Memintamu Dalam Doa

oleh -34 views
Link Banner

Cerpen Karya: Wahyu Nurul Ramadhani

Sekali lagi, aku ingin seperti Fatimah Az-zahra yang mencintai Ali bin Abi Thalib dalam diam, yang pandai menyembunyikan sejuta rasa dalam hatinya, yang kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata. dan tahun ini, tahun ketigaku mencintaimu dalam diam, menjagamu dalam doa, mengukir namamu di sujud terakhir menjadi kesenanganku saat ini.

Semua berawal dari ketidaksengajaan saat itu, yang tanpa sengaja aku menjatuhkan hati pada seseorang yang baru kukenal. tak pernah terpikir untuk mempunyai rasa kepadanya namun Allah berkehendak lain.

“Fakhri” lelaki yang tanpa sadar merubah hidupku yang sempat kelam dan penuh dengan kesedihan. membuatku tersadar buruknya berpacaran dan aku pun mengakhiri hubungan haram itu. memutuskan untuk sendiri dalam ketaatan.
Ia tokoh utama dalam perubahan diriku. Aku mulai menata hidupku, memantapkan hatiku dan aku berhijrah karena Allah Subhanahu wata’ala. aku mulai menjaga auratku dan menjaga batasan dengan lawan jenis yang bukan mahramku. yang semula pakaianku terbuka dengan kekurangan bahan menjadi tertutup, yang semula mini menjadi longgar.

Link Banner

Perjalanan hijrahku membuatku semakin mencintainya. akhlaknya yang baik, tutur katanya yang lembut membuatku semakin mengaguminya, tetapi aku begitu malu dengan perasaanku. Aku sadar diri aku merasa tak pantas bersanding dengannya. aku hanya perempuan biasa dengan masa lalu yang kelam, sedangkan dirinya lelaki sholeh dengan segudang ilmu agama. aku hanya mampu mengaguminya dalam diam serta menjaganya dalam doa.

Mencintainya dalam diam tak selamanya mudah. apapun yang aku rasakan hanya bisa aku simpan sendirian. Sedihnya, sakitnya, bahagianya, tak bisa aku tunjukkan. Katakanlah, aku ini gadis naif, yang cuma berani memendam perasaan cinta sendirian. Mencintai sendiri dan akhirnya merasakan sakit sendiri.

Dadaku terasa sesak dan sakit kala Allah mengabulkan doaku untuk membuka tabir yang menutupi dirinya. agar aku tau yang sesungguhnya dan apakah aku mampu bersabar setelahnya.
Aku menangis meringkuk di sudut kamar. dadaku terasa sesak, kata pun tak mampu aku ucap. Postingan itu membuatku mematung dan berderai air mata. Tulisan manis ia tulis untuk perempuan yang entah ada hubungan apa dengannya. suara langkah kaki terdengar dari kejauhan yang perlahan semakin mendekat ke arahku, aku masih bergeming dari posisiku.

“Sha, kamu kenapa?” suaranya meninggi lantas memelukku.
Ia adalah Farah sahabat karibku selama kuliah 2 tahun ini, sesekali menjadi tempatku berbagi keluh kesahku, karena sesungguhnya tempat terbaik mencurahkan keluh kesah hanyalah kepada Allah semata.
“Kamu nangis kenapa?” tanyanya lagi dengan meregangkan pelukannya seraya menatapku sayu.
“Apa sesakit ini mencintai dia dalam diam?” ucapku dengan terisak.
Aku arahkan ponsel yang sedari tadi kugenggam pada Farah. Dia kembali memelukku, seakan ia paham apa yang aku rasakan sekarang. terlihat pada sudut matanya yang basah dan menatapku lekat.
“sampai kapan kamu kaya gini terus sha?”
“Sudah berkali-kali kamu nangis sendiri, ngerasain sakit sendiri. masih banyak lelaki lain sha.” ucapnya dengan penuh penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya yang membuatku hanya menunduk diam.
“Aku gapapa Farah.” ucapku untuk menyakinkan Farah bahwa diriku baik-baik saja.
“Bahkan dia ga tau perasaanmu sha, dia seenaknya nyakitin ka…” Farah tidak melanjutkan kalimatnya setelah ku menatapnya dingin.

Baca Juga  Adama Traore, Ansu Fati dan Duo Man City Dipanggil Perkuat Timnas Spanyol

Benar kata Farah, ia tak pernah tau bagaimana perasaanku. Bagaimana aku mencintainya dalam diam. Bagaimana aku selalu menjaganya dalam doa. Bahkan, Seringkali ia juga membuatku patah hati tanpa ia sadari. Di sisinya, aku melihat orang silih berganti. Ia tak pernah tau, disini aku menahan cemburu setengah mati. tetapi yang bisa aku lakukan hanyalah diam.
“Semoga diamku berakhir manis.” seuntai kalimat pengharapanku.

Kudapati handphoneku yang menyala di atas tempat tidur. rupanya Farah mengirimku pesan di whatsapp. Dia bahkan mengulang pesan yang sama karena aku tidak kunjung membalasnya. mungkin ia khawatir dengan keadaanku yang akhir-akhir ini suka menyendiri dan menangis.

Tatapanku masih tertuju pada story Whatsapp teman-temanku, namun teralihkan pada story whatsapp seseorang yang akhir-akhir ini membuatku panas dingin. Masih berusaha menetralkan degupan jantungku. Aku memilih menekan ikon lingkaran whatsapp stories miliknya.

