maki vav renar-yamar
mvet renam e

aku lelaki maki
tubuhku membatu
dua anjingku membatu
di ketabahan stalagmit
akulah hawang
sesak, sesal, sia-sia

Langgur, 3 Januari 2021

==========

Doa Akhir Tahun Seorang Koruptor

tuhan,
di ujung jalan tahun anggaran ini
kupinta padamu
butakan mata akuntan
pemeriksa buku kas
dan segala setan tarampang
terutama anjing-anjing penjaga
di ruang redaksi cuka minya
kurangi daya endus dan daya gonggong mereka
hancurkan lensa kameranya
keringkan pita dan tinta
tumpulkanlah mata pena
biarlah pada tahun yang baru
modus-modus lama tetap berlaku
seperti sesuatu yang baru
tuhan,
lemahkan biji-biji ruku itu
agar nyanyian maju tak gentar
membela yang benar
bisa berubah liriknya
maju tak gentar
membela yang bayar
tuhan,
jika tahun baru datang
jangan biarkan virus pergi
sebab virus adalah komoditas
tempat uang cair bagai gula tare
pura-pura saja tidak kau lihat
saat aku bawa brankas negara ke rumah
sebab sepersepuluh dari padanya
akan kuberikan padamu
sungguh, grativikasi tak jangkau engkau
jika kelak ada rumahmu dibangun di satu desa
percayalah, aku sumbang tiang pilar
lebih banyak dari siapapun
kuharap senyummu menjelma pelangi
saat kutaruh uang gobang
dan uang pattimura
di kantungmu yang kempis
lagi pula tepos
terima kasih, tuhan
inilah aku orang beruntung
sanggup jual beli hukum
tanpa cemaskan borgol dan jeruji
amin

Baca Juga  Triwulan IV 2017, ITK Maluku alami peningkatan

Tual, 31 Desember 2020

=========

Cukaminya

Angkat jari jempolmu, tegakkan dia
Jepitlah di lipatan jari tengah dan telunjuk
Arahkan pada wajah para pengkhianat
yang selalu merasa paling terhormat
Di republik ini

Angkat jari tengahmu, tegakkan dia
Keraskan bagaikan menara ereksi
Arahkan ke biji mata kaum pencuri
yang selalu merasa halal korupsi
Dalam kantor itu

Mana jari kelingking, tegakkan dia
Balikkan ke bawah, ke dekat dengkulmu
Arahkan ke dekat dahi para pecundang
yang selalu merasa nikmat pembesar
O ternyata kerdil

Mari angkat lengan kiri, kepal tanganmu
Tinju ke angkasa, dekat dagu atau ulu hatinya
Kalau dia manusia, dia kan menangis dan tobat
Kalau bukan manusia, dia kan tersenyum dan maki
Cukaminya, cukardeleng, babi celeng

Baca Juga  Tapaki RI 01, Prabowo-Sandi alokasi 2 kursi menteri bagi Maluku

Tual, 23 Desember 2020

=====

Di Taman Nukila

Di mekar jantung kota majang
Kuncup senyummu bergelombang
Kau raba, lukamu masih meradang

Kau ingat panjang bentangan panggung
Tahun-tahun debu, di situ kau termenung
Kau peluk tubuh gunung-gunung

Kau baca huruf-huruf yang terpasang
Namamu ditulis dengan rasa sayang
Nukila, perempuan yang diganjang

Memang, kau gendong sekaligus dua gunung
Kie Matubu di atas kepala, kau junjung
Gamalama di atas punggung, kau tanggung

Di taman ini, ada banyak orang datang
Dengan mata bersilang cahaya benderang
Sanggupkah mereka terawang ke belakang

Bahwa pernah kau pergi ke ujung tanjung
Memandang wajah ayah dan ibu kandung
Pada awan-awan Maitara nan murung

Di taman ini, jojaro-ngungare begadang
Menghabiskan malam seribu bayang
Sampai datang bintang siang

Ingatkah mereka pada perempuan petarung
Terpelanting saat ombak sejarah menggulung
Menang itu untung, Kalah jadi buntung

Kalau akhirnya semua orang pulang
Tinggalkan taman ini sendiri bersulang
Kepada siapa kau beri seribu kembang

Dulu, kau tarik nafas di bawah mendung
Dalam hujan asam pedis tak berpayung
Benteng angkuh, kedaton sudah dirundung

Kau menangis di taman ini, berlinang-linang
Karena semua sayatan sejarah kau kenang
Siapa paham perasaan perempuan dalam perang

Baca Juga  Kapolres Tidore Serahkan 276 Buku Tabungan dan ATM BRI kepada Tukang Ojeg dan Sopir Angkot

Pernah kau bayangkan, Bayanullah yang agung
Andai dia tak mati, luka tak harus ditanggung
Anak tiri, kandung, bungsu, pun sulung

Di taman ini, kau sujud sembahyang
Ampun Jou Junjungan, ampun Maha Penyayang
“Maafkan aku, Ternate, izinkan aku hilang”

Ambon, 20 Desember 2020

========

Andai Ada Seribu Papua

seribu sungai papua
tumpah tangis pahit
air mata merah darah
tercurah mengalir lagi

seribu mama papua
tempuh jalan pedis
air mata timah panas
leleh kembali lagi

seribu mata papua
retina retak teriris
angkuh sangkur mata bedil
tiada lelah melenyapkan

seribu cinta papua
rasa bara asmara muda
republik remaja paksa dewasa
cinta-cinta monyet

seribu emas hitam papua
ditelan buaya-buaya putih
pemakan segala bangsa makanan
meranalah mamberamo-digul

seribu mulut papua
luluh di panggung ekspresi
bicara tak boleh suara
suara tak boleh bicara

seribu iklim papua
melulu cobaan pancaroba
mace pace paceklik keadilan
hanya pinang

seribu anak babi papua
mengais ubi-ubi kemanusiaan
mace pace kemarau kebenaran
hanya noken

seribu mimpi papua
dijagal sebelum terjaga
fosil separatis berhala nasionalis
hantu otonomi, ilusi kemakmuran

seribu bintang di langit papua
cuma venus bisa bakar batu
‘itulah bintangku
bintang kejora yang indah selalu’

andai ada seribu papua
aku rindukan hanya satu
papua gelombang senyum putih
bukan gelombang darah mati

Ambon, 27 Oktober 2020

=========