Mata Najwa Tadi Malam Seru, Kecurangan Eks Mensos Juliari Batubara Dibongkar

oleh -34 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Warga penerima Bansos Covid-19 dari program Kementerian Sosial buka-bukaan soal beras berkutu, hitam dan tak layak dikonsumsi.

Banyak kesaksian warga di Mata Najwa menunjukkan bagaimana kecurangan bansos itu dilakukan pihak pemerintah.

Acara Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab yang tayang Rabu (11/2/2021) tadi malam, mengangkat tema “Ironi Korupsi Kala Pandemi”.

Pada edisi tersebut, Mata Najwa membahas sederet fakta-fakta kecurangan di balik penyaluran bansos Covid-19.

Ujungnya adalah kasus korupsi di lingkungan Kementerian Sosial yang menjerat eks Menteri Sosial, Juliari Batubara.

Yang menarik ketika Mata Najwa memutar kesaksian sejumlah warga penerima bansos Covid-19.

Mereka mengaku mendapat beras bantuan yang sudah berkutu, kusam, dan tak layak dikonsumsi.

Paket bansos ini diterima oleh keluarga Alexander Matius, salah satu warga di kawasan Jakarta.

“Kalau berasnya berkutu, sudah jelas. Ada yang dalam kondisi yang masih oke, ada yang rada kusam, jadi harus dipisah karena (berasnya) dalam satu kemasan,” ungkap Alexander Matius, salah satu penerima bansos Kemensos ketika tampil di acara Mata Najwa, seperti dikutip dari Twitter @MataNajwa.

Baca Juga  Lagi, Pedagang Pasar Basanohi Sanana Sumbang Satu Pasien Positif Covid-19

Alex mengaku, beras bantuan tersebut setelah dimasak jadi warna-warni, ada yang putih, ada yang sedikit gelap seperti dituang kuah.

“Baunya seperti gabah. Rasanya, karena mungkin pengaruh aroma, seperti makan tapi beraroma gabah, beda banget sama nasi pada umumnya. Agak aneh rasanya,” kata Alexander.

Tidak hanya Alex, kasus serupa juga dialami oleh penerima bansos di sejumlah daerah.

Seperti penuturan Sofyan dari Cianjur, Jawa Barat dan ibu Mimin dari Jakarta Selatan.

“Yang menerima (bansos) sebenarnya ibu saya. Bantuannya senilai Rp 200 ribu, tapi barang-barangnya ternyata tidak sampai Rp 200 ribu,” kata Muhamad Sofiyan, dikutip dari cuitan Twitter @MataNajwa, Rabu (10/2/2021).

“Saya mendapat masukan dari masyarakat, saya mewakili suara masyarakat karena masyarakat tidak ada keberanian untuk menyampaikan keluhan ini,” terang Sofiyan.

Menurut Sofiyan, dari Rp 200 ribu, yang didapat oleh warga tidak sampai Rp 200 ribu.

Baca Juga  Muhammadiyah Minta Pemerintah Terbuka Soal Vaksin Covid-19, Ada Apa?

Adapun rincian barang yang diterima, yakni beras 10 kilogram, ayam 1 kilogram, telur setengah kilogram, kacang hijau seperempat kilogram, jeruk 2 buah, dan kentang setengah kilogram.

Jika ditotal, menurut Sofiyan, tidak sampai Rp 200 ribu.

“Jika diukur dari harga (pasaran) di Cianjur, paling sekitar Rp 145.000-an lah,” katanya.

Kondisi tersebut sudah dialami selama beberapa bulan, namun masyarakat masih sabar.

Hingga akhirnya Sofiyan mengadukan masalah tersebut ke kepala desa.

“Kepala desa bilang, petugas desa hanya memonitor. Kemarin saya juga (sempat) dipanggil supplier yang mengirim barang pokoknya,” kata Sofiyan.

Cerita serupa juga diungkap Mimin, warga Jakarta Selatan di acara Mata Najwa.

Dalam sebulan, dia dua kali dapat bantuan berupa beras, minyak goreng, biskuit, mi instan.

“Hanya saja berasnya bau, hitam, berkutu, tidak enak dimakan, ikan kaleng juga tidak enak. Yang bagus susu, biskuit sama minyak,” terang Mimin.

Baca Juga  Kemenag Maluku akan Monitoring 23 Masjid di Kota Ambon yang Masih Jalankan Shalat Jumat
Menteri Sosial Juliari Batubara ditahan KPK
Menteri Sosial Juliari Batubara ditahan KPK ((ANTARA FOTO/Galih Pradipta))

Daripada tak dimakan, Mimin mengakali beras bantuan tersebut dicuci hingga berulang kali.

“Tapi tetap aja nggak enak dimakan, kadang berair,” kata Mimin.

“Ikan kalengnya nggak enak dimakan, jadi sampai sekarang masih ada. Itu (ikan kaleng) yang kayaknya nggak ada saya lihat dijual di toko-toko,” kata Mimin lagi.

Warga berharap, bansos tersebut akan lebih baik jika diberikan dalam bentuk uang.

“Kalau bisa, saldo (bansos) yang diberikan dicairkan dalam bentuk uang saja. Saya sampaikan ke Kemensos, kalau dari produknya tidak layak, mau gimana? Untuk kesehatan, kan juga terganggu,” kata Sofyan.

“Saya sudah dapat BLT Januari 2021, Rp 300 ribu. Nggak ada potongan. Utuh. Dapatnya lewat ATM Bank DKI. Sebenarnya enakan dikasih sembako kalau bisa dimakan, tapi karena begini, mendingan BLT,” kata Mimin.

(red/tribunjambi)