Seakan pasokan oksigen di tubuhku habis. Sesak yang kurasa setelah melihat story whatsappnya. ia kembali bersama seorang perempuan. Aku tak habis pikir sampai kapan aku akan seperti ini, merasakan sakit sendirian. Aku memang mampu memendam cintaku kepada Fakhri tapi untuk perihal cemburu, aku tak sanggup.

Baca Juga  Jawaban Polisi Soal Lubang Peluru di Dada 6 Laskar Khusus FPI, Pengakuan Habib Rizieq di Malam Naas

Berharap dengan menusia memang mengecewakan. tapi, berharap hanya kepada Allah subhanahu wata’ala pasti tidak akan mengecewakan. contohnya sekarang aku berharap engkau menjadi pasangan halalku. Aku begitu malu menyapamu, karena tak ada sapaan yang lebih romantis daripada doa. di hadapan Sang illaihi aku dengan terang terangan memintamu agar aku menjadi pelengkap imanmu. Dimana ketika aku bersamamu Allah dan surga-Nya terasa dekat.

Ini adalah tahun kedua setelah kelulusanku dan tahun ketujuh aku mencintanyai dalam doa. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku masih istiqomah dalam hijrahku dan memintanya dalam doa. tapi bagaimanapun, aku akan tetap mencintai Allah sebelum mencintai ciptaan-Nya.

Layaknya Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya. Ketika Zulaikha mengejar Cinta Allah, Allah subhanahu wata’ala datangkan Yusuf untuknya. Semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Berserah diri dan berharap penuh pada-Nya. Perempuan hakikatnya adalah menunggu, menunggu seraya memantaskan diri. Bukankah jodoh adalah cerminan diri?

“Kenapa mendadak banget yah?”
Aku tidak salah denger kan? Kenapa ini mendadak sekali dan lagi-lagi membuatku terkejut bukan main. Tadinya, aku sudah melupakan masalah itu. Masalah seseorang yang ingin menta’arufku. bagaimana bisa aku menerima ta’aruf dari orang lain, sedangkan hatiku masih berlabuh pada seseorang di seberang sana. dan sekarang permintaan Ayah agar aku menikah segera dengan seseorang yang tidak aku kenal.

Ucapan sah terdengar sampai ke telingaku yang membuatku tersadar dari lamunan beberapa hari silam. Pernikahan ini memang sedikit mendadak. bayangkan saja seminggu setelah sang Ayah memintaku untuk menikah dan aku kembali dibuat terkejut dengan segala persiapan pernikahan yang sudah dipersiapkan oleh pihak lelaki.
“Mengapa harus aku yang mengalami seperti ini ya Allah. Aku mencintai Fakhri.”
Aku kembali menangis, segelintir sesak di dada mengingat segala cobaan yang terjadi padaku.

“Sha, ayo keluar.” ajak Bunda diambang pintu.
“Kemana bun?” aku sedikit menunduk untuk menutupi pipiku yang basah.
“Ketemu sama sang suami lah!” jawab bunda dengan tidak sabaran.
Pikiran negatif bertebaran memenuhi kepalaku. bagaimana jika lelaki yang menikahiku tidak sesuai dengan yang aku harapkan?

Baca Juga  23 Tahun PRD. "Stigma Neo-PKI yang Tak Kunjung Henti"

“Nah, itu suami kamu nduk.”
Aku mengikuti arah telunjuk Bunda yang mengarah pada seorang pria yang tengah mengobrol dengan keluargaku.
“Bun, yang itu?” aku kembali menunjuk seseorang yang sedikit tua yang berada di antara keluargaku.
“Bukan nduk, itu loh yang ngehadap sana. yang menunduk itu.”
Bunda menarik tanganku paksa, saat aku hendak berontak ternyata aku sudah berada di depan suamiku dan seorang pria tua yang aku tunjuk tadi.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah.” batinku histeris.

“Assalamualaikum mas.” ucapku spontan dan ku ulurkan tanganku dan seseorang yang aku anggap suamiku menerima uluran tanganku seraya menjawab salamku dan mengangkat wajahnya menatapku.
Tolong bilang padaku kalo ini bukan mimpi atau hasil halusinasiku saja. Aku mengerjapkan mata sebanyak mungkin. berharap apa yang aku lihat memanglah nyata. sebanyak apapun aku berkedip. apa yang terlihat dimataku tetap sama, tidak berubah.
Benar, seseorang itu sama tidak berubah. seseorang yang masih menggenggam tanganku, ia adalah seseorang yang aku cintai selama tujuh tahun ini.

Pertemuan pertama aku dibuat kagum olehnya dan sekarang pertemuan ketujuh aku sudah menjadi pelengkap imannya. Syukur alhamdulillah selalu aku agungkan kepada Sang Pemilik Hati yang telah menjaganya untukku. dan mempertemukan kami dalam ikatan yang halal.

Aku hapus air mataku sekali lagi. selama tujuh tahun aku menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaanku karena sebuah ketakutan terbesarku. kini, dengan perasaan yang tulus, aku sudah tidak bisa membendung lagi rasa haru dan rinduku bersama Fakhri hingga akhirnya, pertama kalinya dalam hidupku. aku berucap sesuatu yang membuat jantungku dan Fakhri berdebar.

“Ana …” aku tersenyum disela-sela air mata bahagiaku.
“Ana Uhibbuka Fillah ya Zauji ….”
“Ana Uhibbuki fillah ya Zaujati.”

Selesai

======