Lima Puisi Wirol Haurissa

oleh -9 views
Link Banner

Nairaay

di atas motor kayu. kudapati orang-orang saudara, barbau fuli ikan air garam yang harum di bawah matahari. di atas mator kayu, hatiku berenang menuju, separuh tertinggal di alur-alur pelayanan, pelayaran, hutan dan laut raya bersama rindu yang menghabiskan kata. di atas motor kayu, aku menyapu ombak ke barat dan masoro ke timur di antara gunung api dan banda besar. di atas motor kayu, ay selamanya begitu hidup, begitu membuat aku menari dengan naira dan pulau-pulau kuat dan berani.

Laut Banda, 3 April 2019

=======

Seiteraya 1982

suatu kisah di bulan mei. diwakili seorang anak yang digenggam tangannya untukku. dia senang bercerita suka-suka tentang ayahnya. saat itu kami berdua teduh di bawah atap, sambil melihat burung-burung menempati sarang setelah turun memberi makan. kami juga melihat semangkok besar berisi air hujan menyeberang malam. di bagian kiri mangkok itu, ada semua keheningan, di bagian kanan ada semua nyanyian dan lirik-lirik kehendak diri yang membuat semuanya adil. kayu manis, fuli yang cukup dengan rasa bahagia. matahari ceria. laut pasang. dan kedua tangannya diangkat. semuanya berdiri, teguh pada Tuhan sesuai dengan asal tanah dari mana mereka ada.

Link Banner

Ambon, 22 Mei 2020

======

Baca Juga  Memaki di Facebook, Politisi NasDem Polisikan Ketua Pemuda Desa Fuata

Hikayat Nelayan

hari yang panjang. seorang pria jauh ke laut. membaca angin, menuliskan arus secara diam-diam lalu menurunkan senar dan kail, menanti ikan-ikan melompat. ikan makan, makan ikan. hanyalah kesenangan.

Teluk Ambon, 21 Juni 2020

=======

Nubuat

“apa yang kau lihat” katanya dengan bibir renyah, mata berkedip. masalah?

sudah lama. apa lagi yang ingin dibicarakan; anak sekolah yang gemuk, yang menulis di papan dan menghapus tulisannya dengan sekali bersin. atau akting seorang perokok.

bila siang ini pertama kali segala yang buruk lebih sering diisi pada otak dengan cepat. dari situ, keterbatasan dari banyak tukang sekutu, pemerkosa hak, banci yang setia, pecundang, penghianat, dan penjilat adalah ingin sebuah lentera untuk dibawa berjalan.

Baca Juga  Hamil 6 Bulan Karena Terbui Janji Manis, Indri Malah Ditinggal Sang Kades

hanya saja, tidak ada tempat lagi untuk lampu yang cukup dekat untuk semua itu. masing-masing.

=======

A. Tapilatu 1952

guruku membayangkan beberapa bintang yang malam berjalan dari mulutnya. bercahaya seperti bibirnya.

bila dia tertatih. seperti ombak menyapu di pantai, kusapu air matanya.

saat bersamaan. guruku melewati pintu, seakan ingin mematahkan rahang saat anak-anak senang balas kata.

buku adalah ajakannya. kubaca berjudul-judul berminggu-minggu. dari nama keluarga, saudara dan sebagian besar dari wajah murid-murid, lukisan, musik dan tarian.

guruku itu mesra, memberi isyarat lalu mulai mengambil kertas, pensil, kertas dan memulai dari awal. masa depan.

Banda Ay, 2 Mei 2019 – 📷 Ambon 2 Mei 1997