Lionel Messi dan False Nine Ala Ronald Koeman di Barcelona

oleh -21 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Lionel Messi disebut mendapatkan peran baru dalam skema permainan Barcelona di bawah asuhan Ronald Koeman. Perubahan peran tersebut tak lepas dari kepergian Luis Suarez ke Atletico Madrid.

Media-media Spanyol seperti Marca, AS, dan Sport, menyebut Lionel Messi kini tak lagi bermain sebagai false nine. Marca misalnya, menyebut Si Kutu, julukan Messi, bermain lebih layaknya seorang penyerang murni, peran yang dijalankan Suarez selama enam tahun terakhir di Barcelona.

Seakan memperkuat klaim Marca, Pelatih Timnas Argentina Lionel Scaloni pun angkat bicara soal ini. Menurut dia, tugas yang diberikan Ronald Koeman kepada Messi jauh berbeda dari yang si pemain jalankan di Tim Tango.

Scaloni menyatakan bahwa di Timnas Argentina, Messi justru lebih bermain di belakang penyerang, bukan sebagai predator di kotak penalti lawan.

Link Banner

Lantas apa sebenarnya perbedaan konsep false nine dengan penyerang murni? Bagaimana Messi memainkan kedua peran itu dan apa perbedaannya di era Ronald Koeman?

Sejarah soal konsep false nine sendiri tak bisa ditentukan kapan awal mulanya. Media Inggris The Guardian setahun lalu menuliskan bahwa konsep ini sebenarnya sudah berusia 126 tahun.

Namun ada juga yang beranggapan bahwa konsep tersebut berawal dari Timnas Hungaria di era 50-an dimana penyerang Matthias Sindelar memainkan peran tersebut. Ada juga yang menyebut bahwa konsep ini sudah diperkenalkan Timnas Uruguay pada Piala Dunia 1930.

Penyerang Barcelona Lionel Messi, menjadi pemain dengan penghasilan tertinggi tahun 2020 versi Forbes. Bintang Argentina memiliki kekayaan sebesar 98 juta poundsterling atau atau setara Rp1,8 triliun, yang didapatkannya dari gaji sebesar 72 juta poundsterling ditambah pendapatan sponsor 26 juta pound. REUTERS/Rafael Marchante/Pool

Konsep false nine pun terus berubah, beradaptasi dengan permainan sepak bola yang semakin cepat dan skema permainan yang diterapkan seorang pelatih di timnya.

Seorang false nine, bisa diterapkan dalam skema tiga orang penyerang, dua orang penyerang atau pun seorang penyerang yang sebenarnya adalah seorang false nine, atau tidak memiliki penyerang tengah murni sama sekali.

Peran itu juga tak hanya bisa dimainkan oleh seorang penyerang, seperti Roberto Firmino di Liverpool, terkadang juga diperankan oleh seorang gelandang serang seperti Francesco Totti atau Cesc Fabregas, atau juga dimainkan oleh seorang pemain sayap seperti Lionel Messi, Raheem Sterling di Manchester City dan Eden Hazard saat berada di Chelsea.

Baca Juga  Kakankemenag SBB Serahkan Sarana Prasarana KUA

Secara sederhana, false nine bisa diartikan sebagai seseorang yang memainkan peran penyerang dan juga gelandang serang sekaligus. Tak seperti penyerang murni yang area bermainnya lebih banyak di kotak penalti, false nine bisa bergerak di seluruh area pertahanan lawan, masuk ke dalam kotak penalti, turun ke lini tengah, atau pun menyisir sisi sayap.

Karena peran ganda yang dia jalan, seorang false nine membutuhkan kemampuan di atas rata-rata pemain lain. Dia harus memiliki visi bermain yang tinggi, ketajaman mencetak gol, mengendalikan tempo permainan hingga akurasi umpan yang aduhai hingga menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.

Hal itu mungkin yang dilihat Pep Guardiola dari Lionel Messi hingga akhirnya memberinya peran tersebut pada laga El Clasico musim 2008-2009. Dalam buku biografinya yang berjudul “Herr Pep”, Guardiola menyebutkan bahwa dia mendapatkan ide tersebut pada malam sebelum pertandingan setelah menganalisa permainan Real Madrid.

Dia langsung menelepon Messi dan meminta untuk datang ke kantornya. Kepada Messi, Guardiola menunjukkan bahwa Real Madrid memiliki ruang kosong yang bisa dieksploitas di antara dua bek tengah dan gelandang bertahan. Di area itulah dia minta Messi bermain, bukan di sisi sayap seperti yang biasa dia mainkan.

