Matapia Bakai, Ujian Pengabdian Lelaki Sula yang Kini Dilindungi Negara

oleh -245 views

Porostimur.com, Sanana – Di bawah langit Kepulauan Sula, cinta tidak sekadar diukur dari janji manis di pelaminan. Bagi seorang pria yang ingin meminang gadis pujaannya, ada satu gerbang terjal namun penuh makna yang harus dilewati: Matapia Bakai.

Tradisi ini merupakan fase pengabdian sekaligus “ujian nyali” bagi calon suami untuk membuktikan kelayakan dan ketulusannya di hadapan keluarga besar sang wanita. Dalam budaya masyarakat Sula, proses ini menjadi salah satu tahapan paling sakral sebelum pernikahan dilangsungkan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Maluku Utara Budi Argap Situngkir, menyebut Matapia Bakai sebagai identitas budaya yang sangat otentik. Tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan masa pengabdian di mana seorang lelaki diuji kesetiaan dan ketangguhannya.

Baca Juga  Jelang Idulfitri, Pemkot Ternate Gelar Pasar Murah di Benteng Oranje

“Matapia Bakai juga dikenal sebagai masa pengabdian bagi calon suami kepada keluarga calon istri,” ujar Argap saat dihubungi, Sabtu (14/2/2026).

Ujian Kesetiaan dan Ketulusan Calon Suami

Dalam praktiknya, seorang lelaki harus mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membantu serta melayani keluarga calon istrinya. Pada fase inilah, masyarakat menilai apakah calon menantu memiliki ketulusan hati dan kesiapan menjadi kepala keluarga.

Argap menegaskan bahwa proses ini merupakan metode penilaian tradisional yang sarat makna sosial dan spiritual.

No More Posts Available.

No more pages to load.