Oleh: Dino Umahuk, Penulis, jurnalis senior dan sastrawan nasional
Pernyataan Hotman Paris Hutapea yang menyebut wartawan “tidak punya otak” memang menyakitkan. Kalimat itu terasa kasar, merendahkan, dan menyapu rata sebuah profesi yang sejak lama menjadi salah satu penyangga demokrasi. Reaksi marah pun bermunculan. Organisasi pers mengecam. Wartawan tersinggung. Publik terbelah antara yang membela dan yang menganggap ucapan itu sekadar ledakan emosi.
Tetapi, setelah amarah mereda, barangkali ada satu hal yang lebih penting daripada sekadar membalas: berkaca.
Sebab kritik, seburuk apa pun cara penyampaiannya, kadang menemukan ruang hidup ketika kenyataan ikut menyediakannya.
Hari ini, dunia pers Indonesia sedang menghadapi ironi yang tidak kecil. Ribuan media daring tumbuh bak jamur di musim hujan. Kemajuan teknologi memang telah mendemokratisasi penerbitan media. Siapa pun kini bisa membuat portal berita hanya dengan modal domain, hosting, dan sedikit kemampuan mengelola laman web. Namun demokratisasi media tidak selalu diikuti dengan demokratisasi kualitas.
Di banyak tempat, kita menyaksikan fenomena yang sebelumnya sulit dibayangkan. Kemarin sore seseorang masih mengojek, pagi ini sudah menyandang kartu pers. Tadi malam masih melayani pelanggan di sebuah kafe, siang harinya telah diperkenalkan sebagai redaktur pelaksana. Ada yang belum pernah membaca satu buku jurnalistik secara utuh, tetapi telah menyandang status sebagai pemimpin redaksi.








