Lima Puisi Sandi Lalihun

oleh -33 views
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
Link Banner

Pantai Galela

“Mari datang di pante Galela, Nyong manis”.
Katamu sebelum pagi datang menaruh rindu di daun jendela

Di pantai Galela, rindu serupa gelombang dan aku melayari kenangan
Sambil menatap pulau seram yang romantis
Kucium biru laut yang asin seperti hujan di matamu musim itu Musim di mana, bibir kita saling bercakap banyak perkara
Kau merebahkan lelah di pundakku
Sedang aku menaruh harap di lubuk biru

Di Galela, semua teluk telah jadi asmara
Pelukan-pelukanmu yang liar, telah mengembara di antara arus dan pasang surut
Jadi angin
Jadi dingin
Jadi waktu
Jadi hidup
Jadi Urehena, sayang

Di Galela, ciuman panjang di atas batu karang masih jadi bara dalam ingatan
Menyala bagai api di tungku Ibu
Unggun di hatiku
Teduh bagai senja yang pulang di matamu

Link Banner

“Nyong manis, datanglah di pantai Galela”.
Ucapmu kembali setelah senja mengetuk pintu Suara Marsegu yang pulang ke dahan sagu dan ranting bambu Bagaikan rintihan rindu yang menunggu dengan gelisah di antara sehektar rumput laut dan dua kuntum bunga tanjung
Daun-daun ketapang yang menguning lunch di dadamu yang harum serupa bunga pala, dan buah gandaria

Baca Juga  Ambon Masuk 20 Kabupaten/Kota Terbaik Capaian Vaksinasi Lansia

Lekaslah pulang, kita akan mereguknya bersama hujan paling Leihitu
Damai cintanya adalah labuan terdalam Tempat kita selamanya abadi diamuk gemuruh dan angin topan

Di pantai Galela
Cinta tumbuh dengan seluruh
Jiwaku, jiwamu
Adalah satu.

Ureng, 12 Juli 2020

=======

Waehula

Di bibir pantai penuh angin
Kutemui hidup dengan melaut
Tubuhku asin
Mataku penuh pasir
Sesekali anyir
Sedang hayatku telah menjadi perahu

Seith, 26 September 2020

===========

Musim Pantai

Mari turun ke laut Nona
Menjala gurita dengan asin ombak dari gelombang angin Leihitu

Mari Nona. Kita melayari laut sebagai kehidupan
Adalah labuan terdalam tempat kita tenggelamkan semua luka

Mari Nona. Musim pantai telah tiba
Mari saksikan tanjung-tanjung sambil menyeruput kopi di atas perahu
Kemudian bercerita tentang anak-anak nelayan yang turun berburu senja

Baca Juga  Wakapolda Maluku Jemput Tim Supervisi Polri untuk Operasi Mantap Praja

Mari Nona. Laut sudah menunggu
Kita dan semua cinta yang bermuara.

Seith, 12 Januari 2019

========

Letang

Pada satu kenangan yang manis Perempuan itu datang membawa nama Morela Tubuhnya bau laut, rambutnya adalah ombak Sedang matanya adalah karang dan ikan-ikan

Dimanakah kau perempuan yang menitipkan rindu di atas pasir yang berbisik kelu? Aku memanggilmu di antara sengau angin Leihitu paling merdu

Bawa aku kembali atas nama cinta Sebab Letang belum juga mati, ia masih indah seperti dahulu. Saat pertemuan sepasang mata jatuh kepantai bercerita tentang satu ciuman panjang yang menebar wangi kenangan di bawah pohon ketapang.

Letang adalah rumah terakhir kita sayang untuk mencintai di dalam damai

Baca Juga  Pelanggaran PSBB Ambon akan Ditangani PPNS

Morela 5 September 2019

==========

Gereja Tua

Di persimpangan jalan kenangan, kau sendiri, termenung bagai rumah tanpa penghuni. Pada dinding kayu beratap daun sagu, pada mimbar tua pendeta, Ada sejarah dan cinta, ada Tuangala.

Tetaplah kuat meski terkadang debu jalanan menyelimutimu, hujan menyentuhmu, jangan putus asa. Yesus selalu bersamamu dalam kasih ingatan, hati, dan sebuah keabadian paling eden

Tetaplah menanti anak-anakmu Jauh dan dekat, rindu akan selalu membawa mereka pulang Menatap indah lekuk tubuhmu, berdoa untukmu, memberi berkat untukmu, sebagai jalan kemakmuran

Di persimpangan jalan kenangan, Yesus memberkahi usiamu. Amin!

Hila 5 Mei 2019

======