Maluku Utara Bertengger Peringkat 3 Investasi Asing Pada Triwulan I 2020

oleh -184 views
default
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Maluku Utara Bertengger Peringkat 3 Investasi Asing pada triwulan I 2020. Padahal 2017, realisasi investasi PMA (Penanaman Modal Asing) di Provinsi Maluku Utara mencapai US$0,2 miliar dan berada pada peringkat 22. Kini Indonesia Timur mulai dilirik investor asing!

Maluku Utara salah satu provinsi termuda di Indonesia yang resmi ditetapkan sebagai provinsi pada 4 Oktober 1999 melalui UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2000. Sejak awal diresmikannya sebagai provinsi, Maluku Utara mengalami satu kali pemindahan ibukota provinsi. Kota Ternate yang berlokasi di Kaki Gunung Gamalama adalah ibukota provinsi pertama bagi Maluku Utara. Setelah 11 tahun, tepatnya pada 4 Agustus 2010, Ibukota Provinsi Maluku Utara dipindahkan ke Sofifi yang berlokasi di Pulau Halmahera – pulau terbesar di Maluku Utara.

Kini provinsi Maluku Utara menempati peringkat ke-3 investasi asing dengan nilai mencapai US$ 770 juta pada periode triwulan I 2020. Sedangkan peringkat ke-4 dan ke-5 adalah Kepulauan Riau senilai US$ 400 juta dan Sulawesi Tenggara yakni US$ 380 juta. Ini artinya peningkatan realisasi investasi di luar Jawa pada periode ini banyak disumbang dari Penanaman Modal Asing (PMA) di wilayah Indonesia bagian Timur.

Kawasan Industri di Halmahera Tengah/foto: ist

Peningkatan realisasi investasi asing di Provinsi Maluku Utara cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2017, realisasi investasi PMA (Penanaman Modal Asing) di Provinsi Maluku Utara mencapai US$0,2 miliar dan berada pada peringkat 22 dibandingkan provinsi lainnya, kemudian 2018 realisasi investasinya meningkat menjadi US$0,36 miliar dan naik ke peringkat 18. Di tahun 2019 terjadi lonjakan tajam realisasi investasi di Provinsi Maluku Utara dengan nilai US$1,0 miliar yang menjadikannya berada di peringkat 8 lokasi PMA terbesar.

Link Banner

Pada periode triwulan I 2020, Provinsi Maluku Utara yang menempati peringkat ke-3 dengan nilai mencapai US$0,77 miliar. Posisi ini menarik karena nomor 1 dan 2 PMA di periode ini ditempati oleh dua provinsi besar di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta (US$0,92 miliar) dan Jawa Barat (US$0,91 miliar).

Plt. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Indriani memaparkan daerah luar Jawa yang menjadi daya tarik bagi PMA pada periode Triwulan I tahun 2020. “Data ini menunjukkan bahwa investor asing sudah mulai melirik daerah di luar Jawa, di mana banyak potensi investasi yang masih bisa dikembangkan dan tentunya didukung oleh infrastruktur yang memadai. Maluku Utara ini bisa menjadi primadona baru di wilayah Indonesia Timur,” tambah Farah.

Baca Juga  Mateos Berhitu, Dulang Prestasi Tanpa Apresiasi

Berdasarkan data dari Pusat Koordinasi dan Pengawalan Investasi (Pusat KOPI), realisasi investasi PMA di Provinsi Maluku Utara pada tahun 2019 lalu didominasi oleh sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin, dan Peralatannya (US$754,07 juta); Pertambangan (US$100,87 juta); Listrik, Gas, dan Air (US$76,62 juta); Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran (US$67,98 juta); dan Konstruksi (US$6,33 juta).

Investasi di Indonesia saat ini tidak hanya terfokus di Pulau Jawa saja, akan tetapi juga terdistribusi ke luar Jawa. Hal tersebut terlihat dari 19% kenaikan porsi realisasi investasi di luar Jawa di triwulan I 2020. Pada periode yang sama tahun 2019, realisasi investasi luar Jawa sebesar 44% dengan nilai Rp85,8 triliun dan Jawa 56% dengan nilai Rp109,3 triliun. Realisasi investasi luar Jawa meningkat porsinya menjadi 48,6% sebesar Rp102,4 trliiun dan Jawa 51,4% dengan nilai Rp108,3 triliun.

BKPM akan terus mendorong penyebaran investasi yang merata di Indonesia. “Melihat adanya peningkatan realisasi investasi di luar Jawa dari tahun ke tahun, kami optimis investasi dapat terdistribusi merata. Tidak hanya di pulau Jawa saja,” ujar Farah.

Peningkatan realisasi investasi asing di Provinsi Maluku Utara cukup signifikan dari tahun ke tahun. Ini seiiring dengan pencapaian realisasi investasi kuartal I-2020 yang masih tumbuh positif 8% year on year (yoy).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia melakukan halal bihalal daring (dalam jaringan) sekaligus konsolidasi dengan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dari 34 provinsi se-Indonesia Rabu siang (3/6). Momen ini menjadi ajang silaturahmi dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah serta diskusi perkembangan investasi di masing-masing daerah, terutama dalam masa pandemi Covid-19.

