Lima Puisi Yanni Tuanaya

oleh -36 views
Link Banner

Mantan Kekasih itu Petrichor

Malam ini ia datang membawa resah di dadanya. Perihal dulu aku pernah meninggalkannya. Sebagai mantan kekasih; luka yang ia kemas di depanku bak petrichor. Harumnya yang kering menelisik ke dalam jantung yang pernah begitu tega melukainya.

Juga seperti kulacino dari segelas susu dingin di atas meja perjumpaan kita. Lukanya sangat basah, tatapannya menyimpan sendu paling getir. Hingga tanganku harus kembali menyapu lara yang ia rawat sepeninggalku.

Sebagai perempuan yang membasuh luka pada dada sendiri; aku harus memahaminya. Jika cinta alasannya, kenapa dulu aku pergi? Jika aku pergi karena takut memberi luka, apakah itu karena cinta? Betapa ego sedang menguasaiku.

Mantan kekasihku ini sudah terlalu tabah. Entah seberapa lama ia menunggu dalam kegersangan. Menerka-nerka kelabu awan. Menduga-duga hujan. Ia menjadi tabah sebagai debu yang beterbangan.

Link Banner

Oktober 2020

=======

Baca Juga  Hari ini, Menkominfo RI kunker sehari ke Kota Ambon

Hujan Di Kotaku

Sayangku.
Pagi ini di kotaku, hujan turun begitu deras. Seakan rinainya ini mengabarkan duka kita atas rindu. Rindu yang memenjarakan kita dalam keresahan. Rindu yang membebaskan kita pada khayalan. Tetiba aku bertanya-tanya; siapakah orang yang sedang menyelimutimu ketika dingin? Siapakah orang yang menyalakan tungku perapian, membuat secangkir kopi, lalu siapakah yang menemanimu menghabiskannya? Musim-musim begini baiknya kita saling merindu. Sebab di dadaku, hujan juga sedang musim.

Sayangku.
Katakan lagi kata itu padaku. Sebab angin yang menerpaku dari balik korden jendela pagi ini sangatlah gemulai. Menelusup pada ingatanku yang sedang ranum-ranumnya atas mekar bayangmu. Aroma hujan, rintik dan suhunya yang dingin memaksaku membenamkan tubuh lebih dalam lagi pada selimut yang bukan pelukmu. Tak mengapa. Di ruang ini, selain aku yang rindu, ada juga oktober yang malang (matanya kelabu, pipinya basah).

Baca Juga  Cek 6 Fakta Menarik Usai Kemenangan Lyon Atas City

Sayangku.
Ku harap kata itu yang bisa menghiburmu. Ketika hujan menari atas perjumpaannya di atas tanah, maka genangan adalah rindu yang telah menjadi kenangan; bahwa aku merindukanmu bukan sebanyak rintik hujan yang jatuh, bahwa aku merindukanmu sebanyak ia yang meluap tumpah melalui ember di bawah wuwungan rumah.

Sayangku.
Ku harap rindu kita juga sedang hujan. Dan kita sedang kuyup di hujani rindu.

1 Oktober 2020, Pena Mahina.

======

Soneta

Siapa sangka telah terbit
Cahaya mentari menerobos melalui terali-tirai jendela
Rumah-rumah yang berpenghuni
Soneta, itukah kamu?

Mengeluh dan gembira
Pada baris dan bait yang apik
Di sudut kusut ruang aksara
Sebagai metafora yang berlarik

Baca Juga  Morotai United unggul Panther FC Manado 2 - 1

Dimana lagi kamu bermukim?
Selain tangan papa yang kapalan
Atau uban mama yang terang benderang

Aku punya lima baris berisi kalimat rindu
Pada kekasihku di seberang sana
Kamukah itu, Soneta?

Oktober 2020, Pena Mahina

========

Bercinta

Kita bertukar kabar
Berbagi rindu
Hanya satu yang kamu lewatkan pada malamku sebelum tidur;
Aku berdo’a selalu mencintaimu
Lalu ketika terbangun;
Aku bersyukur masih mencintaimu
Besok dan seterusnya seperti itu

Perihal luka nanti saja
Kita bercinta dulu sayang.

Oktober 2020, Pena Mahina.

=======

Rindu II

Adalah yang sunyi memandang
Dan tabah
Tak berubah

Bukannya apa
Tapi rupa kita pura-pura lupa

Sementara benak kacau
Terkoyak
Rindu itu meresahkan segala isi dada.

September 2020
==========