Memulangkan “Ruh” ke Tubuh Hijau-Hitam: Renungan 79 Tahun HMI

oleh -6 Dilihat

Oleh: Teuku Muhammad Jamil, Alumnus/Kader HMI, Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

Lima Februari bukan sekadar artefak sejarah yang diperingati dengan seremoni hampa. Ia adalah sebuah Episteme Perlawanan. Ketika Lafran Pane memahat fondasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta 5 Pebruari 1947, ia tidak sedang mendirikan sebuah organisasi pencari kerja, melainkan sebuah “Laboratorium Insan Cita”. Sebuah kawah candradimuka di mana keIslaman dan keIndonesiaan melebur dalam satu tarikan nafas perjuangan.

Intelektualitas: Jihad Literasi di Rimba Disrupsi

Kader HMI yang “berkadar hebat” adalah mereka yang menjadikan buku sebagai khitah dan dialektika sebagai sajadah. Di era disrupsi ini, tantangan kita bukan lagi angkat senjata, melainkan angkat nalar. Intelektualitas kader jangan sampai tereduksi menjadi sekadar retorika di media sosial atau penguasaan panggung-panggung digital yang narsistik.

Intelektualitas sejati adalah ketajaman nalar dalam membedah struktur ketidakadilan. Tanpa kedalaman akademis, kader hanya akan menjadi “peneriak” tanpa isi, atau lebih buruk lagi, menjadi “pemuja” narasi penguasa yang menyesatkan.

Baca Juga  Dukcapil Pulau Taliabu Jemput Bola, Perekaman KTP-el Menyasar Desa hingga Wilayah Selatan

Politik: Sajadah Panjang atau Panggung Penjarah?

Politik bagi HMI adalah High Politics—politik nilai yang berbasis pada etika profetik. Kita memandang politik sebagai jalur pengabdian yang luhur. Namun, sejarah hari ini mencatat sebuah ironi yang getir: jebakan oportunisme.

No More Posts Available.

No more pages to load.