Lima Puisi Wirol Haurissa

oleh -172 views
Link Banner

C. I. TAMAELA 1957

tifa-tifa, ribu-ribu suara mantra diayunan dari rongga dada. ribu-ribu hujan berbaris memukul ombak di banda. ribu-ribu kumpul musim, ribu-ribu pela ayo e, manis lawang e.

antua yang membuat kolosal di teluk-teluk, perahu ribu-ribu, anak-anak dan dayung arus menumpahkan keceriaan, gerakan-gerakan teratur tanpa batas, layar-layar dikibarkan, kuberikan hormat padamu tamaela sayang e.

katamu; mari kita nyanyikan kenikmatan di jejak pasir, buih-buih yang rima melayang menemui kebenaran dan menyebarang. cahaya menjadi tangga nada, bintang-bintang menggedap saban batu-batu di isi irma laut e.

sekarang. dalam keheningan yang turun pelan bersama harmoni itu. kita menandai akhir dari tubuh yang diam tapi tidak pada bunyi, nyanyian, suara-suara, bambu, kayu-kayu, alam dan segala yang tertera di dalamnya. semua dijadikan irama balok, tifa-tifa, toki toki tifa e.

Banda Naira, 20 April 2020

========

Baca Juga  Patrick Moenandar Salurkan Bantuan untuk Pemilihnya di Dapil Sirimau I Ambon

NAIRAAY

di atas motor kayu. kudapati orang-orang saudara, barbau fuli ikan air garam yang harum di bawah matahari. di atas mator kayu, hatiku berenang menuju, separuh tertinggal di alur-alur pelayanan, pelayaran, hutan dan laut raya bersama rindu yang menghabiskan kata. di atas motor kayu, aku menyapu ombak ke barat dan masoro ke timur di antara gunung api dan banda besar. di atas motor kayu, ay selamanya begitu hidup, begitu membuat aku menari dengan naira dan pulau-pulau kuat dan berani.

Laut Banda, 3 April 2019

=========

MAMA IBU 1940

W. Pieritsz-Sahureka

dalam diskripsi yang lain, aku menulis kalimatnya;

masa muda masa tua asam manis pala. ketika kengerian ini mengacaukan imanmu. jangan menjadi ngeri. jadilah sahabat. berjaga-jagalah, bertolong-tolonglah.

dia yang kau percaya sudah bangun dari istirahatnya, menyeka mimpi buruk sejarah di matamu. dia sudah memulainya, saat suara orang-orang di jalan menuju pintu, melintasi tanah berpegang pada lagu apapun juga menimpamu. tuhan menjagamu.

Baca Juga  Gak Perlu Malu Lagi, Perut Buncit Bisa Hilang dengan Cara Ini!

jangan takut saudaramu flu dan batuk
pancaroba sedang bertamu. jadilah percaya bahwa tuhan itu hidup walau menunda keyakinan, pasti datang kelegahan. pasti datang.

Banda Ay, 10 April 2020

=======

MARIA VEERMAN 1938

iman baginya adalah takar di banda ay. di mana ombak dan badai dari angin mengalah dan kalah. bahkan dengan susah payah mencabutnya dari tempat dia percaya. sedangkan kayakinan seperti punggungnya yang menahan pulau-pulau di atas samudera.

Banda Ay, 5 April 2020

==========

PANDEMI

semua berubah. sunyi tetap tidak di antara tanda yang mengarah ke tanah. orang-orang sudah tahu apa yang membunuh. lalu sebagian bersembunyi, sebagian lagi menunjukkan diri. para pekerja kesulitan ke kantor, tapi para petani tetap ke kebun. anak-anak sekolah tinggal di rumah, bangku-bangku dingin semuanya.

Baca Juga  Geram, Ini Pernyataan Keras Novel Baswedan untuk Firli Bahuri

di satu daratan, air tidak mengalir tapi sudah kebiasaan. masing-masing minum dari hujan. sarannya bak penampung, hati pun senang. di lain daratan, menurut dokter bahwa sulit mencari pasien, sarana terbatas ke rumah sakit, dan rumah sakit pun terbatas. debu dan angin meniup dan hilang.

aku tunduk wajah di bawah langit, hati semua ketiadaan mengembalikan hati semua manusia. seseorang di lenganku seperti sakit, tapi dia punya sisa tenaga untuk percaya dan untuk tidak melupakan keyakinannya.

aku membuka jalan dan berharap arah antara yang pergi dan datang di hidup ini, tidak ada yang perlu diremehkan untuk memberi sedikit nafas ke tenggorokan sesamanya seperti nafkah kesembuhan.

Banda Ay, 2 Maret 2020