Lima Puisi Wirol Haurissa

oleh -31 views
Link Banner

Selembar Daun 1940

aku bertemu dengan seseorang pada bulan november dua ribu enam belas. dia mulai turun setelah melihat dari balik bahunya. keberanian yang tak ragu. hujan.

dan wajahnya berubah menjadi cerah saat matahari naik di antara keheningan yang tak kaku.

katanya padaku; yang kau lihat adalah tempat manusia, begitu kecil seperti kuburan. tak ada jendela selain bingkai kecil. kamar tidur pas-pasan, tidak ada monopoli, tidak dapat berguling ke sana dan kemari.

selain itu, ada batu tulis terbuat dari mamer. di situ, bila ada sedikit saja nyala, mungkin hanya sebuah puisi yang ditinggalkan pada kehidupan untuk dibaca kembali. penyair.

Link Banner

aku tidak tahu bagaimana harus berbicara apa? tapi mungkin seseorang harus menyerah menjadi tua dan memilih untuk pergi. sendiri.

Baca Juga  Ini 10 Cabor yang Rencananya Tak Dipertandingkan pada PON XX di Papua

Ambon,19 Juli 2020

=======

Inilah Harapan

di dekat pagar pantai
aku melihat ikan besar kecil
berputar-putar sendiri,
di samping mereka ada ikan-ikan lain
menciptakan arus.
serentak mereka berputar
kembali berputar-putar
putar berkembang,
tenggelam dan muncul berkali-kali
berputar-putar.
datanglah ombak secara beruntun,
mereka diombang ambingkan
masuk dan keluar.
belum lagi baling-baling kapal
berputar ke atas dan ke bawah,
ke kiri dan ke kanan, air yang dalam.

inilah harapan

di dekat pagar pantai. banyak pasir yang digenggam, biarlah tiupan angin menyaringnya ke dalam kata; sudah hampir malam. lihat sebuah protret atin setelah cerita ikan-ikan.

10 Agustus 2020

=======

Paracletos

hujan paling tua turun. matahari berkilau di antara pepohonan. rumah yang sepi kembali ramai.

Baca Juga  Mulai Hari Ini, Harga Pertamax Turun Rp200 per Liter

di atas bukit seorang lelaki mengucapkan kalimat berbahagia dan semua orang bersandar padanya. karang-karang laut disusun menjadi rumah, orang-orang kudus mengukur jalan di antara ombak dengan layar yang tak patah-patah sambil bertemu ribu-ribu mata berlutut dengan berat.

di kursi-kursi terdapat bermacam kelompok umur yang mendengar cerita ayat-ayat dan menyanyi lagu solid dan berayun. siapa tahu malaikat-malaikat menari sambil memetik senyum menjadi hasil dari sepucuk semasanya, tumbuh setelah petani memberi tempat dan menyiramnya.

dan kami belajar untuk percaya; kalau-kalau kami adalah belaskasihan tuhan, sebuah bentuk debu yang surgawi.

8 September 2020

========

Paradoks

hari yang panjang. seorang pria jauh ke laut. membaca angin, menuliskan arus secara diam-diam lalu menurunkan senar dan kail, menanti ikan-ikan melompat. ikan makan, makan ikan. hanyalah kesenangan.

Baca Juga  Ganja Berikan Harapan Baru untuk Kesembuhan Pecandu Heroin

Teluk Ambon, 21 Juni 2020

=======

Siklus

anak-anak melayang di atas pasir, berlari suka-suka di dekat laut yang menonton gerak musim. tidak ada ketetapan manusia tentang langkah. tidak untuk batas-batas bilangan. sebab di dalam kesadaran, kita adalah keteraturan yang revolusioner.

Banda Ay, 23 Juli 2019

=======