Lima Puisi Yanni Tuanaya

oleh -58 views
Link Banner

Ku Bilang Ini Rindu

Ku bilang ini rindu;
Melihat lagi sepenggal sajak rayu
yang menembus temaram itu bayangmu
Bermandikan cahaya bulan
Sebening pendarnya di telaga
Anak Bulana tak gundah gulana

Ku bilang ini rindu;
Membaca lagi penolakanmu
dan yang dikirim pancuran adalah gemerincing resah dari satu batu ke batu lain
Menyapa, menyayat bagian paling rapuh
Bukan di kaki air aku terbawa jauh
Di palung jantung,
Aku sudah ampas sedari dulu

September 2020
=======

Cinta Itu Luka 2

Pada siapa aku harus berlatih kehilangan? Padamu aku siap terluka; ditinggal dan dicampakkan bahkan ketika dilupakan. Setelahnya akan baik-baik saja.

Link Banner

Tapi pada siapa aku harus berlatih kehilangan?
Temanku bercerita dengan air matanya yang hujan, gemuruh dadanya yang ombak; “Di tepi ranjang, aku ingin pergi bersamanya. Menggenggam jemarinya yang kaku, memeluk tubuhnya yang dingin, mengecup bibirnya yang biru. Kawan, tidak ada sesiapa yang sanggup atas kehilangan ini. Satu dua hari kamu akan duduk sembari membujuk Tuhan agar kamu saja sebagai gantinya, atau meminta agar sesegera mungkin menyusulnya.”

Baca Juga  Maknai Bulan Suci Ramadhan, Sahabat 20 Gelar Buka Puasa dengan Bupati Kepsul

selama ini di setiap kepergian, aku hanya iba mengucap duka kemudian berkabung secukupnya. Tanpa merenung jika kelak dua orangku akan pulang.
Apakah aku siap? Tentu tidak.
Maka, sebenar-benar cinta itu luka.

sebelum nanti jauh,
Mestinya kita bersyukur; atas kesehatan dan kesempatan bersama mereka.
Sebab rumah yang sunyi dari cinta, tempat pulang paling luka. Kita tak akan pernah siap, apalagi sanggup. Sebab konsekuensi mencintai itu luka.

September 2020
===============

Bagian 1

Ombak yang membawamu berlayar adalah aku
Meski dermaga menunggu pulang
Tapi biru lautan selalu punya rahasia
Dan di antara lekuk ombak
Ada pasir yang menari
Payau pun sedap
Dan sering: mercusuar tak pernah sendiri
Harapan yang ku gantung dekatnya,
Masih api
Meski angin sering membelai

September 2020
===========

Baca Juga  BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan Dan Bantuan untuk Warga Kota Ambon

Pelawat

Setelah Ismail membaca puisi miliknya
Semerbak itu menggerogoti isi hidungku
Dia menatap dalam, penuh salam
(Kamu seperti seseorang di musim lalu)

Seorang penyair memang pandai bercanda
Melawat pada mata pengunjung
Kadang memberi kode pada isi puisinya

Seperti perempuan itu yang berkata: “malam ini telah membungkus kita, di bawah biru langit tanpa pelita.”

September, 2020
==========

Ditinggal Bayangan Diri

Dik. Siapa lagi raga yang akan aku sebut seperti itu? Meski ada, lidahku hanya mengecap hambar pada kenyataan bahwa yang manis hanyalah dirimu.

Aku tahu, mereka tahu, bahkan Tuhan tahu dan Dia adalah dalang yang mengatur perpisahan ini. Tapi hatiku tak cukup kuat untuk menerima bahwa kamu telah pulang, bahwa kamu telah hilang.

Dik. Takdir ini sungguh getir bagi aku yang segelintir. Sebab tiada lagi suara-suara rengekan dari bibir yang telah kujur terbujur. Sebab tiada lagi yang menghibur karena kematian tak ada yang bisa menarik ulur.

Baca Juga  Darah Tinggi Anfal, Karepesina Ditemukan Meninggal di Atas Jalan

Sebagai kakak yang kehilangan sombar teduh, sebagai perempuan yang kehilangan tempat berceloteh konyol, aku masih hanyut dalam bayang-bayang diri berulang–berselang. Sampai pada suatu malam kamu datang menepuk pundak, memberi sabar atas kepergian, memberi kabar atas perjumpaan, aku adalah yang paling rapuh di tengah angin malam yang membawa ombak pada kedua mata.

Dik. Betapa aku rindu atas diri yang melukis tawa, atas apa saja yang tertulis dari balik tatapan perang di atas dulang milik mama. Semuanya benar-benar tiada pada mata, hampa pada kata dan hanya manis pada cerita.

Tak mengapa dik. Seorang penyair pernah berkata; “Setiap yang datang akan pergi. Kita hanya perlu bersabar dan berbesar hati saja.”
Meski pelik, meski memekik menahan rindu, aku hanya sedang terpukul sebab tak siap di tinggal bayangan diri.

September 2020
======