Membaca Candide di Garasi

oleh -237 views
Link Banner

Oleh: Rajuan Jumat, Anggota Forum Studi Independensia & Mahasiswa Antropologi Unkhair

Sudah lazim bila datang ke rumah Garasi, sebutan akrab kediaman Sofyan Daud, pendiri sekaligus pembina Lembaga Independensia, dengan modal sabar. Tidak bisa datang langsung pengen cepat-cepat pulang. Bila ada perlu dengan Abang (begitu kami menyapanya), apa pun yang terjadi kita harus tahan pulang. Ini sudah dilalui oleh sekian senior Independensia sebelumnya. Mengeluh kantuk, sudah pasti.

Malas dan lama apalagi. Tidak sedikit para senior yang menggungkapkan itu. Saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu, saya baru bergabung lalu diajak ke rumah Abang. Karena baru, jadi saya ikut dan nurut saja.

Saya perlahan paham setelah sekian kali datang ke rumah berceritera terkait agenda Forum Studi Independensia, tidak langsung datang lalu menyampaikan tujuan dengan mujur. Kita harus tunggu, berjam-jam, bahkan bisa sampai pagi.

Jadi, sebelum ke rumah Abang, alangkah baiknya jika kita tampung sabar sebanyak mungkin dari rumah. Bila perlu, siapkan cara yang entah bagaimana supaya melawan rasa ingin pulang sebab untuk bercerita secara fase to fase tidak seperti istilah “minta api” yang datang menyampaikan tujuan lalu pergi. Tidak. Apalagi kalau Abang tengah nikmati musik di kamar atau sedang melayani tamu.

Setelah lama bergabung dan menganggap diri mampu, saya coba kembali ikut dalam sebuah utusan beberapa orang senior dalam rangka mendiskusikan perihal milad forum studi dan agenda literasi. Bahkan, pernah saya diutus lansung ke rumah meminta uang untuk bayar listrik dan air perpustakaan.

Waktu itu saya dengan Julham Chairudin yang juga anggota forum studi. Begitu sampai di halaman rumah, kami dapati orang memadati ruangan tamu. Tanpa pikir panjang, kami pun memutuskan putar haluan kembali ke perpus. Karena berpikir; ini konyol. Tamu sebanyak ini lalu kita tunggu sampai semua habiskan bahaya. Lebih baik kita pulang saja.

Baca Juga  Polda Malut Bakal Gelar Perkara Kasus Kekerasan Seksual oknum Polisi

Beberapa hari kemudian, peristiwa ini saya ceritakan pada Kak Ongk, panggilan kami untuk Mansyur Djamal (ketua Lembaga Independensia), karena perintah. Begitu cerita sampai ke telinga, kami malah diomelin: “ce ngoni dua ini, perlu deng orang kong tara sabar tu …” Dari peristiwa ini saya mulai membelot sampai-sampai para senior yang sudah berpengalaman tahan pulang langsung turung tangan. Seperti Ka Andi dan Ka Cido.

Begitu kedua orang ini tidak ada –yang satu sibuk jadi wartawan dan satu pulang kampung, akhirnya saya kembali diperintah mendatangi Abang menyampaikan kesediaan waktunya untuk–simulasi Workshop Fotografi dan Videografi yang kami buat pada Rabu, 26 Mei kemarin.

Kali ini saya datang sendiri. Pukul 18.20 WIT sudah tiba di rumah dan oleh Bunda, istri Abang, diberitahu kalau Abang sedang istirahat. Tak lama, ada panggilan masuk dari kakak yang menyuruh diantar ke pelabuhan karena hendak pulang ke Bacan. Setelah mengantar kakak, saya kembali lagi ke rumah abang. Tapi saya diberitahu lagi kalau Abang sedang ke lokasi Reses di Jambula, Kecamatan Pulau Ternate.
Menurut perkiraan Bunda, Abang akan pulang sekitar pukul tiga pagi. Saya pun menunggu.

Tak lupa siapkan kopi, dan duduk di sebuah dipan dekat bunga lalu membaca buku Candide, buah tangan filsuf sekaligus pengarang Prancis abad ke-18–Francois Marie Arouet yang akrab dikenal dunia dengan nama Voltaire. Candide diterjemahkan oleh Ida Sundari Husen dan diterbitkan KPG, November 2016 setebal 154 halaman. Sedikit saya bercerita terkait Candide.

Candide adalah nama tokoh yang ekuivalen dari naif, lugu, sederhana, dan murni yang dibuat Voltaire untuk mengolok-olok dan menyindir orang-orang Jerman yang memiliki sifat demikian. Bukan saja itu. Sisi lain Candide juga memperlihatkan betapa Voltaire dengan pikirannya yang tajam, menantang orang yang gila kehormatan dan pengagunggan keturunan berdarah biru. Tak puas dengan itu, Voltaire lalu menyerang filsafat optimisnya Leibniz dan pengikutnya, Christian Wolf, yang disebut Monade (Harun Hadiwijono: 1980).

