Mega-Sejarah

oleh -63 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Peter Turchin adalah seorang ahli ekologi yang meneliti tentang serangga. Kumbang (beetle) tepatnya. Dia mengajar di Universitas Connecticut, di pantai timur Amerika Serikat.

Dia adalah termasuk generasi pertama yang menggunakan model matematika dalam menganalisis perubahan ekologis. Seperti juga dalam ilmu sosial, penggunaan matematika banyak ditolak. Orang lebih suka menafsir data tanpa justifikasi dari angka.

Saya mengenal namanya dari sebuah artikel di majalah The Atlantic (https://bit.ly/3kVnp2U). Di satu masa, tiba-tiba dia bosan dengan ekologi dan penelitiannya tentang serangga. Dia tertarik kepada sejarah. Untuknya, ini adalah semacam mid-life crisis.

“Kalau orang lain mengalami mid-life crisis, solusinya adalah bercerai dengan istrinya dan kawin lagi dengan mahasiswi pasca-sarjana,” katanya. Dia mengambil langkah lain. Dia bercerai dengan ilmu yang digelutinya dan mengawini ilmu sejarah.

Namun dia bukan tipe sejarahwan penulis biografi heroik seorang tokoh yang patut jadi model dan inspirasi. Itu adalah tipe sejarahwan motivator.

Baca Juga  Tim Supervisi Polri Akan Tinjau Empat Daerah Penyelenggara Pilkada di Maluku

Turchin adalah sejarahwan yang menulis dalam metode megahistories. Dia mungkin bisa digolongkan setipe Jared Diamond yang bukunya “Guns, Germs and Steel” dan “Collapse,” yang saya sukai. Sekalipun mendapat tuduhan rasis, saya tetap menyukainya.

Seperti Turchin, Diamond juga melakukan peralihan dari ilmu awalnya. Dia sebenarnya adalah seorang ahli geografi. Namun dia juga ahli burung (ornithologist) dan banyak melakukan penelitian di Papua New Guinea.

Dia juga bisa disamakan dengan Yuval Noah Harari, seorang mega-historicist lain, yang bukunya tidak ada yang saya baca. Entah kenapa saya tidak berminat dengan Harari. Dia seorang sejarahwan dan filsuf.

Saya pernah membaca beberapa halaman pertama dan bosan. Jadi maafkan saya nggak punya pandangan apapun terhadap Harari. Kecuali bahwa saya lihat buku terjemahannya laris manis di negeri tercinta ini.

Terus terang, membaca buku Turchin “War and Peace and War” membuat saya bingung. Untuk standar ilmu-ilmu sosial dia melompat-lompat. Ternyata buku ini adalah bagian bercerita dari bukunya yang lain “Historical Dynamics” yang penuh berisikan model matematis yang dirangkai dari sejarah.

Baca Juga  Tingkatkan Mutu, Teluk Ambon Gelar Lomba Banding Nyanyi Pesparawi

Turchin memberikan penjelasan tentang jatuh bangunnya sebuah imperium. Yang paling menarik perhatian saya, dan juga mungkin media-media Barat di jaman Trump ini, adalah bagaimana imperium dan masyarakatnya runtuh.

Dia mengutip teori Ibnu Khaldun tentang ‘asabiya’ atau perasaan individu dalam kelompok (kawan yang mengerti konsepnya dalam bahasa Arab tentu lebih tahu).

Asabiya menurut Turchin mirip dengan ‘social capital’ atau modal sosial seperti yang diteorikan oleh Bob Putnam. Teori modal sosial adalah teori yang menjelaskan bagaimana orang mengatasi masalah bersama (collective action problems) dan kemudian bertindak bersama.

Seperti kita ketahui, individu2 dalam masyarakat selalu punya masalah yang menghalangi mereka bertindak bersama. “Civicness” adalah modal sosial utama yang mampu mengatasi masalah-masalah bertindak bersama.

Ketika asabiya terbangun dan menjadi kokoh, kemakmuran membesar, kebutuhan membesar, dan jumlah elit juga bertambah besar. Ini akan menimbulkan persaingan antar-elit.

Dan persaingan ini akan mengakibatkan kelangkaan. Akibat kelangkaan akan muncul keresahan di kalangan bawah dan direspon oleh elit dengan semakin menguatkan tekanan kepada kalangan bawah.

Baca Juga  Kemenag Malut Targetkan Tahun 2021 UNBK MA di Malut di Atas 60 Persen

Dari situlah asabiya akan mulai melemah, dan secara perlahan membusukkan masyarakat. Disitulah awal dari keruntuhan sebuah imperium.

Karya Turchin ini menjadi sebuah prognosis. Khususnya bagi mereka di peradaban Barat. Inikah saat runtuhnya kekuasaan Barat, di saat banyaknya orang-orang pintar?

Di media, poin inilah yang paling banyak dikutip. Akankah terlalu banyak PhD berbahaya untuk masyarakat? Akankah terlalu banyak lulusan Ivy League dan universitas-universitas elit membuat tidak adanya pekerjaan untuk mereka?

Saya tidak tahu apakah Indonesia masuk ke dalam pertimbangan Turchin atau tidak. Yang jelas, Majapahit tidak masuk dalam golongan imperium dalam model matematika, meski Laos dan Khmer masuk didalamnya.

Juga, apakah kita kebanyakan orang pintar? Itu pertanyaan yang perlu kita jawab. Karena toh kita punya banyak PhD dan ternyata kita juga punya banyak sekali jendral. Namun kemakmuran yang kita impi-impikan susah tumbuh di negeri tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini. (*)