Guardiola menempatkan Messi di belakang Samuel Eto’o yang berfungsi sebagai penyerang murni dan lebih mendekat dengan Thierry Hendy yang berada di sayap kiri.

Real Madrid memang sempat unggul lewat gol Gonzalo Higuain, tetapi itu tak bertahan lama. Begitu Guardiola menginstruksikan Messi bermain lebih ke tengah jalannya pertandingan berubah 180 derajat menjadi milik Barcelona.

Baca Juga  Mutasi di tubuh Polri Kapolda Malut masuk kotak Wakapolda Promosi

Skema tersebut berjalan lancar. Dua bek Real Madrid, Fabio Cannavaro dan Cristpoh Metzelder, kebingungan melihat Messi bergonta-ganti posisi.

“Fabio dan saya saling memandang,” kata Metzelder dalam buku biografi Pep Guardiola itu. “Kami seolah bertanya, `Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita harus mengikutinya ke tengah atau menjaga kedalaman?`. Saat itu kami benar-benar tak memiliki petunjuk.”

Tak mendapat arahan dari pelatih, keduanya pun masuk ke dalam jebakan Pep Guardiola. Semua pergerakan yang mereka lakukan salah. Jika menjaga Lionel Messi, maka Henry dan Eto’o mendapatkan ruang. Melepaskan Messi pun bukan opsi yang baik.

Lionel Messi memulai perannya sebagai false nine dengan sangat apik. Umpan yang dia lepaskan tak mampu dihentikan Sergio Ramos, saat itu bermain sebagai bek kanan. Alhasil Henry tinggal berhadapan dengan Iker Casillas dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Pembantaian terhadap Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu pun dimulai. Lionel Messi menyumbang dua gol dan satu assist pada laga tersebut dan sejak saat itulah dia dikenal sebagai salah satu false nine terbaik di dunia.

Dalam perjalanannya, Lionel Messi memainkan peran false nine dari posisi yang berbeda-beda. Mulai dari sayap kanan, sayap kiri hingga penyerang tengah.

Saat Samuel Eto’o hengkang ke Inter Milan pada awal musim 2009-2010 misalnya. Guardiola lebih banyak menaruh Messi sebagai penyerang tengah setelah hubungan si pelatih dengan penyerang Zlatan Ibrahimovic memanas. Akan tetapi perannya sebagai false nine pun tak berubah.

Begitu pula ketika Barcelona ditinggal Ibrahimovic dan Thierry Henry dan memboyong Alexis Sanchez pada musim 2011-2012. Dengan Pedro Rodriguez dan Sanchez menempati posisi sayap, Messi lebih banyak bermain di area kotak penalti lawan dan turun ke lini tengah.

Baca Juga  Protes mulai anarkis, TNI-Polri bubarpaksakan massa

Meskipun demikian, Guardiola sebenarnya tak hanya memainkan satu false nine di Barcelona, bahkan hingga kini di Manchester City. Lionel Messi mendapatkan banyak bantuan dari Xavi Hernandez yang juga didorong lebih ke depan. Di Manchester City saat ini, peran Xavi itu banyak dimainkan oleh Kevin de Bruyne dengan Raheem Sterling bermain di posisi mirip Messi.

False nine memang tak hanya terpaku pada satu pemain saja karena konsep itu adalah sebuah peran, bukan posisi. Di lapangan, peran false nine bisa berubah-ubah dari satu pemain ke pemain yang lain. Pergerakan antar pemain yang cair, tak terpaku pada posisinya, menjadi kunci memainkan skema false nine dalam sepak bola modern.

Bisa saja seorang gelandang bertahan atau bek kemudian merangsek ke depan dan menciptakan peluang bahkan gol. Hal itu tampak dalam permainan Barcelona di era Ronald Koeman saat ini.

Gol keempat Barcelona ke gawang Villarreal menjadi contohnya. Messi turun jauh ke belakang sementara Sergio Busquet yang sangat jarang maju ke depan tiba-tiba sudah berada di kotak penalti lawan. Alhasil skema itu membuat lini belakang Villarreal terkejut dan memaksa bek Pau Torres menciptakan gol bunuh diri.

Pada dua gol awal Barcelona pada laga akhir pekan kemarin. Peran false nine tersebut juga dimainkan oleh Philippe Coutinho. Gelandang asal Brasil itu menjadi konduktor serangan Barcelona.

Ronald Koeman tampaknya ingin mengaburkan konsep bahwa Lionel Messi adalah satu-satunya false nine dalam skema permainan Barcelona. Tujuannya adalah menimbulkan lebih banyak kebingungan bagi lini belakang lawan dan membuat mereka bermain lebih atraktif, tak tergantung pada Lionel Messi seorang. (red/tempo)