Baca Juga  Kota Ambon & Malteng Wakili Maluku ke Pemilihan Putri Cilik Dan Putri Remaja Indonesia Tingkat Nasional

Voltaire sungguh tidak terima anggapan dari kedua tokoh ini yang mengatakan “dunia ini adalah yang sebaik-baiknya di antara yang mungkin diciptakan Tuhan/untuk semua akibat, pasti ada sebabnya, karena segalanya telah diatur dalam suatu keselarasan yang telah ditetapkan sebelumnya”.

Ketidaksetujuan ini diperlihatkan Voltaire dengan menonjolkan filsafat hidupnya sendiri dengan menyebut –action (perbuatan). Mengingat bahwa hakikat manusia itu berada di luar jangkauan manusia, maka manusia perlu action. Karena dengan begitu tanpa banyak berfilsafat, manusia akan melupakan beban yang dipikulnya (xii-xiii).

Candide penuh roman, dramatis, bengis, dan menyentil sekian kekurangajaran orang Eropa.

Mulanya, Candide tinggal di Provinsi Westphalen, Jerman, dalam rumah Baron Thunder-ten-tronckh bersama istri, anak, dan beberapa pelayanan.Termasuk salah satu di antara itu ialah Pangloss, seorang filsuf tukang omong sebagai sumber pengetahuan istana.

Sang filsuf mengajarkan Metafisika, Teologi, Kosmologi, dan Konyologi. Yang terakhir adalah kelanjutan dari sindiran Voltaire terhadap filsafat Leibniz dan pengikutnya, Wolf.

Seiring berjalan waktu, Candide jatuh cinta dengan anak baron, Nona Cunegonde. Cunegonde cantik itu pun merasakan hal demikian. Hingga pada suatu jamuan makan malam, pada kesempatan yang cukup terbatas, mereka curi waktu saling bertatap-tatapan dan tanpa disadari, bibir mereka sudah bertemu. Fatal. Adegan itu diketahui oleh Tuan Baron, akhirnya Candide diusir dari istana.

Di luar istana, Condide diajak bergabung dengan resimen Bulgaria. Tapi tak lama dia ditangkap karena dianggap melanggar prinsip orang-orang Bulgaria. Candide diberikan pilihan: dipukul oleh semua resimen, atau dua belas peluru membongkar kepalanya. Tak ada pilihan lain, dia memilih dipukul oleh resimen. Itu berarti, dia akan menerima pukulan sebanyak empat ribu kali sesuai jumlah resimen.

Baca Juga  Taklimat Akhir Wasrik Rutin Itwasum Polri Tahap II Tahun 2020 di Polda Maluku

Beruntung, Candide diselamatkan oleh Raja Bulgaria. Meski begitu, sekujur tubuh dari tengkuk sampai pantat, telah dipenuhi luka-luka yang menyeruak. Luk-luka itu lalu diobati oleh seorang ahli bedah yang hanya butuh waktu tiga minggu langsung Candide pulih seperti biasa.

Kepulihan itu dimanfaatkan Candide untuk kabur dari lingkaran orang-orang Bulgaria lalu bertemu dengan seorang pedagang Kristen yang tidak dibaptis–Jacque namanya. Lewat Jacque, Candide bertemu dengan Pangloss, gurunya semasa di istana baron.

Keadaan Pangloss cukup memprihatinkan. Seorang filsuf yang termasyhur itu sudah menjadi pengemis yang amat menyedihkan.

Candide dirundung oleh rasa penasaran dan bingung. Ia pun bertanya pada sang filsuf: apa yang terjadi, kenapa anda tidak di istana itu lagi? Dan bagaimana kabar Nona Cunegonde yang maha cantik itu?

“Dia sudah mati. Dibunuh setelah puas diperkosa. Sodaranya yang lelaki juga dibunuh. Ayah dan ibu Cunegonda dicincang oleh pasukan Bulgaria. Tidak ada lagi istana. Semuanya hancur berserakan” jawab Pangloss.

Candide belum selesai dibaca, tiba-tiba terdengar salam “Assalamualaikum”. Saya pun menoleh, ternyata Abang. Meski Abang sudah di depan mata, tidak serta-merta langsung menodongkan maksud saya. Akhirnya, saya pura-pura menoleh handphone, mengangkat wajah, menoleh sana-sini dan pada akhirnya Abang beri tanggapan: “Bagaimana, Ambo?”

Mendengar pertanyaan Abang, saya langsung sambut: “Ini Abang, mau minta Abang pe waktu untuk kelanjutan simulasi “Workshop Fotografi dan Videografi”. Abang langsung balas, “Ce, orang ada Reses deng apa ni kong!” Saya tak lagi tanya, sebab sudah paham berita singkat itu. Lalu, saya ke dapur mencuci gelas, kemudian siapkan tas, dan permisi pulang. (*)