Masuk Zona Merah, Maluku Utara Pernah Diguncang Gempa Dahsyat dan Tsunami

Porostimur.com | Jakarta: Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, secara umum kawasan Laut Maluku tetap merupakan zona rawan gempa dan tsunami. Di lokasi tersebut tercatat pernah diguncang gempa kuat dan merusak.

“Gempa Sangir 1 April 1936 adalah catatan gempa dahsyat yang pernah terjadi di zona ini, karena guncangannya mencapai skala intensitas VIII – IX MMI yang merusak ratusan rumah,” ujar Daryono, Sabtu (16/11/2019).

Selain itu, Gempa Pulau Siau pada 27 Februari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan banyak rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah Gempa Sangihe-Talaud pada 22 Oktober 1983, dimana gempa ini merusak banyak bangunan rumah.

Indonesia Dikepung Cincin Api, Maluku Utara berada di tengah titik-Titik Rawan Gempa

“Zona sumber gempa Laut Maluku juga memiliki catatan sejarah tsunami destruktif, seperti Tsunami Banggai-Sangihe 1858 yang menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami,” ujar dia.

Selain itu, tsunami Banggai-Ternate 1859 mengakibatkan banyak rumah di pesisir disapu tsunami. Kemudian gempa Kema-Minahasa 1859 juga memicu tsunami setinggi atap rumah-rumah penduduk.

“Tsunami Gorontalo tahun 1871 juga menerjang di sepanjang pesisir Gorontalo, dan tsunami Tahuna 1889 menerjang kawasan pesisir Tahuna setinggi 1,5 meter,” ujar dia.

Hak atas fotoBMKGImage captionGempa yang tercatat dari tahun 1800 hingga 2011. Warna merah menandai gempa di wilayah laut dangkal, kuning di wilayah laut sedang, dan hijau di wilayah laut dalam.

Catatan Gempa Kuat Cukup Banyak

Selanjutnya, tsunami Kepulauan Talaud 1907 menerjang pantai setinggi 4 meter, dan tsunami Salebabu 1936 menyapu pantai setinggi 3 meter.

“Selain sejarah gempa dan tsunami masa lalu, catatan terbaru gempa kuat di Laut Maluku cukup banyak. Sebagian besar diantaranya berpotensi tsunami,” kata dia.

Seperti yang pernah terjadi pada 1979 (M=7,0), 1986 (M=7,5), 1989 (M=7,1), 2001 (M=7,0), 2007 (M=7,5), 2009 (M=7,1), 2014 (M=7,3), 2019 (M=7,0), dan 2019 (M=7,1).

“Gambaran kerangka tektonik, aktivitas kegempaan, dan sejarah tsunami di atas kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa kawasan Laut Maluku memang merupakan zona yang sangat rawan gempa dan tsunami,” terang dia.

Kondisi tektonik aktif dan kompleks ini tentu perlu mendapat perhatian khusus dan serius termasuk tantangan untuk merancang sistem mitigasi yang tepat guna mengurangi risiko bencana gempabumi dan tsunami yang berpotensi terjadi di wilayah ini. (red/rtl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: