Lima Puisi Sion Selfanay

oleh -39 views
Link Banner

Maukah Kau Berpelukan Denganku

Maukah kau berpelukan denganku.? membalas kecemburuanku kepada angin, yang sewaktu-waktu mendatangimu dengan segumpal es.! yang jatuh. hancur, dan menjadi udara yang selalu mengetuk-ngetuk gendang telingamu, di kala tubuh butuh kehangatan? .

maukah kau berpelukan denganku sekali lagi? membalas kecemburuanku kepada hujan, yang sewaktu-waktu membasahi rumah, yang lama kubangun, bersamamu ketika bunga-bunga rasa mulai tumbuh! di pingiran kota, ketika mata saling beradu tatap?

maukah kau berpelukan denganku? membalas kecemburuanku kepada api, yang membakar rindu hingga berubah menjadi abu, yang ditiup angin dan basah ketika hujan hadir?

maukah kau berpeluk denganku, untuk terakhir kalinya kekasihku? aku hanya ingin memelukmu, tidak lebih. bila inginku kau penuhi, kunjungi aku di mana angin menghembuskan kenangan manis, yang jatuh, seketika cinta meniadakan waktu.

Link Banner

Ambon 24 Mei 2020

======

Untukmu yang tak Kunjung Datang

Sudah terlalu lama! aku menungumu di bawah langit, di tempat biasa kita menyaksikan anak-anak rindu beterbangan mencari tempat untuk berteduh dari kejamnya rintik sepi

Di bawa pohon berbunga itu, aku sendiri menatap mata langit yang menangis, hanya karena kau enggan sampai untuk bersua, mengeluarkanku dari penjara, rindu

Baca Juga  Glenn Fredly Ingin Perempuan Bawa Anjing ke Masjid Diproses Secara Hukum

Kamu tahu! tak mudah menggambarkan sesuatu yang tak tentu keberadaannya dalam dunia nyata, walau selalu hadir dalam pikiran.

Jika malam hadir, ia selalu mengajakku untuk melihat masa lalu yang memilih bergantung di setiap bulu mata semesta, di situ aku menggantungkan doaku berharap takkan pernah ada masa lalu kita yang tergantung di sana, tapi! biarlah ia bergantung di setiap mimpi yang takkan pernah menjadi nyata.

Galala, 14 juni 2020

======

Pelukan yang Membawaku Pada Malam

Di unjung tanjung lampu, tempat kita biasanya duduk bercerita tentang manisnya Aruku, kau malah menempelkan sebuah kecupan manis di keningku dan berkata; jangan cemas.

Aku yang masih polos dalam bercinta, hanya diam sambil menatap matamu dengan kegugupan yang menguasai tubuhku yang awam, sedang di atas kepalaku segala pertanyaan yang pernah terpikirkan sebelumnya, hingga yang belum terpikirkan pun hadir.

Senja melambaikan tanda untuk pulang, aku pun berdiri dan berkata; haruskah kita melangkah pulang ke rumah, padahal langit semakin gelap dan deburan ombak masih terdengar keras di telingaku.

Kau berdiri menatapku dengan tatapan tajam, sejenak kau jatuhkanku dalam pelukanmu yang begitu keras, dan hangat hingga gelap membungkusi senja bersama kita berdua, sambil kau bisikkan pada telingaku sekali lagi; jangan pernah lupakan pelukan yang membawamu pada malam, apabila nantinya kita membuka pintu pagi sambil meneteskan air mata, hanya karena kita tak bersama.

Baca Juga  Presiden Saksikan Pemberian Anugerah Kebudayaan ke Walikota Ambon

Ambon, 30 Juni 2020

=======

Senyuman Pertama yang Membuatku Jatuh

Kau adalah satu dari antara seribu ciptaan tuhan, yang membuatku terbang setingi langit lalu jatuh dalam dekapan malam

Dengan suara merdu dan senyum manismu yang mewarnai setiap bait lagu yang terucap oleh bibirmu, aku yang malang ini memilih jalan terdekat, tanpa harus masuk ke dalam dunia mimpi, untuk melangkahkan kaki pada pagi

Aku ingin bertegur sapa denganmu, ucapku pada malam, yang menjawabku dengan hembusan angin yang membuatku terbaring di kasur kusut, sambil mengigat rawut wajahmu yang selalu menjadi hantu dalam malamku.

Aku mengantung harapan pada kaki waktu Berharap, suatu saat kau membaca kata-kata ini, sambil menutup kedua matamu yang tajam, aku juga ingin agar lidahmu tak berbanting ketika kau ingin membacanya, kau tahu kenapa? aku tak ingin ada lelaki lain yang jatuh lagi.

Dan bila nantinya waktu mempertemukanku denganmu, aku tak ingin banyak, aku hanya ingin menatap matamu sampai ketajaman matamu hilang, dan akan kupastikan bahwa tak ada lagi untuk kau lukai.

Baca Juga  Peringati Hari Perhubungan Nasional, Menhub Ajak StakeHolder Bersih Laut

Untukmu yang membuat mataku tak ingin memandangi yang lain”.

Ambon, 4 Juli 2020

=====

Alasan Jari-Jariku Lelah Menulis

Sudah hampir seminggu aku tak menulis, tentang kau, Aru, dan juga Ibu yang melahirkanku ke bumi, untuk menengelamkanmu dalam lautan cinta, dan juga memberikan cucuran air mata kasih sayang, padamu di kala kau haus akan rasa.

Kenapa kau begitu malu? untuk menceritakan tentang derita yang membuatmu berkurung dalam kamar sepi berdebu, yang membuatmu menempelkan senyuman palsu pada kalimat; aku tak kenapa! kau menjelaskannya padaku sambil menyelimuti hati yang sedang menangis.

Aku ingat, dimana kau pernah berkata; kau tak pandai berbohong, lalu mengapa sekarang kau berbohong tentang gelisah yang kerap menyiksa batinmu?

Aku benar-benar gelisah, dalam keramaian malam, yang dihiasi sedikit kenangan bulan juni dengan rintik-rintik rindunya yang rapuh.

Aku ingin agar kau hadir sebagai pengerak jari-jariku yang sudah hampir semingu tak menari-nari di atas kertas putih, hanya karna lelah menunggu balasmu

Ambon, 9 Juli 2020