Baca Juga  Peringati Hari Pahlawan, Pangdam Hadiri Tabur Bunga Bersama Forkopimda Maluku
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia:: BKPM dan DPMPTSP Provinsi/Kabupaten/Kota berkonsolidasi mendorong realisasi investasi.

Dalam kesempatan tersebut Kepala BKPM menyampaikan terima kasih kepada DPMPTSP Provinsi atas pencapaian realisasi investasi triwulan I tahun 2020 dan tidak lupa mengingatkan persiapan realisasi investasi triwulan II tahun 2020 yang akan dilakukan bulan depan. “Mohon maaf lahir dan batin kepada Bapak dan Ibu Kepala DPMPTSP Provinsi. Saya juga ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya dalam menyukseskan realisasi investasi triwulan I 2020 lalu yang mencapai Rp210,7 triliun atau tumbuh 8% dibandingkan tahun lalu,” ucap Bahlil.

Kepala BKPM menyampaikan,  adanya pandemi Covid-19 akan berdampak sistemik. Realisasi investasi triwulan II 2020 dipastikan akan menurun. Demikian juga target realisasi investasi tahun 2020 akan disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Oleh karena itu BKPM dan DPMPTSP Provinsi serta Kabupaten/Kota harus terus berkonsolidasi untuk mendorong realisasi investasi.

“Pemerintah saat ini belum bisa menentukan kapan pandemi Covid-19 akan berlalu. Kita harus melakukan penyesuaian dengan keadaan ini. BKPM akan melakukan revisi target realisasi investasi triwulan II 2020 ini. Nanti akan kami informasikan lagi. Dengan kondisi saat ini, kita harus melakukan hal-hal di luar kelaziman. Presiden Jokowi sudah sampaikan bahwa saat ini ekonomi turun, banyak orang kehilangan pekerjaan. Solusi untuk menciptakan lapangan kerja yaitu melalui investasi,” ucap Bahlil.

Para Kepala DPMPTSP Provinsi menyambut antusias kesempatan bertatap muka secara virtual dengan Kepala BKPM di masa pandemi Covid-19. Pada sesi diskusi yang berlangsung akrab, diceritakan perkembangan investasi semasa pandemi Covid-19 dari masing-masing daerah. Kegiatan fasilitasi investor dan memproses perizinan juga tetap berjalan untuk menjaga produktifitas kerja, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan.

Sementara perekonomian Provinsi Maluku Utara pada Triwulan IV 2019 mengalami perbaikan performa yang ditandai dengan pertumbuhan PDRB sebesar 5,38% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,12% (yoy).

Dari sisi permintaan, pertumbuhan modal investasi tercatat sebesar 48,88% (yoy). Meskipun tumbuh hingga double digit, nilai tersebut menurun dibandingkan Triwulan III yang tumbuh fantastis hingga 170,67% (yoy).

Baca Juga  Penikam Polisi Saat Rusuh Judi Sabung Ayam di Nggele Taliabu Barat Ditangkap

Membaiknya kinerja ekspor-impor pada Triwulan IV juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. Sementara dari sisi penawaran, terjadi perbaikan performa pada Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan dan Pertambangan serta Konstruksi setelah pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan negatif dan perlambatan. Namun LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memiliki andil paling tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tumbuh sebesar 0,24% (yoy) melambat dibandingkan Triwulan sebelumnya yang sebesar 3,75% (yoy).

Sementara perekonomian Provinsi Maluku Utara pada Triwulan I 2020, menurut catatan Bank Indonesia terdeselerasi cukup signifikan akibat pandemi COVID-19 yang ditandai dengan melambatnya pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sebesar 3,06% (yoy) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,38% (yoy).

Dari sisi demand, terjadi kontraksi ekspor sebesar 13,17% (yoy) yang diikuti dengan melonjaknya pertumbuhan impor hingga 537,96%. Sementara dari sisi supply, sejumlah lapangan usaha (LU) utama seperti LU Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, Konstruksi, hingga Administrasi Pemerintah turut mengalami deselerasi. Dampak dari pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel mulai 1 Januari 2020 yang disertai dengan merebaknya pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) benar-benar memukul sektor ekonomi dan menekan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada Triwulan I 2020.

Perekonomian Maluku Utara pada Triwulan (TW) III 2020 diproyeksikan mengalami akselerasi. Dari sisi permintaan, akselerasi pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor Ekspor Luar Negeri seiring dengan meningkatnya produksi smelter feronikel di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur. Selain itu, Konsumsi Rumah Tangga turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara.

Tekanan inflasi Maluku Utara pada TW III 2020 diperkirakan akan mengalami kenaikan dibanding inflasi triwulan berjalan. Kenaikan inflasi di triwulan mendatang secara umum diperkirakan disebabkan adanya Hari Raya Idul Adha 2020 dan mulai masuknya tahun ajaran baru anak sekolah di TW III 2020. (red/rtm/pbc)