LPSK Desak Jokowi Segera Bentuk TGPF Independen Tewasnya 6 Anggota FPI

oleh -26 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendesak Presiden Joko Widodo segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen tewasnya 6 anggota FPI.

Pembentukan TGPF tersebut harus terdiri dari berbagai tokoh dan ormas yang terpercaya untuk mengembangkan kasus penembakan enam anggota FPI di Tol Jakarta-Cikampek itu.

Apalagi, peristiwa penembakan mati tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat lantaran memunculkan dua versi berbeda.

Polda Metro Jaya mengklaim terpaksa melapaskan tembakan, begitu pun sebaliknya FPI menyatakan bahwa tindakan polisi tersebut adalah pembunuhan.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua LPSK, Maneger Nasution dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

“Terkait munculnya 2 versi tentang tragedi itu, versi kepolisian dan versi FPI, LPSK mendukung usulan berbagai kalangan agar Presiden sebagai Kepala Negara membentuk semacam Tim Independen/TGPF yang terdiri atas berbagai terutama tokoh masyarakat sipil yng terpercaya,” ungkapnya.

Baca Juga  7 Gereja Tercantik di Indonesia yang Bisa Dikunjungi Saat Liburan

Menurutnya, kasus penembakan pengawal Habib Rizieq Shihab (HRS) itu sepatutnya harus menjadi fokus utama untuk secepatnya diselesaikan.

“Proses hukum yang profesional dan akuntabel, hendaknya dikedepankan dalam menyelesaikan kasus ini. Agar tidak menjadi opini publik yang sulit dikontrol, penegakan hukum atas peristiwa ini penting disegerakan,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Maneger, LPSK siap melindungi korban dan saksi terkait peristiwa tewasnya enam anggota FPI itu.

“Untuk membantu pengungkapan kasus ini, LPSK kepada korban dan saksi mengetahui peristiwa yang dilaporkan terjadi di sekitar Pintu Tol Karawang Timur itu. Korban maupun saksi yang memiliki keterangan penting dan khawatir adanya ancaman, LPSK siap beri perlindungan,” tuturnya.

Baca Juga  Daftar 32 Tim Fase Grup Liga Champions

Dari informasi awal, ungkap Manager, apa yang disebut polisi sebagai bentrok bersenjata itu terjadi di ruang publik.

“Sangat dimungkinkan ada saksi yang mengetahui peristiwa dini hari itu, termasuk dari anggota FPI sendiri, yang mengaku menjadi korban pada kasus ini,” tambahnya.

“Faktor keamanan dan bebas dari ancaman, menjadi hal penting bagi mereka untuk berikan keterangan,” pungkasnya. (red/pojoksatu)