Malam Jahanam di Gamlamo

oleh -239 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Malam ini, 28 Februari 1570 saat bulan belum sepenuhnya bulat – magrib baru saja pergi ketika belati Antonio Pimental – prajurit rendahan suruhan Gubernur Portugis Diego Lopez de Mesquita – menghujam tubuh Sultan Khairun Jamil. Sultan yang seorang diri memasuki kediaman gubernur Portugis itu seketika mangkat tanpa wasiat. Jenazahnya bahkan tak ditemukan dan diduga dibuang ke laut. Pembunuhan Khairun terjadi dalam benteng Gamlamo, tempat Ia dan Gubernur yang licik itu akan bertemu membahas masa depan kerjasama Ternate dan Portugis.

Portugis sangat gerah dan merasa terpojok sejak Khairun bertahta. Khairun adalah Sultan termuda dalam sejarah Ternate. Ia jadi Sultan saat berusia 13 tahun. Karena masih sangat muda, roda pemerintahan dijalankan oleh Salahakan Samarau, Wali Sultan yang diberi mandat hingga Khairun cukup usia. Namun Portugis ikut campur dan bertindak merusak tatanan Kesultanan. Mereka mengangkat Tabariji, saudara tiri Khairun sebagai Sultan. Imbalan yang didapat adalah sejumlah keuntungan politik maupun ekonomi termasuk dalam upaya penyebaran agama Kristen.

Baca Juga  Sosialisasi MRS Festival, Polda Maluku sambangi SMA PGRI 1 Ambon

Ketika Khairun dewasa, Ia mengambil alih jabatan Sultan dari Tabariji yang sudah memeluk agama Kristen. Portugis semula bermuka dua dan mendukung Khairun yang memang lebih berhak. Namun mereka sungguh terkejut ketika Khairun membuat dua keputusan penting. Pertama : membatalkan trakat antara Tabariji dan Portugis dimana Ternate menyerahkan wilayah Ambon, Seram dan pesisir Papua kepada Portugis. Kedua : membatalkan “deklarasi” yang dibuat Tabariji bahwa Ternate adalah wilayah kristen dibawah kekuasaan Portugis.

Link Banner
Foto ilustrasi : Historia.Id

Dua keputusan Khairun inilah yang membuat Gubernur Mesquita mengundang Khairun ke Gamlamo. Khairun yang ragu luruh hatinya saat Mesquita bersumpah sambil memegang injil bahwa Sultan akan dijamin keamanannya. Khairun – Sultan Ternate pertama yang menentang kehadiran Portugis di wilayah Maluku itu – sebagaimana dituliskan sejarah dibunuh secara licik tepat malam ini, 28 Februari 451 tahun lalu.

Baca Juga  Hadapi Pandemik Corona, Giliran Komis II DPRD Maluku Beraksi

Pembunuhan Khairun kelak memicu kesadaran rakyat Ternate bahwa Portugis memang harus enyah dari bumi Moloku Kie Raha. Lima tahun setelah tragedi berdarah ini, Sultan Baabullah Datu Sjah – Putera tertua Khairun – berhasil mengusir Portugis selamanya dari Ternate.
Mari mengenang kebiadaban Portugis sambil membulatkan tekad bahwa warisan kebesaran Ternate harus dijaga dengan kecerdasan lokal yang tumbuh diantara adat se atorang dan kemajuan peradaban manusia kekinian.

Alfatihah untuk Yang Mulia Sultan Khairun Jamil dan Sultan Baabullah Datu Sjah. (*)